
Tren untuk memulai hobi-hobi baru kembali muncul di media sosial. Berbagai kegiatan dipromosikan sebagai sebuah sarana untuk terkoneksi kembali dengan karakter manusia yang ekspresif. Namun, tatanan dunia yang telah terkapitalisasi memicu komodifikasi hobi. Hal ini berimplikasi pada pola konsumsi yang berlebihan dan eksklusivitas dalam kegiatan rekreasi.
Retorika.id - “Come and join, junk journaling session! Only 200k!!”
“Do you need a bookworm circle? Join a silent reading session (HTM 150k)”
Pernah mendengar ucapan-ucapan di atas? Mungkin terdengar familiar. Mungkin juga tidak. Yang pasti, di tengah dunia yang semakin lekat dengan layar gawai, tren untuk menemukan “real’' hobi yang bisa berperan untuk mengurangi screentime semakin tinggi. Di samping itu, tren untuk menjadi lebih grounded, terkoneksi, dan berkomunitas juga muncul kembali, terutama ketika banyak manusia yang lebih memilih untuk menjalin koneksi dan komunikasi intens dengan mesin pemikir AI.
Tren-tren yang mempromosikan manusia agar kembali ke karakter alamiahnya yang pemikir, berkomunitas dan penuh dengan ide-ide sesungguhnya membawa pengaruh yang positif. Aktivitas membaca buku, mendengarkan musik dengan media fisik, geeking over films, atau menulis jurnal mulai digemari kembali. Orang berbondong-bondong mencari hobi, identitas, aktivitas apa pun yang bisa membuat mereka merasa menjadi lebih manusia. Jauh dari riuh rendah gawai, mini-trend yang cepat berganti, dan
pemengaruh hyper-consumerism yang terus berlalu-lalang di media sosial. Namun, di saat seperti inilah karakter late stage capitalism melekat.
Istilah late stage capitalism atau late capitalism dicetuskan oleh Ernest Mandel, mengimplikasikan pada ekspansi kapital ke pasar global yang didorong oleh globalisasi. Frederic Jameson kemudian mencetuskan implikasi kultural dari late capitalism. Dalam tatanan dunia yang tertanam oleh karakter late capitalism, masyarakat dipaksa untuk mengalami komodifikasi di segala sektor, mulai dari sektor material hingga nonmaterial seperti seni dan gaya hidup.
Budaya, seni, dan gaya hidup tidak lagi dilakukan secara alami sebagai karakter manusia, melainkan telah terkomodifikasi dan menjadi sebuah produk yang menuntut konsumsi. Hal ini tercermin dari berbagai aktivitas dan hobi yang tidak lagi bisa “sekadar’’ dilakukan, melainkan menuntut konsumsi yang berlebihan. Misalnya, kegiatan junkjournal. Secara esensial, junkjournal merupakan buku yang berisikan kertas atau material yang tidak lagi digunakan, atau yang hampir berakhir di tempat sampah. Sederhananya, junkjournal menggunakan bahan-bahan yang tidak lagi terpakai, atau secara literal, sampah. Namun, estetifikasi dan komodifikasi kegiatan journaling menuntut masyarakat untuk melakukan konsumsi, misalnya melalui alat tulis yang mahal, sampul jurnal yang mewah, dan perkumpulan journaling dengan harga tiket masuk senilai sepersepuluh UMR Yogyakarta.
Pengaruh media sosial juga turut andil dalam fenomena ini. Karakter sosial media yang menuntut estetika menjadikan aktivitas sederhana menjadi suatu kemewahan. Rata-rata pemengaruh journaling di berbagai platform media sosial seperti Pinterest, TikTok, dan Instagram menunjukkan keindahan dan kesempurnaan yang tidak hanya menuntut keterampilan, melainkan juga konsumsi yang berlebihan. Hal ini kemudian berimplikasi pada eksklusivitas hobi dan kegiatan, menjadikannya sebagai sesuatu yang mahal, alih-alih kegiatan sederhana yang dilakukan oleh manusia sebagai bentuk performansi seni yang terjangkau.
Akses terhadap hobi tidak lagi milik semua orang, melainkan kepunyaan segelintir orang yang memiliki kemampuan ekonomi lebih. Selain itu, tekanan untuk menampilkan performansi hobi yang sempurna juga menjadi efek samping adanya fenomena ini. Alih-alih menyalurkan minat dan mengurangi stres, hobi justru menjadi sumber tekanan baru, melalui tuntutan untuk menampilkan kesempurnaan, baik melalui peralatan yang lengkap dan mahal ataupun hasil yang “pantas’’ untuk diunggah ke media sosial. Fenomena ini terjadi di berbagai hobi lainnya, seperti olahraga padel dan aktivitas literasi.
Pada akhirnya, dengan karakter kapitalisme dan konsumerisme yang melekat di berbagai sektor gaya hidup, perlu adanya pola konsumsi berkesadaran (mindful consumption) untuk terhindar dari konsumsi yang berlebihan. Penggunaan media sosial dibatasi sebagai inspirasi, alih-alih sebagai standar yang wajib dipenuhi. Terlebih, ketika mencoba hobi atau aktivitas baru, gunakan peralatan yang minimal dan terjangkau. Dengan demikian, pola konsumsi yang berlebihan dan komodifikasi terhadap hobi bisa dihindari. Sebab pada akhirnya, hobi dan aktivitas hiburan semestinya menjadi ruang penyaluran karakter manusia untuk berkembang, berkreasi dan berekspresi, alih-alih sebuah komoditas yang eksklusif dan kapitalis.
Penulis: Nailah R. Tsabita
Editor: Febriana Rahma
Referensi
Unpacking late capitalism. (2022, December 20). The University of Sydney. Retrieved July 30, 2026, from https://www.sydney.edu.au/news-opinion/news/2022/12/20/unpacking-late-capitalism.html
What's the Point of a Junk Journal? (n.d.). Journal With Purpose. Retrieved July 30, 2026, from https://www.journalwithpurpose.co.uk/post/what-s-the-point-of-a-junk-journal
TAG: #gagasan #humaniora #politik #seni
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua