
Curhatan salah satu pasien BPJS di aplikasi Threads sempat menggemparkan dunia maya Indonesia. Ketika berkeluh kesah terkait lambatnya pelayanan BPJS, ia malah mendapatkan hujatan, tidak hanya dari warga internet biasa tetapi juga dari mereka yang diharapkan bisa menyembuhkan.
Retorika.id - Sebelum tulisan ini melangkah lebih jauh, izinkan saya selaku penulis untuk menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya Yurizal Tri Chaerawan. Kiranya keheningan di seberang sana memberikan kedamaian yang sempat dirampas oleh dunia yang terlalu bising.
Latar Belakang dan Kronologi Kasus
Kasus bermula ketika salah satu peserta BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) mengeluhkan adanya waktu tunggu yang lama hanya untuk mendapatkan penanganan. Alm. Yurizal Tri Chaerawan, pria berusia 29 tahun dari Kecamatan Ciomas, menjadi perhatian publik setelah menyebutkan bahwa ia harus menunggu selama 8 jam hanya untuk mendapatkan ruangan rawat inap pada 22 Juli 2026 kemarin.
“8 jam blm dpt ruangan????Gamau spill RS nya, soalnya gue pake bpjs????,” ketiknya (22/7).
Yurizal mendapat banyak respons negatif dari pengguna Threads lainnya. Tak disangka, hal itu juga datang dari “oknum” tenaga medis. Misalnya dari mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).
“PP nya kayak orang Have tapi aslinya. Haven't kah? haven't some brain cells,” balasan Elda Putri Rahardini pada Sabtu (7/25).
Komentar lainnya juga datang dari Norma Zahara, Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di RSUD dr. Soekardjo Tasikmalaya yang menyebutkan durasi tunggu hingga 8 jam adalah sesuatu yang lumrah.
“yuriz org miskin harta miskin ilmu miskin akal tp pgn di istimewain. 8 jam sangat sangat wajar apalagi kat lo itu RS rujukan nasional. mungkin sekelas RSHS bdg atau RSCM jkt kan? boleh gue bilang sesuatu? LO GOBLOK BANYAK BACOT,” komentarnya pada Jumat (24/7).
Warga internet (warganet) menilai respons yang dilontarkan kepada Yurizal termasuk nirempati karena menyangkut pengalaman seorang pasien yang sedang membutuhkan layanan medis, sekaligus memperlihatkan persoalan mengenai akses dan kecepatan pelayanan bagi peserta BPJS Kesehatan. Komentar-komentar tersebut kemudian memunculkan perdebatan mengenai empati digital, etika komunikasi tenaga kesehatan, dan batas tanggung jawab profesional ketika memberikan tanggapan di ruang publik.
“Sudah meninggal orangnya. Ketikan kamu jahat banget. Sender cuma ngeluh. Ga minta pendapat kamu,” ujar salah satu warganet Threads menjawab ketikan oknum tenaga kesehatan yang kurang berempati.
Pada akhirnya, Yurizal dikabarkan telah meninggal dunia pada Jumat (31/7). Hal ini disampaikan langsung oleh sepupunya melalui kolom komentar pada postingan Almarhum yang sedang ramai. Salah satu penyebab kematian Yurizal adalah karena keterlambatan penanganan oleh rumah sakit padahal kondisinya telah di ambang batas.
Dari pemberitahuan sepupunya pula, diketahui bahwa Yurizal adalah orang yang jarang menceritakan apa yang sedang dialaminya pada keluarga atau kerabat terdekatnya. Ia lebih memilih untuk menyimpan semuanya sendiri, dan menggunakan media sosial sebagai ruangnya berkeluh kesah. Sayangnya, ruang aman yang ia percaya ia miliki justru menjadi ruang yang menyerang dirinya, terlebih ketika serangan tersebut datang dari oknum-oknum tenaga kesehatan dan dokter yang diharapkan dapat menyembuhkan.
Relasi Kuasa dan Diskriminasi Pasien BPJS
Ketika dokter dan tenaga kesehatan seharusnya hadir untuk membantu menyembuhkan, ada kalanya pasien justru merasa semakin terluka oleh sikap dan perlakuan yang mereka terima. Rasa sakit itu bukan hanya berasal dari penyakit, tetapi juga dari ucapan yang merendahkan, pelayanan yang tidak ramah, atau sikap seolah-olah pasien tidak layak mendapatkan perhatian. Dalam kondisi seperti ini, tempat yang seharusnya memberi rasa aman malah terasa menakutkan bagi pasien.
Di dalam hubungan antara tenaga medis dan pasien, terdapat relasi kuasa yang tidak seimbang. Dokter dan tenaga kesehatan memiliki pengetahuan, kewenangan, serta akses terhadap keputusan medis, sedangkan pasien biasanya berada dalam posisi yang membutuhkan bantuan dan tidak selalu memahami kondisi yang sedang dialaminya. Karena itu, pasien sering merasa tidak punya pilihan lain selain menerima semuanya.
Situasi tersebut semakin terasa bagi pasien BPJS. Sebagian pasien BPJS masih dipandang seolah-olah hanya menerima bantuan, bukan sebagai orang yang memiliki hak untuk mendapatkan pelayanan yang layak. Mereka bisa saja menerima perlakuan seadanya, menunggu lebih lama, atau mendapatkan nada bicara yang berbeda dibandingkan pasien umum. Padahal, menggunakan BPJS bukan berarti seseorang pantas diperlakukan lebih rendah. Di balik kartu BPJS, ada manusia yang sedang sakit, cemas, dan berharap bisa ditolong dengan baik.
Diskriminasi terhadap pasien BPJS tidak selalu muncul dalam bentuk penolakan yang terang-terangan. Kadang, diskriminasi terlihat dari cara berbicara, ekspresi wajah, kurangnya kesabaran, atau perhatian yang diberikan setengah hati. Cibiran dan ucapan yang menyakitkan juga dapat meninggalkan luka yang tidak terlihat. Bagi pasien yang sedang lemah, satu kalimat merendahkan dari tenaga medis bisa terasa sangat berat, bahkan membuat mereka enggan kembali berobat ketika membutuhkan bantuan.
Yang lebih memprihatinkan, perlakuan seperti itu sering dianggap biasa karena pasien berada dalam posisi yang lebih lemah. Seolah-olah pasien harus bersyukur sudah dilayani, meskipun diperlakukan tanpa penghargaan. Cara pandang seperti ini jelas keliru. Pelayanan kesehatan bukanlah kebaikan hati yang boleh diberikan sesuka hati, melainkan tanggung jawab yang harus dijalankan dengan sikap hormat dan kepedulian kepada setiap pasien, tanpa membedakan status ekonomi maupun jenis jaminan kesehatan yang digunakan.
Di sinilah terlihat adanya krisis empati dalam praktik medis. Kesibukan, tekanan pekerjaan, banyaknya pasien, dan tuntutan administrasi memang bisa membuat tenaga kesehatan merasa lelah. Namun, semua itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghilangkan rasa hormat kepada pasien. Pasien tidak selalu membutuhkan perlakuan yang berlebihan. Sering kali, mereka hanya ingin didengarkan, dijelaskan dengan baik, dan diperlakukan sebagai manusia yang sedang berada dalam keadaan sulit.
Gelar dokter atau tenaga kesehatan seharusnya tidak hanya menunjukkan kemampuan akademik dan keahlian dalam menangani penyakit. Di balik gelar tersebut, ada tanggung jawab besar untuk menjaga kepercayaan pasien. Pengetahuan medis tanpa kepedulian dapat membuat pelayanan terasa dingin dan jauh dari tujuan utamanya. Seorang tenaga medis mungkin mampu memahami gejala dan memberikan obat, tetapi jika ia tidak mampu menghargai perasaan pasien, proses perawatan itu tetap bisa meninggalkan luka.
Nilai kemanusiaan tidak boleh hilang hanya karena seseorang mengenakan jas putih atau memiliki posisi yang lebih tinggi di ruang pemeriksaan. Pasien bukan sekadar nomor antrian, berkas administrasi, penerima layanan kesehatan, perawatan, atau pemeriksaan dari tenaga medis profesional. Mereka juga memiliki kehidupan mereka tersendiri sebagai orang tua, anak, pasangan, saudara, dan bagian penting dari keluarga yang sedang berusaha bertahan di tengah rasa sakit. Mereka mungkin datang dengan rasa takut, keterbatasan biaya, dan harapan besar agar bisa mendapatkan pertolongan tanpa dipermalukan.
Karena itu, etika kedokteran seharusnya tidak berhenti pada aturan tertulis atau kewajiban untuk memberikan perawatan secara teknis. Etika juga terlihat dari cara tenaga kesehatan berbicara, mendengarkan keluhan, menjaga sikap, dan memperlakukan pasien dengan adil. Menyembuhkan bukan hanya soal mengurangi rasa sakit secara fisik, tetapi juga membantu pasien merasa dihargai dan tidak sendirian ketika menghadapi penyakitnya.
Kritik terhadap hilangnya nilai kemanusiaan di balik gelar medis bukan berarti menyamaratakan semua dokter dan tenaga kesehatan. Banyak tenaga medis yang tetap bekerja dengan tulus, sabar, dan penuh perhatian, meskipun menghadapi tekanan yang berat. Namun, keberadaan mereka yang berintegritas tidak boleh menutupi masalah ketika masih ada pasien yang mengalami penghinaan, pengabaian, atau perlakuan berbeda karena menggunakan BPJS. Setiap keluhan pasien perlu didengar dan dipandang sebagai pengingat bahwa pelayanan kesehatan masih harus terus diperbaiki.
Pada akhirnya, profesi medis tidak seharusnya hanya diukur dari kecanggihan fasilitas, kemampuan mendiagnosis, atau keberhasilan tindakan medis. Cara pasien diperlakukan juga menjadi bagian penting dari kualitas pelayanan. Keahlian tanpa empati dapat membuat pasien merasa seperti objek, sedangkan keahlian yang disertai nilai kemanusiaan dapat membuat proses perawatan terasa lebih aman dan bermakna. Pasien, apa pun latar belakang dan jaminan kesehatannya, tetap berhak mendapatkan pelayanan yang menghormati martabatnya sebagai manusia.
Refleksi Kemanusiaan (Catatan Kecil Akhir dari Penulis)
Aneh rasanya ketika seseorang yang tidak memiliki tempat untuk bercerita memilih media sosial sebagai ruang bebas terakhirnya terus dituntut untuk diam dan menerima nasibnya saja. Lantas, mengapa tidak mereka saja yang diharapkan untuk sesekali memberi ruang dengan diam? Terkadang kita terlalu fokus untuk cepat menilai seseorang dari unggahannya yang hanya beberapa detik, atau bahkan hanya berupa ketikan singkat. Kita lupa bahwa manusia memiliki waktu 24 jam yang terlalu banyak dan kompleks untuk bisa dinilai dengan cepat begitu saja.
Ketika hal ini terus-menerus terjadi, bagaimana nasib mereka di luaran sana yang memiliki nasib serupa? Sudah saatnya kita belajar menahan diri dan memberi ruang. Sebab, bagi sebagian orang, mendengarkan adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa. Kadang mereka terlalu sibuk mengatakan, “Keluar dari zona nyamanmu dan bercerita lah!”. Namun mereka selalu lupa memahami bahwa ruang personal setiap individu berbeda-beda.
Penulis: M. Azhar Fitrah Ramadhan
Editor: Dzakii Asat Rizki Kusuma
Referensi
Fandi Permana. (2026, August 5). Nestapa Yurizal Tri Chaerawan: Curhat layanan BPJS malah dinyinyiri oknum dokter dan nakes, Kini Meninggal. AFU.Id. https://afu.id/humaniora/nestapa-yurizal-tri-chaerawan-curhat-layanan-bpjs-malah-dinyinyiri-oknum-dokter-dan-nakes-kini-meninggal
TAG: #budaya #bullying #gagasan #humaniora
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua