» Website: https://www.retorika.id » Email: lpmretorikafisip@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Mild Report
Demi MBG, Sekolah di Kalimantan Tengah Tidak Diliburkan meski Kualitas Asap Sudah Berbahaya
02 September 2026 | Mild Report | Dibaca 16 kali
Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Tengah, Muhammad Reza, dalam rapat koordinasi sekolah se-Kalimant: - Foto: Detiknews
Beredar sebuah video di media sosial yang berisi sebuah pernyataan kontroversial Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kalimantan Tengah, Muhammad Reza. Dalam potongan video tersebut, Reza menyampaikan tak ingin meliburkan sekolah karena akan mengganggu operasional MBG.

Retorika.id - Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai salah satu pusat karhutla (kebakaran hutan dan lahan) dengan intensitas tinggi menyebabkan buruknya kualitas udara dan gangguan terhadap aktivitas warga. Kendati demikian, pembelajaran tatap muka di sekolah tetap dilaksanakan. Mengapa demikian? 

Dalam sebuah penggalan video, terlihat Kadisdik Kalteng Muhammad Reza sedang melakukan rapat koordinasi online bersama SMA (sekolah menengah atas), SMK (sekolah menengah kejuruan), dan SKh (sekolah khusus) se-Kalimantan Tengah. Ia menyampaikan bahwa dengan diliburkannya sekolah operasional program MBG (Makan Bergizi Gratis) akan terganggu.

“Karena ketika sekolah diliburkan, berpengaruh juga terhadap dapur-dapur MBG,” ujar


Reza. 

“Bapak ibu saya harap punya kebijaksanaan juga, dapur MBG mati, bu. Kantin-kantin mati, bu,” imbuhnya. 

Lanjutnya lagi, Reza menyatakan rasa khawatir apabila sekolah diliburkan, anak-anak justru pergi ke kafe, lalu membuat keributan dan masalah. Selain itu juga, ia mengatakan orang tua siswa akan menjadi pusing dan bingung kalau aktivitas sekolah diliburkan.

Adapun Reza menyampaikan bahwa pihak sekolah dapat menerapkan aturan jam masuk pada pukul 8 pagi. "Jadi, saya meminta kepada Bapak dan Ibu. Mohon nanti ini saya akan buatkan surat edaran. Masuknya jam 8 untuk adik-adik, gitu kan. Nanti pulangnya mungkin karena kita sudah setting di 30 menit tiap jam pelajaran," tuturnya. 

Pernyataan oleh Kepala Dinas Pendidikan ini sontak memancing amarah masyarakat, khususnya masyarakat digital (netizen). Dalam kolom komentar di bawah unggahan @zonamahasiswa.id, ada yang meresponsnya dengan “Lebih takut MBG yg mati daripada anak sekolah yang mati.” Lainnya juga mengecam sekaligus kecewa dengan pernyataan tersebut, “Lupa bawa otak dan hati ketika memimpin.”

Berbagai reaksi marah juga disampaikan netizen di bawah unggahan @fakta.indo. “Langsung aja pak, bapak punya berapa titik SPPG?” ujar salah satu netizen. 

Influencer pendidikan Jerome Polin pun ikut berkomentar. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap pernyataan tersebut, “inilah pentingnya punya pejabat yang berpikir,” tulis Jerome Polin.

Hadirnya pernyataan lebih memilih MBG daripada keselamatan anak-anak membuat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah kembali goyah dan rapuh. Kondisi udara yang sudah memasuki level berbahaya inilah yang membuat masyarakat mendesak pemerintah Kalimantan Tengah untuk meliburkan aktivitas pembelajaran tatap muka. 

Masyarakat, khususnya orang tua, khawatir jika anak-anak diarahkan untuk selalu belajar tatap muka di sekolah dengan kondisi udara yang berbahaya, memicu penyakit pernapasan ringan hingga ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

 

Penulis: Michael Anggi Hutauruk

Editor: Febriana Rahma Sari

 


TAG#akademik  #humaniora  #pemerintahan  #pendidikan