» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 085850150198.

Inspirasi
Semangat Gerakan Mahasiswa Mengajar
02 Mei 2017 | Inspirasi | Dibaca 1784 kali
Mahasiswa mengajar kaum marjinal: Indonesia Mengajar Foto: Photo gratuite
Mahasiswa perlu melakukan aksi nyata dalam memperbaiki kesenjangan pendidikan.

retorika.id - Pendidikan merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia. Semakin tinggi kualitas sumber daya manusia yang ada, maka akan mampu menggerakan perekonomian Indonesia. Dalam proses peningkatan kualitas pendidikan, pemerintah mengalami masalah-masalah seperti kurangnya guru, kurangnya fasilitas pendidikan, biaya pendidikan yang mahal, seta persoalan kurikulum. Meskipun begitu, pemerintah berupaya terus memperbaiki kualitas pendidikan dengan memberikan porsi dana APBN 2017 sebesar 20% untuk pendidikan.

Masalah klise yang sering terjadi mengenai pendidikan adalah kesenjangan atau disparitas  pendidikan. Hal ini disebabkan masih banyaknya daerah 3T (tertinggal, terluar, terdepan) di Indonesia, yakni sekitar 122 kota. Jawa Timur berada di posisi ke 7 dari keseluruhan provinsi dengan daerah tertinggal terbanyak yang ada di Indonesia.

Provinsi Jawa Timur yang memiliki indeks pembangunan manusia tahun sebesar 68,95 % menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, sangat ironis ketika masih banyak daerah tertinggal di beberapa kota besar. Dalam hal pendidikan, misalnya Sekolah Dasar (SD) Gebang 2 di Dusun Pucukan, Desa Gebang, Kota Sidoarjo, berdasarkan data dari Direktorat Jendral Pendidikan

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

Dasar dan Menengah jumlah ruang kelas hanya 4, luas tanah 1700 m2, tidak ada akses internet, sumber listrik menggunakan PLN dan Diesel. Sedangkan, SD Ngrejo 4 Tulungagung memiliki 6 kelas, luas tanah 900 m2, tidak memiliki perpustakaan, sanitasi siswa dan sumber listrik diesel dan tidak ada akses internet, kesemuanya berdasarkan data dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam mengurangi kesenjangan pendidikan, upaya yang dilakukan pemerintah masih belum maksimal. Berdasarkan data BPS (2016), Presentase Angka Partisipasi Sekolah (APS) umur 7-12 tahun turun 0,26% di tahun 2015. APS umur 13-15 juga menurun di Tahun 2015 sebesar 0,07%. Berdasarkan data Education For All Global Monitoring Report 2011, Indeks pembangunan pendidikan Indonesia turun peringkat jadi ke-69.

Berdasarkan isu mengenai kesenjangan pendidikan tersebut, maka timbulah gerakan sosial baru. Artinya gerakan sosial dari masyarakat yang bergerak memperjuangkan perubahan sosial atas dasar isu – isu yang berkembang seperti misalnya kesenjangan pendidikan. Gerakan sosial baru merujuk pada suatu konsepsi yang membedakannya dengan konsep gerakan sosial yang lama di mana gerakan sosial lama cenderung politis, melibatkan aksi massa serta berorientasi kelas. Gerakan sosial baru cenderung dipahami sebagai gerakan yang cenderung kultural, tidak melibatkan aksi massa, lebih dekat dengan isu sehari-hari, dalam hal ini adalah kesempatan mengenyam pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin (Larana ed. 1994; Johston dan Klandermans 1995; Pichardo 1997).

Dalam dunia pendidikan sendiri gerakan yang paling menonjol terlihat di masyarakat adalah gerakan Indonesia Mengajar yang dibuat oleh Anies Baswedan (mantan menteri pendidikan Indonesia). Gerakan Indonesia Mengajar (GIM) sendiri merupakan model pendidikan eklektisme, yakni model pendidikan yang mencampurkan community development (CD), suatu model pendidikan khas Lembaga Swadaya Masyarakat, dengan pendidikan formal yang berbasis UU Sikdiknas (Sholeh: 2014). Indonesia Mengajar sendiri sampai saat ini merupakan sebuah gerakan awal yang merintis dengan menjunjung profesionalitas, artinya didukung banyak sumber daya yang berkualitas.

Indonesia Mengajar membawa pengaruh yang cukup besar bagi mahasiswa untuk bergerak dalam bidang yang sama yakni mengajar. Fenomena sekarang ini, justru banyak sekali para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berupaya membuat gerakan mengajar karena terinspirasi dari Indonesia Mengajar.  Gerakan yang dilakukan mahasiswa ini dapat berbentuk organisasi ataupun program dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sampai saat ini contoh gerakan mahasiswa di Surabaya sendiri seperti Unair Mengajar, ITS mengajar, Unesa Mengajar. Beberapa program pengabdian masyarakat yang digawangi BEM Unair juga berbentuk kegiatan mengajar, seperti AYO BELAJAR dari Fisip, Vokasi Mengajar, Psikologi Mengajar dan lain sebagainya.

Fenomena gerakan sosial yang dibuat mahasiswa ini lahir dari isu-isu mengenai kesenjangan pendidikan. Mahasiswa sebagai agen perubahan, perlu melakukan aksi nyata dalam memperbaiki kesenjangan pendidikan. Berdasarkan hasil temuan Idil Akbar (2016) Gerakan mahasiswa sebagai gerakan sosial merupakan faktor paling penting dalam mewujudkan perubahan sosial. Sebagai agen perubahan, idealisme mahasiswa menjadi nilai sejauh mana perubahan sosial tersebut berjalan dengan semestinya atau penuh dengan kepentingan. Gerakan mahasiswa ini pula menjadi penanda penting keberlangsungan demokrasi tetap berjalan. Harapannya gerakan mengajar yang dilakukan oleh mahasiswa dapat membantu pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan dan juga mengurangi kesenjangan pendidikan yang ada di Indonesia. Dan semangat gerakannya dapat menginspirasi pemuda yang lain untuk bersama-sama berjuang.

 

Penulis : Oktavimega Yoga G.

Editor : Endah F.A.


TAG#demokrasi  #humaniora  #inovasi  #kerakyatan