» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Opini
Internet Sebagai Jendela Dunia
27 Maret 2017 | Opini | Dibaca 4357 kali
Internet, sebuah jendela baru dalam memahami dunia di era milenia

Surabaya, retorika.id - “Buku adalah jendela dunia”. Sama halnya dengan buku, internet juga dapat dikatakan sebagai jendela dunia mengingat perannya yang sama-sama memperluas wawasan masyarakat.

Internet merupakan sarana pemberian informasi secara lengkap yang didukung oleh kecepatan akses dalam mengumpulkan informasi secara global. Hal ini tentunya bermanfat bagi banyak orang, terutama pelajar untuk memperkaya ilmu.

Hasil penelitian yang dirilis oleh Kominfo dan UNICEF pada Februari 2014 mencatat sebanyak 98% dari anak dan remaja mengaku tahu tentang internet. Dan pengguna internet di Indonesia dari kalangan anak dan remaja sebesar 79,5 %. Sehingga dapat disimpulkan bahwa angka pengguna internet dengan rentang usia anak hingga remaja di Indonesia cukup besar.

Besarnya jumlah penggunaan internet di kalangan anak dan remaja membuat PR besar bagi pemerintah mengenai penyediaan sarana dan prasarana yang baik dalam mendukung penggunaan internet secara merata di Indonesia.

Penelitian yang dilakukan bersama oleh UNICEF, Menkominfo, dan Universitas Harvard, menunjukkan bahwa sekitar 20% responden menyatakan penyebab mereka tidak dapat menggunakan internet karena tidak memiliki perangkat elektronik yang dapat digunakan untuk mengakses internet, atau karena pelarangan oleh orang tua mereka.

Kebutuhan akan internet yang besar di Indonesia nampaknya tidak sebanding dengan akses internet yang cepat dan merata di seluruh Indonesia. Hal ini terbukti pada kuartal pertama 2016 menunjukkan rata-rata kecepatan akses internet di Indonesia sebesar 4,5 Mbps. Hasil ini didapat dari laporan State of the Internet Report Q1 2016 oleh perusahaan penyedia komputasi awan dan pengiriman konten Akamai Technologies asal Cambridge, Massachusetts, Amerika Serikat. Sehingga di ranah kecepatan akses internet, Indonesia bercokol di posisi 94


secara global.

Meskipun begitu Indonesia patut berbangga karena jika diukur dalam rata-rata kecepatan puncak (average peak connection speed), Indonesia berada di posisi ketiga secara global pada kuartal awal pada tahun 2016 dengan angka 110,2 Mbps. Hal ini menunjukkan adanya progress sebesar 535% dibandingkan pada tahun 2015, dan 38% dibandingkan pada kuatal empat 2015.

Namun, pemerintah perlu kembali berbenah untuk mengimbangi indikasi penggunaan internet yang besar dengan dukungan sarana dan prasarana yang memadai pula. Hal ini juga dikarenakan pentingnya internet di kalangan pelajar untuk mendapatkan wawasan lebih. Sebab pelajar merupakan kunci bagi nasib bangsa di kemudian hari.

Permasalahannya adalah pembangunan di Indonesia belum merata di seluruh daerah, dan terkesan terpusat di Jawa. Kita juga tak bisa melupakan bahwa kondisi geografis di Indonesia seperti pegunungan dan laut dapat sedikit menghambat kecepatan akses internet.

Dan mungkin masih teringat di benak kita bahwa kabel fiber optik di bawah laut pernah beberapa kali diprotoli untuk dijual pada penjual besi bekas.

Juga sepertinya kebiasaan korupsi mengenai pengadaan sarana dan prasarana penunjang internet mungkin juga bisa menjadi salah satu penyebab tak bisa meratanya pengadaan tersebut.

Permasalahan internet nyatanya tak sepenuhnya berpenyebab seperti itu. Banyak orang berasumsi karena kurangnya perhatian pemerintah lah sehingga hal tersebut dapat terjadi.

Contoh paling dekat dengan keseharian kita sebagai mahasiswa FISIP Unair adalah kurang berfungsinya wifi fakultas dengan baik. Jika ditilik dari visi menuju world class university, tentu hal ini menjadi ironi. Tentu sulit mencapai gelar world class university jika masalah ketersediaan wifi yang kurang bisa diakses mahasiswa –yang notabenene merupakan penyokong nama baik kampus.

Masalah wifi di lingkungan FISIP adalah kecepatannya berkurang di jam-jam kuliah. Beberapa mahasiswa menyatakan bahwa akses wifi paling cepat digunakan saat pagi, sedangkan ketika siang hingga malam kecepatan aksesnya dianggap berkurang. Hal ini tentu menjadi masalah karena jam aktif kuliah di mulai dari pukul 07.00 – 17.30, dan ketika malam ada beberapa mahasiswa yang tetap stay di galeri untuk mengerjakan tugas atau bahkan skripsi. Banyak sekali Wifi yang dipasang untuk kebutuhan internet pelajar, mulai dari wifi.id, wifi@mhs.unair, @wifi.fisip.unair. dan lain-lain. Wifi.id yang notabene berbayar malah menjadi wifi yang berfungsi dengan baik di segala waktu.

Mengingat besarnya dana yang dikucurkan tiap mahasiswa untuk membayar UKT (uang kuliah tunggal), tentu masalah wifi yang kurang memuaskan mahasiswa menjadi hal yang layak untuk dipertanyakan. Apa sebenarnya alasan dibalik kurang maksimalnya penyediaan wifi di FISIP Unair? Sekali lagi, sebagai mahasiswa yang membayar tentu kita berhak mempertanyakan dengan serius mengenai perkara wifi di FISIP. Ya, apalagi wifi –yang notabene gratis, menjadi jalan yang mempermudah para mahasiswa untuk meraih banyak informasi bermanfaat, baik bagi kebutuhan akademis, maupun kebutuhan lainnya.



-Oktavimega Yoga Guntaradewa-

(Editor : Anita Fitriyani)

Save


TAG#dinamika-kampus  #fisip-unair  #gagasan  #lingkungan