» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 085850150198.

Liputan Khusus
Museum Pendidikan Surabaya: Saksi Bisu Perkembangan Pendidikan di Indonesia
02 Desember 2019 | Liputan Khusus | Dibaca 461 kali
Sumber: Museum Pendidikan Surabaya Foto: Dokumentasi Pribadi/Alvidha Febrianti
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tepat pada Hari Guru Nasional kemarin meremiskan Museum Pendidikan Surabaya (25/11). Museum yang berlokasi di Jl. Genteng Kali No. 41, Surabaya tersebut dibangun sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan para pendahulu dalam memajukan pendidikan di Indonesia. Mengingat bahwa gedung yang dialihfungsikan sebagai museum ini sebelumnya adalah sekolah Taman Siswa, sekolah penduduk pribumi pertama kalinya pada era kolonial.

retorika.id- Museum Pendidikan Surabaya berlokasi di Jl. Genteng Kali No. 41, Surabaya. Museum ini diresmikan oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, pada Senin (25/11/2019) bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional. Museum tersebut dibangun sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan para pendahulu dalam memajukan sistem pendidikan di Indonesia.

Gedung yang dialihfungsikan sebagai museum ini sebelumnya adalah sekolah Taman Siswa, sekolah penduduk pribumi pertama kalinya pada era kolonial. Museum Pendidikan Surabaya adalah museum tematik yang didirikan sebagai upaya pelestarian sejarah dan budaya bangsa yang memiliki tujuan untuk menunjang kegiatan riset, edukasi, dan rekreasi di kota Surabaya. Museum Pendidikan Surabaya ini menyuguhkan nuansa historis dari perkembangan pendidikan dari masa ke masa di Indonesia.

Pengunjung akan diajak bernostalgia mengenai bagaimana sistem pendidikan di Indonesia berkembang. Selain itu, terdapat benda-benda masa lampau yang menghiasi di dalamnya sehingga menambah nilai historis museum ini. Alur museum diatur berdasarkan konsep storyline periodisasi masa dinamika pendidikan di Indonesia berdasarkan koleksi-koleksi benda dalam konteks museologi.

Alur museum terbagi menjadi Masa Pra-aksara, Masa Klasik, Masa Kolonial, dan Masa Kemerdekaan. Koleksi benda-benda tersebut diantaranya, seperti patung manusia purba yang menjadi ikon pada masa pra-aksara, dan naskah kuno yang ditulis dalam huruf Pallawa dengan media kertas lontar. Disamping itu,

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

juga ditemukan berbagai alat tulis yang digunakan dari zaman dahulu, seperti kertas sabak yang digunakan sebelum adanya kertas seperti pada zaman sekarang, mesin tik, roll film isi yang sudah cukup usang. Adapun mesin handpress milik K. H. Ahmad Dahlan yang merupakan seorang tokoh pergerakan yang aktif di dunia pendidikan, serta masih banyak lagi alat-alat tulis dan alat-alat hitung lainnya yang menjadi bukti sejarah pendidikan di Indonesia.

“Komunitas Barang Antik Surabaya juga ikut andil dalam mengumpulkan koleksi barang-barang di museum ini, dan rencananya mau ditambah lagi untuk melengkapi koleksi lainnya disini,” ungkap salah seorang petugas museum. Berikut ini adalah pemaparan terkait perkembangan sistem pendidikan di Indonesia yang dibagi ke dalam empat tahapan. Mulai dari masa pra-aksara, masa klasik, masa kolonial, sampai masa kemerdekaan.

Masa Pra-Aksara

Pada bagian ini, diceritakan bahwa riwayat pendidikan bisa dibilang setua umur peradaban manusia. Bahkan, peran pendidikan sama pentingnya sebelum manusia menemukan aksara sebagai medium komunikasi dan pengetahuan. Terdapat perbedaan sistem pendidikan pada masa pra-aksara dengan pasca-aksara. Pada masa pasca-aksara, penggunaan dan transfer pengetahuan lebih bersifat eksplisit. Dengan kata lain, pengetahuan di era saat ini dilakukan melalui verbal dan tulisan.

Sementara itu, perkembangan pengetahuan pada masa pra-aksara bersifat tacit, yakni pengetahuan diperoleh langsung dari alam, pengalaman indrawi, dan “ingatan otot”. Metode ini dilakukan sejak era paleolithikum (manusia hidup secara nomaden) hingga paleometalik (kehidupan manusia yang sudah menetap). Hal itu terjadi karena struktur sosial masyarakat saat itu yang masih sangat sederhana dan masih dekat dengan lingkungan alam.

Masa Klasik (Kerajaan)

Sistem pendidikan mulai jauh lebih berkembang pada masa ini, karena bersamaan dengan terbentuknya sistem pemerintahan dalam bentuk kerajaan. Pertukaran pengetahuan dan sistem sistem pendidikan yang dibawa dari bangsa lain dimulai dari aktivitas niaga, syiar agama, dan diaspora dari India. Kemudian membawa pengaruh kebudayaan Hindhu dan Budha ke berbagai kalangan masyarakat Indonesia.

Negara Indonesia memiliki jalur sutra maritim yang memudahkan perdagangan rempah dari Tiongkok hingga Jazirah Arab. Hal itulah yang menjadikan sistem pendidikan mampu berkembang secara dinamis. Pengaruh dari berbagai kebudayaan memiliki peran yang penting, terutama terhadap model pendidikan di Indonesia.

Masa Kolonial

Periode kolonial ini ditandai dengan diberlakukannya cultuurstelsel oleh bangsa Belanda. Kekayaan sumber daya alam yang terkandung di tanah Indonesia, khususnya rempah-rempah berupa pala menarik minat Belanda untuk melakukan eksploitasi dan monopoli kekayaan alam Indonesia. Di tengah-tengah kesengsaraan yang dihadapi oleh masyarakat Indonesia, muncul politik etis sebagai wujud aksi propaganda Jepang dalam melihat potensi pendidikan dan kebudayaan di Indonesia. Politik etis berkembang sebagai rasa prihatin atas kehidupan masyarakat Indonesia yang terjajah. Pada saat politik etis diterapkan, perbaikan sistem pendidikan dan transfer pengetahuan memberikan dampak yang signifikan. Akses terhadap pendidikan bagi kalangan non Eropa mulai dibuka melalui pengadaan sekolah hingga ke pelosok.

Masa Kemerdekaan

Setelah lepas dari cengkraman penjajah, tidak menjadikan bangsa Indonesia merdeka seutuhnya. Tantangan bagi Indonesia pada masa kemerdekaan adalah bukan lagi melawan penjajah, melainkan melawan ego masing-masing terkait ideologi yang dianut bersama. Komponen-komponen dalam tubuh Indonesia yang masih belum berfungsi seutuhnya membuat masyarakat mengalami kebingungan. Terutama kondisi sosial politik yang masih sangat panas dan tidak stabil.

Tantangan lainnya dalam hal pendidikan adalah Indonesia harus mampu mandiri dan lepas dari patron yang ditanamkan oleh kurikulum kolonial. Dalam hal ini yang dimaksud adalah sistem pendidikan di Indonesia mampu mencerminkan keberagaman dalam konteks sosial budaya yang membentang sepanjang kepulauan nusantara. Hal itu yang menjadi awal mula perjalanan panjang pendidikan ketika Indonesia memperoleh kemerdekaan.

Museum Pendidikan ini dibuka untuk umum dan gratis. Dibuka setiap Selasa-Minggu, jam 08.00-16.00 WIB. Diharapkan dengan adanya Museum Pendidikan membuat para generasi muda lebih bersemangat dalam menuntut ilmu dan menggapai cita-cita.

 

Penulis: Alvidha Febrianti


TAG#event  #promosi  #surabaya  #