
Bertahun-tahun, F (nama samaran), Abe, dan Eve hidup dalam riuh rendah suara yang mencoba mendikte siapa diri mereka—mulai dari tuntutan menjadi “normal” hingga label pendosa ulung dan kelak akan dilempar ke dalam api neraka. Namun, di tengah perjalanan hidup mereka, ketiganya memutuskan untuk tersungkur di hadapan Salib dan menganut iman Kristiani.
Retorika.id - Sebelum membaca artikel ini, perlu dipahami bersama bahwa Kristen terpusat pada ajaran, kehidupan, dan kesengsaraan Yesus Kristus. Dalam perkembangannya, Kristen ‘terbagi’ menjadi beberapa, dua di antaranya, Kristen Protestan dan Kristen Katolik (Roma). Walaupun sama-sama berakar pada Yesus dan Alkitab, ada perbedaan pandangan antara Protestan dan Katolik, salah satunya terkait kelompok queer. Artikel murni hasil wawancara dan riset oleh penulis sehingga dapat menimbulkan bias atau subjektivitas, serta tidak ada maksud untuk menjelekkan agama, paham, atau opini tertentu.
***
“You are a boy, not a girl!”
F ingat betul, perkataan tersebut diulang oleh bibinya hampir setiap hari. Sedari dulu, bibinya memang tak rela jika keponakannya tumbuh sebagai seorang laki-laki feminim. Maka dari itu, hati kecil F yang tumbuh dalam lingkungan patriarkis, mau tak mau pun mengafirmasi ulang perkataan tersebut.
“Oh yeah, I’m a boy. Then what’s wrong with me?” pikirnya.
Tahun demi tahun berlalu, meski hidup sebagai seorang laki-laki kemayu, F juga tumbuh dengan pemikiran bahwa ia adalah seorang laki-laki manly dan “normal”. Namun, semua berubah ketika SMP. F mulai menyadari bahwa ia memiliki ketertarikan terhadap teman laki-lakinya.
“I was in denial, of course. But, he ended up being my boyfriend dulu.”
Dari pengalaman itulah, trayektori hidup F pun berubah. Mantan kekasihnya lah yang membantunya untuk menyadari bahwa tidak ada yang salah dalam dirinya. Bahwa dia tidak sendiri. Mantan kekasihnya itu pula yang mengenalkannya pada agama Katolik. Lambat laun, perasaan ingin pindah agama di dalam hati F pun muncul.
Saat masa SMA datang, F mulai perlahan-lahan menerima identitas yang ia miliki. F juga mulai berani mengambil katekumen—sebuah proses persiapan untuk menerima sakramen Baptis dalam gereja Katolik.
F ingat betul masa-masanya menjalani katekumen. Pernah pada suatu kali ia menangis sejadi-jadinya di dalam gua Maria selama dua jam. Alih-alih mengusir F yang seorang queer, umat gereja tersebut justru memeluknya dan memberikannya bingkisan, sembari mengatakan bahwa mereka mencintai F apa adanya sebagai manusia.
“Mereka ngeliat aku sebagai manusia yang sedih, bukan manusia yang berdosa.”
Kini, saat ia tumbuh dewasa dan berkuliah, F pun memiliki banyak teman. Teman yang membantu ia menyadari bahwa kelompok queer ada dan akan selalu ada. Kelompok queer itu normal dan itu adalah identitas yang tidak bisa diubah. Selain itu, meski tidak sepenuhnya religius, F pun mantap berpindah keyakinan menjadi Katolik.
“Because I felt like more peace. I felt more kayak lebih bisa diterima, quote unquote. Because, again, karena Katolik itu mandang orang sebagai orang, sebagai individu,” ujar F, menjelaskan mengapa ia berpindah agama menjadi Katolik. “Dan aku tuh ingat banget, Romo aku tuh bilang dulu waktu katekumen, whoever you are, you're still human being. And that's how God makes you. Kayak gitu.”
***
Hampa. Tidak ada rasa apa-apa. Bahkan kesal dan jijik; itu yang dirasakan Abe (nama samaran) jika berpikir tentang hal-hal berbau seksual tentang lelaki. Hingga akhirnya seorang perempuan yang ia cintai datang dan semuanya terasa benar. Namun, Abe tidak serta-merta menerima identitasnya tersebut. Perlu banyak membaca dan bertanya-tanya pada orang lain hingga ia bisa menerima identitasnya yang sekarang: seorang lesbian.
Tidak hanya identitas seksual yang membuat Abe berkonflik dalam batinnya. Ia ingat betul, bertahun-tahun yang lalu, ia sempat menjerit dalam hati.
“Kenapa aku Islam? Kenapa aku harus jadi Islam? Kenapa aku nggak bisa milih agama aku sendiri. Itu kan hakku?”
Lama kelamaan, pertanyaan-pertanyaan sederhana itu pun berubah kompleks: apakah Tuhan nyata? Apakah Tuhan benar-benar ada? Masa SMA nya pun dipenuhi keraguan. Ditambah kenyataan bahwa dirinya adalah lesbian, imannya mulai goyah karena ia dicap pendosa tingkat tinggi yang sudah pasti akan masuk neraka.
Sampai ketika Abe berkuliah, ia mulai mengenal suatu ajaran yang unik, yang berfokus pada cinta kasih kepada sesama. Itu adalah ajaran agama Katolik.
Dari sana, Abe pun memutuskan untuk mencoba beribadah di gereja. Kejadian tersebut pun membuat ia menangis.
“Pas ibadah kayak no one give a fuck about me. Karena kalau di komunitas sebelumnya tuh kayak gerakan sholat aja yang salah di-judge. Mereka bahkan gak peduli aku tuh orang lama kah? Orang baru kah? Yang masuk gereja itu kayak ya wes kita punya urusan masing-masing sama Tuhan, gitu
lah.”
Sama seperti F, Abe pun mulai mencari tahu soal katekumen sebagai salah satu syarat masuk Katolik. Ketentuannya tidak gampang; ia harus ikut 40 kali pertemuan dan tidak boleh ini-itu. Namun, Abe merasa bahwa hal-hal tersebut bukan hal yang mahal, asalkan ia mendapat kedamaian batin.
***
SNSD, T-Ara, dan Running Man. Hal-hal berbau Korea itulah yang membuat Eve (nama samaran) menyadari bahwa ia queer sejak kecil.
“Aku sempat ngeliatin, “Ini ceweknya cakep deh.” Cuma aku lupa deh apa yang nge-trigger. Mungkin karena aku nggak ngeliatin cowoknya. Abangku bilang, “Ih kamu lesbian?” Terus aku kayak, ‘Aku nggak lesbian’. Terus aku coba ngeliatin cowok-cowoknya, tapi kayak nggak tertarik aja sih. Kayak biasa aja.”
Namun pada saat itu, Eve tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Barulah pada saat kelas 6, Eve bermain gim visual novel dan muncul opsi untuk mencium love interest yang adalah sesama perempuan. Hal tersebut lantas membuat ia kaget. Seperti Abe, ia juga sempat mencoba menjalin romansa dengan karakter laki-laki namun tidak bisa. Saat mencoba menjalin romansa dengan karakter perempuan, barulah ia merasa mantap.
“Akhirnya pas semakin lama gitu, semakin aku dewasa, aku semakin mikir nggak sih, aku nggak suka sama cowok, gitu.”
Eve mengaku bahwa ia belum berani mengambil istilah lesbian karena identik dengan stigma negatif, dan baru saat kelas 11-12 SMA ia berani mengambil label tersebut untuk dirinya sendiri.
Di saat yang bersamaan, Eve juga sedang bersekolah di sekolah Katolik. Ia juga tumbuh di sekeliling orang-orang Kristen, bahkan sempat pergi ke sekolah minggu. Ketika dewasa, ia mulai tertarik lagi, hingga diajak beribadah ke gereja, dan akhirnya memutuskan untuk dibaptis.
Namun, hidup sebagai umat Kristiani yang juga bagian dari kelompok minoritas gender bukan segampang menyanyikan pujian-pujian di gereja dengan haru. Eve mengaku bahwa bahkan hingga sampai sekarang, ketika ia sudah aktif menjadi jemaat dan ikut andil dalam pelayanan di gereja, Eve merasa masih ada tembok yang membuat ia tidak bisa sangat dekat dengan Tuhan yang ia puji dan sembah karena adanya penolakan tersendiri, terutama dari gerejanya sendiri. Eve juga belum bisa melela dirinya sebagai lesbian dengan lingkungan gerejanya karena rasa takut. Pernah sekali ia melakukannya, dan ia malah didoakan agar bisa menjadi “lurus” lagi.
“Karena kayak buat apa juga mereka tahu kalau ujungnya mereka menentang dan meminta aku buat tobat lagi. Mungkin mereka gak akan resorting to violence, tapi lebih ke aku takut lebih ke reaksi mereka itu fokus kepada mengobatiku, menganggap aku orang yang tersesat yang butuh pembenaran. Dan aku tuh gak mau dipandang seperti itu,” ujar Eve di siang hari itu. “Jadi kayak aku menganggap Tuhan Yesus membuatku seperti ini, dan aku akan percaya pada jalannya Tuhan. Kayak mungkin memang dari teman-teman gereja aku belum menemukan safety.”
Sementara itu, untuk Abe, ia juga sempat mendapatkan diskriminasi di gereja. Di kelas katekumen, contohnya, ia berkali-kali mendengar bahwa gereja Katolik tidak pernah menerima pasangan sesama jenis. Abe juga merasakan kontradiksi, karena umat Katolik diwajibkan untuk menikah sebagai pasangan heteroseksual dan menurunkan nilai-nilai katolik kepada keturunan, sementara Abe memiliki pasangan lesbian dan berencana untuk childfree.
“Itu juga jadi pertanyaan. Tapi aku ambil yang perlu-perlu aja. Kaya misalnya ada yang kontras sama aku ya I just let it pass. Maksudku, aku yakin Tuhan tuh tahu,” ujar Abe. “Even Bunda Maria loh, kan ia mengandung Yesus tanpa suami, dan Yesus juga tiba-tiba muncul dan dibenci…. dan aku yakin juga lore hidup gini, apapun itu, sudah ditulis sama Tuhan sih. Kayak ya udah aku yakin Tuhan ada tujuannya di balik semua itu.”
Berani melabeli identitas diri sebagai queer tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perjalanan menemukan jati diri yang sejati memerlukan waktu panjang yang diwarnai oleh berbagai hambatan dan tantangan yang dihadapi, salah satunya pergulatan antara logika dan batin. Dalam perjalanan ini, Semesta ternyata turut menuntun mereka untuk berkenalan dengan sosok Yesus.
Berbagai pengalaman nyata mereka rasakan sendiri. Pengalaman dalam menemukan Yesus pasti berbeda-beda, tersentuh oleh kata-kata Alkitab, nyaman dengan komunitas atau umat-Nya, hingga merasakan kedamaian saat melakukan peribadatan. Mereka tidak mungkin semata-mata tersihir ketika sedang lengah. Bagaimana cara seseorang bisa menaruh kepercayaan yang begitu besar kepada Sosok yang tidak kelihatan?
Akhirnya, pengembaraan ini juga menjadi sebuah perjalanan spiritual yang mendalam dan mengesankan. Yesus dipilih secara sadar atas keinginan mereka sendiri.
Keputusan untuk berpindah menjadi seorang Kristiani tidak hanya semata-mata untuk mendapatkan “kebebasan” atau “kelonggaran” untuk hidup bebas dengan identitas mereka, tetapi untuk merasakan rasa damai yang mereka cari selama ini.
Uluran tangan Yesus menjadi jawaban atas misi pencarian dalam menemukan rumah berlabuh sepanjang hayat. Kasih yang dipancarkan oleh Yesus mampu menjadi motivasi untuk berani menerima identitas mereka sebagai salah satu karunia Allah yang tidak perlu disesali.
Yesus merupakan tokoh sentral acuan hidup orang Kristen. Dalam Alkitab, Yesus digambarkan sebagai pribadi yang penuh dengan cinta kasih. Yesus menjadi teladan manusia untuk mau merangkul kaum minoritas (para janda) dan pendosa (pemungut cukai, pelacur, penjahat, dll). Ia sendiri mengajarkan dalam Injil Matius 22:39, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Setiap manusia adalah setara, semua dibuat serupa/secitra dengan Allah sendiri. Tuhan tidak membeda-bedakan, semua ciptaan-Nya adalah baik adanya. Maka dari itu, sudah selayaknya setiap umat Kristiani meniru apa yang diperbuat oleh Yesus.
"Jika seseorang gay dan mencari Tuhan dan memiliki niat baik, siapa saya untuk menghakimi?" ujar Paus Fransiskus. Pernyataan ini keluar dari mulut Paus dalam konferensi pers di pesawat kepausan pada 29 Juli 2013, saat ditanya mengenai adanya isu homoseksualitas di kalangan klerus Vatikan.
Sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik, pernyataan ini mendapatkan berbagai pendapat pro maupun kontra. Pro karena dinilai bahwa Gereja telah mengalami progresivitas yang sungguh drastis, kontra karena menjadi gay dihitung sebagai dosa yang melenceng dari kisah penciptaan manusia.
Sikap mendiang Paus Fransiskus ini membuat pandangan masyarakat terhadap Gereja berubah drastis. Sebagai agama yang cukup konservatif, mengejutkan sekali bahwa Gereja Katolik mampu terbuka terhadap kelompok queer.
Berdasarkan sejarah, Katolik pernah mengalami masa kegelapan, mulai dari praktik jual-beli surat penghapusan dosa, memegang kekuasaan politik, hingga tidak terbukanya dengan inovasi dan modernisasi. Akhirnya setelah Konsili Vatikan II, Gereja Katolik mau membuka diri dan menerima realitas dunia luar, sampai di titik berani menilai bahwa orientasi homoseksual adalah bukan dosa manusia.
MS, seorang Diakon Projo asal Ketapang, Kalimantan Barat, menjelaskan bahwa Gereja Katolik menerima semua orang tanpa terkecuali, seperti Yesus yang mau merangkul dan mengampuni para pendosa. Ia melanjutkan bahwa dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) 2358 disebutkan, “Mereka sendiri tidak memilih kecenderungan ini; untuk kebanyakan dari mereka homoseksualitas itu merupakan satu percobaan. Mereka harus dilayani dengan hormat, dengan kasih sayang dan dengan bijaksana.”
MS mengatakan, “Kelompok queer dipandang sebagai manusia ciptaan Allah yang bermartabat dan dipanggil kepada keselamatan.”
Artinya, menjadi queer tidak secara khusus lebih berdosa atau terpisah dari kasih dan rahmat Allah, tetapi merupakan anak Allah yang diciptakan serupa/segambar dengan-Nya (imago dei), setara dengan manusia yang lainnya.
Kelompok queer juga berhak untuk mengenal, mencintai dan melayani Allah. Mereka harus mendapat perlakuan yang baik serta tidak menerima diskriminasi hanya oleh karena identitasnya. Walaupun Gereja telah bersikap terbuka, tak jarang masih banyak orang yang berpandangan keliru. Jadi, apa hak kita untuk mengecam mereka kalau Paus sendiri tidak berani menjadi hakim atas hamba Tuannya?
Perlu diketahui bahwa Gereja Katolik menerima kelompok queer sebagai pribadi dan umat yang datang mencari Tuhan. Sehingga ketika berbicara mengenai tindakan homoseksual atau relasi seksual sesama jenis, tidak dibenarkan oleh Gereja (KGK 2357). MS menekankan, “Penerimaan ini juga memiliki batas, tidak semua bentuk hidup diakui secara moral, dan setiap orang tetap dipanggil untuk hidup sesuai ajaran Gereja. Prinsip ini sebenarnya tidak hanya berlaku bagi kelompok queer, tetapi bagi semua umat tanpa kecuali.”
Dalam perkembangannya, Gereja Katolik bisa memberikan sebuah pemberkatan kepada pasangan homoseksual. Berkat ini harus dipahami sebagai sarana Gereja untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan, bukan sebagai bentuk legitimasi hubungan. Katolik tetap mempertahankan bahwa sakramen perkawinan yang sah terjadi antara pria dan wanita.
Sementara itu, di sisi salib yang lain, ada Kristen Protestan. Di dalamnya sendiri terdapat banyak ragam denominasi gereja. Gereja Protestan A bisa saja menganut paham Lutheran-Presbyterian, sementara Gereja Protestan B yang di seberangnya menjunjung tinggi aliran Pentakostal-Progresif. Hal ini mengakibatkan adanya berbagai perbedaan pendapat yang ada. Tidak semua umat, pendeta, bahkan gereja Protestan memiliki pandangan yang sama terhadap kelompok queer. Ada pendeta dan gereja yang betul-betul menolak dan menganggapnya sebagai bentuk penyakit, bahkan dosa, tetapi ada yang sangat merangkul dan terbuka.
Terkait keterbukaan ini, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) melalui Pernyataan Pastoralnya tahun 2016 secara progresif menyatakan:
“Berkenaan dengan LGBTI, Alkitab memang menyinggung fenomena LGBTI, tetapi Alkitab tidak memberikan penilaian moral-etik terhadap keberadaan atau eksistensi mereka. Alkitab tidak mengkritisi orientasi seksual seseorang. Apa yang Alkitab kritisi adalah perilaku seksual yang jahat dan eksploitatif yang dilakukan oleh siapa pun, termasuk yang dilakukan kaum heteroseksual, atau yang selama ini dianggap "normal". Pesan utama ceritera penciptaan Adam dan Hawa (Kejadian 1:26-28; 2:18, 21-24), misalnya, adalah tentang cikal bakal terjadinya institusi keluarga dan bahwa manusia diberi tanggung jawab untuk memenuhi dan memelihara bumi. Ceritera ini sama sekali tidak ditujukan untuk menolak keberadaan kaum LGBTI.”
Seperti Alm. Pendeta Stephen Suleeman contohnya. Beliau yang dulu melakukan pelayanan di GKI Gading ini menyampaikan bahwa penting untuk membuka diri kepada kelompok queer, karena pada hakikatnya, Kristen mengajarkan cinta kasih, bukan kebencian.
Ia menulis, “Pelayanan LGBT tujuannya untuk memberikan siraman rohani bukan untuk mengubah dan mendorong mereka bertaubat karena sebenarnya tidak ada yang salah dengan mereka.”
Ada lagi seorang jemaat bernama Tristan, ia memilih Gereja Komunitas Anugerah karena ia menyebutkan bahwa, “GKA menerima saya apa adanya tanpa ada embel-embel harus berubah.”
Ajaran Kristiani memang sudah seharusnya begitu. Merangkul tanpa banyak bertanya, menerima tanpa sibuk menuntut. Sebagai orang Kristen, wajib hukumnya untuk mencintai semua ciptaan-Nya tanpa syarat, seperti yang diajarkan oleh Yesus sendiri.
Memiliki identitas queer bukan berarti seseorang itu dihinggapi oleh virus. Sebuah penyakit bisa disembuhkan dengan obat, tetapi identitas dan jati diri manusia hanya bisa dipahami dan diterima.
Apakah arti menjadi manusia jika menghormati queer masih menjadi sebuah tugas yang berat?
Dan akhirnya, apakah berhak untuk menghakimi queer ketika Yesus Sang Hakim Sejati mau mengampuni dan mencintai semua manusia tanpa syarat? Layak kah sebagai sesama manusia hina dina ini menghujat dan mengukur dosa orang lain?
Mereka yang queer juga manusia, queer hadir tidak untuk dibeda-bedakan, queer adalah manusia yang mencari ketenangan batin dan rumah untuk menjadi diri sendiri tanpa takut untuk dihakimi.
Ketika diwawancarai oleh Retorika, baik F, Abe, maupun Eve berharap agar Gereja dapat lebih merangkul anggota yang datang dari latar belakang gender dan seksualitas yang lebih beragam, dan tidak mengurung diri pada heteronormativitas saja.
“Menurutku sebenarnya gereja itself itu harus kayak nambah reaching out. Misalnya lewat pemuda atau komunitas. Untuk reaching out people who live in marginal society,” ujar F.
“Hargai kita karena kita sama-sama manusia kita sama-sama apa ya, kita tuh kaya dipandang sama, sama Tuhan gitu loh,” pungkas Abe. “I hope para jemaat bisa mengambil artian lain dari saling memberi kasih ke sesama jemaat even though itu yang terpinggir.”
Eve pun mengamini. “Aku harap sih gereja bisa lebih menerima keberagaman orang gitu kan. Karena itu kan tidak menyakiti orang lain gitu loh.”
Jika kita kembali pada teologi Kristen, tercatat bahwa 2000 tahun yang lalu, seorang lelaki dari Nazaret pernah duduk makan bersama mereka yang terpinggirkan. Mantan tukang kayu itu melindungi seorang pelacur yang hampir dirajam batu, bicara penuh kasih pada pemungut cukai, menyampaikan kabar baik dan melakukan mujizat pada orang-orang Samaria dan asing yang dianggap tabu dan terhina.
Mungkinkah umat Kristen saat ini terlalu mengingat kedatangan Tuhan Yesus di Yohanes 3:16, sehingga melupakan Yohanes 3:17?
"Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia."
Referensi:
Redaksi. (2019, 16 Juli). 7 alasan mengapa LGBT diterima gereja. Sejuk.org. https://sejuk.org/2019/07/16/7-alasan-mengapa-lgbt-diterima-gereja/
Utami, Esti. (2021, 23 November). Jejak Stephen Suleeman: Pendeta yang melihat LGBT dari kacamata manusia. Konde.co. https://www.konde.co/2021/11/jejak-stephen-suleeman-pendeta-yang-melihat-lgbt-dari-kacamata-manusia/
Penulis: Naara Nava Athalia Lande & Annabel Hilary Michelle
Editor: Aveny Raisa
TAG: #agama #gender #kerakyatan #sosial
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua