» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Opini
Refleksi May Day: Pengkhianatan Forum dan Pengkhianatan Diri
05 Mei 2026 | Opini | Dibaca 67 kali
Pada hari Kamis, 30 April 2026, diadakan konsolidasi mendadak yang diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga yang membicarakan tentang titik aksi untuk demonstrasi buruh dan mahasiswa dalam rangka May Day atau Hari Buruh Internasional pada 1 Mei. Di dalam konsolidasi tersebut terdapat perbedaan pendapat yang pada akhirnya mengakibatkan pecahnya massa, hingga beberapa organisasi di luar BEM tidak turun untuk mengikuti aksi.

Kronologi 

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga mengirimkan surat undangan kepada beberapa organisasi atau jaringan yang ada di dalam dan di luar kampus pada Kamis (23/4/2026) untuk mengikuti konsolidasi keesokan harinya, yaitu tanggal 24 April. Organisasi yang diundang antara lain Konfederasi Kongres Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Jawa Timur, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) Surabaya, dan organisasi kecil lainnya. Ini merupakan konsolidasi pertama yang menggabungkan berbagai organisasi dan elemen-elemen masyarakat. Forum dijembatani oleh Senja, Presiden BEM Unair, dan membicarakan tentang tema besar, slogan yang akan digunakan dalam poster dan selebaran, nama front, juga penyusunan tuntutan. Beberapa kali terjadi perdebatan dan perbedaan pendapat, namun tetap menghasilkan kompromi yang dapat disepakati oleh kedua pihak. 

Pada konsolidasi pertama ini, telah sampai pada kesepakatan bahwa mahasiswa tidak akan menggunakan jas almamaternya pada aksi May Day nanti. Keputusan ini sudah disetujui oleh mayoritas di dalam konsolidasi tersebut. Tuntutan yang disusun bersama-sama juga telah disetujui secara bulat. Namun, terdapat ketidakjelasan mengenai titik aksi. Terdapat dua pilihan titik aksi, yaitu Grahadi dan DPRD Jawa Timur. Terdapat usulan untuk melakukan long march dari Kampus B Unair ke Grahadi yang lalu menjadi catatan untuk dibahas pada konsolidasi berikutnya. Forum telah menyepakati konsolidasi bersama lagi pada Senin, 27 April 2026. 

Konsolidasi kedua tidak seramai konsolidasi sebelumnya, namun tetap didatangi oleh beberapa perwakilan dari BEM Unair dan PPMI. Meski begitu, Presiden BEM Unair tidak datang untuk menjembatani, dan mayoritas anggota forum berasal dari organ-organ kecil. Pembahasan tentang titik aksi dilanjutkan yang pada akhirnya peserta forum menyetujui Grahadi sebagai titik aksi, dengan long march terlebih dahulu dari Kampus B Unair. Forum juga membahas tentang apa saja yang akan dilakukan di dalam aksi tersebut, salah satunya sepak bola jalanan dan orasi-orasi. Pada konsolidasi kedua juga terjadi pembahasan mengenai jalur mitigasi apabila terjadi kekacauan. Telah dibahas hal-hal seperti tempat parkir yang aman di sekitar Grahadi dan jalanan-jalanan yang sebaiknya dihindari. Organisasi-organisasi kecil setelah itu mempersiapkan internalnya untuk melakukan aksi di Gedung Grahadi. 

Keesokan harinya, 28 April 2026, BEM Unair mengadakan konsolidasi internal khusus mahasiswa Unair. Pada konsolidasi ini, BEM Unair memutuskan bahwa mahasiswa akan menggunakan jas almamater saat aksi. Selain itu, dikabarkan bahwa terdapat pergantian di dalam tuntutan yang telah dibuat bersama-sama dengan organisasi-organisasi di luar BEM. 

Lalu, BEM Unair menerima informasi dari KASBI bahwa aksi akan dilakukan di DPRD Jawa Timur. Namun, informasi tersebut baru tersampaikan kepada organisasi di luar BEM pada 30 April 2026, satu hari sebelum May day. Karena itu, konsolidasi yang pada awalnya direncanakan hanya dilakukan dua kali pun diadakan lagi sebab terdapat informasi baru. 

Konsolidasi ketiga ini mengajak kembali organisasi-organisasi yang telah datang pada konsolidasi sebelum-sebelumnya. Senja selaku Presiden BEM Unair kembali sebagai moderator forum. Senja dan perwakilan KASBI menjelaskan bahwa penetapan titik aksi di DPRD Jawa Timur tidak tanpa alasan, melainkan mereka telah mengirimkan undangan untuk anggota DPRD supaya bisa


menemui langsung massa aksi di depan Gedung DPRD. Miskomunikasi pun terjadi dengan organ-organ kecil yang tidak tahu-menahu tentang rencana KASBI mengundang anggota DPRD untuk berdialog bersama. Oleh karena itu, organ-organ di luar BEM dan KASBI yang sebelumnya menyepakati Grahadi sebagai lokasi titik aksi beranggapan bahwa KASBI dan BEM Unair telah melenceng dan mengkhianati kesepakatan forum. 

Kesepakatan berpakaian mahasiswa yang berubah dari rencana awal untuk melepas jas almamater melenceng dari kesepakatan awal yang telah dibuat pada konsolidasi pertama. Alasan utama wacana melepas jas almamater pada konsolidasi pertama adalah supaya mahasiswa dan buruh melebur menjadi satu tanpa atribut yang membedakan. Keputusan untuk menggunakan jas almamater dianggap menciptakan pembatas antara mahasiswa dengan buruh.  

Selain itu, salah satu Menteri BEM Unair menyampaikan pernyataan yang problematik dan memberikan kesan elitis saat menjawab salah satu pertanyaan anggota forum. Ia mengatakan bahwa konsolidasi yang menyepakati tentang pakaian dan tuntutan merupakan konsolidasi internal aliansi mahasiswa Unair, dan bahwa penanya bukan bagian dari mahasiswa Unair. Hal ini memberikan kesan bahwa keputusan akhir bukan hasil dari konsolidasi bersama, melainkan ada di tangan BEM Unair. Walaupun BEM Unair mengundang kembali organisasi-organisasi kecil tersebut untuk menyampaikan adanya perubahan, penjelasan dari pihak mahasiswa Unair tidak ada yang menjawab pertanyaan dari organ-organ kecil, juga pada akhirnya terkesan menutup diri.  

Anggota forum juga memperdebatkan terkait keamanan titik aksi di DPRD Jawa Timur. Sebelumnya, organisasi-organisasi kecil yang menyepakati titik aksi di Grahadi telah membuat rencana mitigasi. Namun, perubahan mendadak mengenai titik aksi membuat mereka harus merencanakan ulang yang telah didiskusikan. Selain itu, telah disepakati pada konsolidasi pertama bahwa hanya akan ada dua kali konsolidasi, yakni pada 24 dan 27 April, memberikan waktu beberapa hari bagi organ-organ kecil berkoordinasi dengan internalnya masing-masing. Jika perlu diadakan konsolidasi untuk ketiga kalinya, itu untuk membahas teknis lapangan secara lebih lanjut, bukan untuk berdiskusi ulang mengenai titik aksi. 

Adanya miskomunikasi, hal-hal yang tidak sesuai dengan kesepakatan, pertanyaan-pertanyaan yang kurang menjawab, dan mahasiswa UNAIR yang mencerminkan sifat elitis akhirnya mengakibatkan konflik horizontal. Ini yang mengakibatkan PPMI Surabaya dan Paramedis Jalanan Surabaya akhirnya memutuskan untuk tidak turun aksi. 

 

Rilis Pernyataan Sikap

Pada 1 Mei 2026, PPMI Surabaya dan Paramedis Jalanan Surabaya pada akun Instagram @persma.suroboyo mengeluarkan pernyataan sikap menanggapi segala hal yang dinilai bertentangan dengan hasil dari konsolidasi yang terjadi sebelumnya. Beberapa poin penting seperti pengkhianatan terhadap kesepakatan forum, inklusivitas, juga perpecahan horizontal ditulis sebagai respons akan hasil dari konsolidasi ketiga. Pernyataan sikap ditutup dengan keterangan bahwa PPMI Surabaya dan Paramedis Jalanan Surabaya tidak membersamai aksi May Day ini karena perubahan titik aksi juga orientasi yang dinilai rancu.

Menanggapi hal tersebut, BEM Unair pada akun Instagramnya (@bem_unair) mengeluarkan rilis pers yang membahas Kongres Aliansi Serikat Buruh dengan beberapa BEM di Surabaya. Rilis Pers ini berisi tentang kronologi perubahan titik aksi, di mana dalam rapat internal BEM Unair, disepakati bahwa titik aksi berada di DPRD Jatim mengikuti KASBI. Lalu konsolidasi pada 30 Mei dilakukan agar seluruh organ mengetahui perubahan titik aksi tersebut.

Dari dua pernyataan tersebut, terlihat adanya problem utama miskomunikasi juga informasi yang mendadak. Keputusan yang diambil BEM dan KASBI dinilai bersifat sepihak dan mengesampingkan kehadiran organisasi lainnya yang menyebabkan beberapa organ memutuskan untuk tidak turun aksi pada May Day. 

Senja, Presiden BEM Unair, menjelaskan peristiwa ini.

“Mengenai konsolidasi tanggal 30, jadi gini, kami kan kalau dari Unair, itu kan pada akhirnya mau bersama KASBI. KASBI waktu itu menghubungi kami, pada akhirnya kami jadinya di DPRD Jatim. Akhirnya karena organ-organ ini belum tahu yang lain, akhirnya kami kumpulkan lagi organ-organnya. Karena takutnya nanti malah jadi chaos, tiba-tiba KASBI ke DPRD, yang lain ke Grahadi, kan mecah dua tuh,” ujarnya saat ditemui pada aksi May Day (1/5/26).

Lalu Senja menambahkan statement yang membahas adanya orientasi kepentingan BEM Unair.

“Cuman gini ya teman-teman ya, Unair tidak ada kepentingan apa pun. Unair di sini, May Day, Hari Buruh, membersamai kawan-kawan KASBI. Ketika KASBI sudah fiks di DPRD, kami membersamai KASBI.”

Pelaksanaan aksi dihadiri berbagai elemen massa, dari mahasiswa sampai serikat buruh. Aksi terbilang kondusif dan beberapa aspirasi tersampaikan langsung pada anggota dewan yang menemui massa aksi. Tidak ada kericuhan selama aksi berlangsung, namun terdapat beberapa miskomunikasi antarkorlap, terkait mobilisasi antarmahasiswa dan buruh yang dinilai kurang efektif.

 

Sebuah Refleksi

May Day bukanlah sebuah perayaan, namun peringatan akan kekerasan dan ketimpangan yang selama ini dialami buruh. May Day adalah bentuk solidaritas pada kelas pekerja, yang selama ini selalu dikuras dan ditindas oleh kaum kapitalis. Penulis merasa perlunya sebuah refleksi dalam setiap gerakan yang seharusnya bersifat organik, terutama aksi May Day ini. Tentang bagaimana orientasi masyarakat umum (nonaktivis) melihat demonstrasi sebatas kekacauan yang menimbulkan kegelisahan masyarakat itu sendiri, padahal seharusnya menjadi panggung untuk semua masyarakat sipil berekspresi—bukan hanya panggung orasi bagi mahasiswa, atau organisasi lainnya. Refleksi ini akan dibagi menjadi refleksi dalam persiapan (internal), dan refleksi pascademonstrasi yang berfokus pada massa aksi dan masyarakat secara keseluruhan.

 

Menuju Pergerakan

Penjelasan akan kronologi di atas memerlukan sebuah refleksi yang bersifat terbuka untuk kegiatan selanjutnya, tidak hanya bagi internal pelaksana, atau hanya mahasiswa, tapi bagi sesama masyarakat sipil. Keputusan yang bersifat eksklusif memiliki dampak yang cukup terasa, ketika beberapa organ merasa membuang waktunya dalam setiap forum karena kehadiran keputusan yang diambil dari forum internal BEM saja, hal ini memutuskan kepercayaan sesama masyarakat sipil. Perbedaan pendapat memang selalu terjadi, namun pada akhirnya pihak yang paling dirugikan adalah organ dalam gerakan horizontal itu sendiri. Ketika sebuah forum organik tiba-tiba memiliki hierarki tertinggi dalam pengambilan keputusan, dan mengesampingkan suara bulat yang telah disepakati secara keseluruhan, hal tersebut telah mencederai forum itu sendiri. 

Seperti bagaimana keputusan dalam menggunakan almet, pada forum pertama telah disepakati mahasiswa akan melebur dengan tidak membawa nama kampusnya, sedangkan untuk masalah keamanan akan dengan penggunaan pita. Namun pada konsolidasi terakhir, terjadi keputusan mendadak tentang penggunaan almet yang diperbolehkan pada aksi. Sebenarnya hari buruh adalah milik bersama, sementara almamater terasa menghadirkan sekat antara orang yang “tak beralmet” dan almet itu sendiri. Keputusan penggunaan almet ini terkesan mengingkari kesepakatan bersama juga menghadirkan pembatas itu sendiri. Aksi May Day seharusnya diperingati oleh banyak kelas pekerja, tidak hanya orang yang tergabung dengan serikat buruh, pun dengan mahasiswa. Hal ini bisa menjadi refleksi tentang seharusnya memperingati May Day adalah dengan menggandeng orang banyak, dengan rasa aman dan rasa didengar sehingga May Day menjadi peringatan yang berarti bagi banyak orang, tidak hanya soal tanggal merah, ataupun panggung orasi bagi segelintir orang. 

Perjuangan tetaplah perjuangan, namun apa salahnya membuat perjuangan yang menggandeng banyak elemen tanpa menimbulkan sekat antara yang muda dan tua, yang berkuliah dan tidak, yang kaya dan miskin, serta stereotipe lainnya. Melepas almet adalah sebuah langkah kecil akan bentuk solidaritas itu sendiri, di mana mahasiswa hadir sebagai bagian dari masyarakat, dan tidak menggandeng nama “mahasiswa” itu sendiri. Refleksi ini penting untuk menepati janji forum kedepannya, tentang juga penghapusan hierarki dalam setiap forum yang orientasinya ingin menggandeng banyak massa.

 

Dari Luar: Kesadaran Dalam Diri dan Evaluasi Pribadi

Sebuah ironi ketika mahasiswa hadir sebagai speaker nirempati dalam forum yang menghadirkan dewan dan rakyat dalam satu lingkaran. Pada dasarnya, forum ini haruslah digunakan sebaik mungkin dan seefektif mungkin. Penyampaian aspirasi seharusnya tidak disesali dengan penggunaan kata kotor atau penyelaan pada candaan seksisme. Secara sadar memang ini semua kembali kepada individu masing masing, namun demikianlah juga menjadi refleksi secara bersama. 

Penulis menemukan dunia kontradiktif ketika massa membuang sampah sembarangan, di samping itu terdapat poster yang bertulis “Lindungi Pekerja Garis Depan dalam Sistem Pengelolaan Sampah”, lantas poster ini menjadi sampah yang harus dibersihkan oleh petugas kebersihan. Sebuah refleksi tentang apa yang sedang diperjuangkan saat demonstrasi haruslah satu arah dengan apa yang menjadi perilaku mereka. Petugas Kebersihan juga seorang buruh, poster itu membahas pengelolaan sampah, namun demonstran justru mencederai tuntutan itu dengan menimbulkan tumpukan sampah yang harus dibersihkan oleh sesama buruh. Lantas sebenarnya hari buruh ini untuk siapa?

 

Kesimpulan Tanpa Kesempurnaan

Tidak ada kesempurnaan, atau rasa paling benar dalam tulisan ini. Namun perlulah menjadi sebuah refleksi untuk kedepannya, janganlah Hari Buruh hadir sebagai euforia satu hari tanpa adanya perbaikan. Kurang dan lebih tulisan ini hadir sebagai refleksi dalam diri pembaca yang lain, sepenuhnya kesadaran untuk bersolidaritas tidak hanya datang pada 1 Mei saja, tetapi harus disuarakan kapan saja, di mana saja, dan oleh siapa saja, tanpa sekat!

 

Penulis: Teresa Diannusa, Prana Meutia

Editor: Febriana Rahma Sari


TAG#bem  #demonstrasi  #gagasan  #politik