
Sampaikan lima tuntutan utama, BEM SI Jatim menginisiasi demonstrasi bertajuk De(ad)mokrasi Indonesia II di depan Gedung DPRD Jawa Timur. Musyafak Rouf sempat menemui massa di luar gedung, tetapi masuk kembali tanpa memberikan pernyataan. Aksi kemudian diakhiri dengan pernyataan sikap oleh BEM SI Jatim.
Retorika.id - Demonstrasi De(ad)mokrasi Indonesia II diselenggarakan di depan kantor DPRD Jatim pada Rabu (11/2/25). Massa merupakan gabungan dari Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jawa Timur. Terdapat lima tuntutan utama yang dibawakan, yakni terkait penonaktifan status penerima PBI BPJS, pemilihan kepala daerah oleh DPRD, isu pengangkatan pegawai SPGG menjadi ASN, deforestasi Indonesia yang semakin merajalela, serta perihal penangkapan serta kriminalisasi warga sipil pasca aksi akhir Agustus 2025 lalu.
Massa aksi mulai bergerak menuju kantor DPRD Provinsi Jatim pada 13.33 WIB. Di sepanjang gerbang pintu masuk telah terpasang kawat berduri. Aparat kepolisian juga terlihat berjaga di sekitar halaman kantor. Lalu, di sebelah kiri gedung, terparkir satu mobil water canon milik pihak kepolisian.
Rizqi Senja Virawan, selaku koordinator lapangan, menjelaskan bahwa tuntutan utama berbicara tentang lambatnya gerak pemerintah dalam mengatasi isu penonaktifan PBI BPJS.
“Walaupun pada akhirnya pemerintah dan DPR
sudah sepakat untuk me-reaktivasi, tetapi jangka waktunya adalah tiga bulan. Dan itu kami rasa sangat lama, ya, untuk keadaan kesehatan hari ini. karena memang pada dasarnya kesehatan butuhnya real-time, kita tidak bisa menunggu. Dan ketika misalnya tiga bulan dibayarkan oleh pemerintah, lalu setelahnya bagaimana?“ Ujarnya.
Menurutnya, ini adalah kesalahan pemerintah sendiri yang pada akhirnya dilimpahkan ke rakyat.
Aksi diwarnai dengan orasi, beberapa nyanyian lagu perjuangan, seperti “Buruh Tani”, “Darah Juang”, “Hymne Guru”, dan juga syair seperti “Bunga dan Tembok” oleh Wiji Thukul. Beberapa kali, massa meneriakan ‘keluar, keluar, keluar, …’—menuntut keluarnya ketua DPRD Jatim beserta jajarannya untuk berdiskusi dan mendengarkan aspirasi rakyat.
Anggun Zifa Anindia, Presiden BEM Unair periode 2025–2026, turut hadir dalam aksi. Dalam orasinya, Ia menyatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, kejahatan-kejahatan dari para penguasa semakin merajalela.
“Melihat Indonesia yang katanya diimpikan untuk menjadi Indonesia Emas 2045, itu rasanya mustahil, kawan-kawan,“ tuturnya dalam orasi.
Pukul 14.52 WIB, Muhammad Musyafak Rouf, selaku Ketua DPRD Jatim, keluar dari gedung dan berdiri di balik kawat berduri. Mahasiswa kemudian mengajaknya naik ke atas mobil komando untuk memberikan pernyataan. Tanpa mengiyakan permintaan, Ia mulai membaca selembar pernyataan. Massa kemudian mencoba menghentikan dan kembali memintanya untuk berdiri di antara kerumunan mahasiswa. Ajakan itu diresponnya dengan, “Saya di sana itu kamu suruh apa?” Meski massa berkomitmen akan menjaga suasana tetap tertib, Ia masih menolak untuk melangkahi kawat duri yang telah dibukakan oleh mahasiswa.
Desakan untuk membuka ruang diskusi antara DPRD dan demonstran terus dilontarkan. Namun, pada pukul 15.06 WIB, Musyafak Rouf serta jajarannya memutuskan untuk masuk ke dalam gedung dan kembali menutup gerbang. Hal ini menimbulkan amarah dan kekecewaan dari demonstran yang tergambar dalam aksi lempar sampah dan barang lainnya ke arah dalam gedung DPRD. Mereka menyebut tindakan tersebut sebagai “hadiah” untuk jajaran DPRD dan aparat keamanan karena ketidaksiapan mereka dalam menampung aspirasi rakyat.
Selang 15 menit, demonstran berhasil melangkahi kawat berduri dan duduk di depan gerbang, menunggu kembalinya pimpinan DPRD. Waktu terus berlalu, pada pukul 15.46 aliansi BEM SI Jawa Timur memutuskan untuk menutup aksi dengan membacakan pernyataan sikap yang berisi tuntutan utama dan tuntutan turunan pada aksi demonstrasi kali ini.
“Ketua DPRD Jatim takut dan kembali kedalam menolak tuntutan kita, maka dari itu kami masyarakat Jawa Timur menyatakan sikap bahwasanya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah terbukti tidak benar-benar berpihak kepada rakyat,” ungkap Muhammad Aqomaddin, koordinator BEM SI Jatim, dalam pernyataan sikap.
Pada akhirnya, demonstrasi ditutup dengan menyanyikan lagu “Hymne Guru” sebagai bentuk penghormatan terhadap guru honorer.
Penulis: Claudya Liana Morizza, Teresa Diannusa
Editor: Istiana Wahyu Dewi
TAG: #aspirasi #beasiswa #demonstrasi #pemerintahan
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua