» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Mild Report
Brutalitas Aparat Kembali Mengorbankan Sipil Lewat Tuduhan Es Gabus Tak Berdasar
30 Januari 2026 | Mild Report | Dibaca 255 kali
Video yang memperlihatkan intimidasi aparat terhadap kakek penjual es gabus mendadak viral dan memicu kemarahan publik. Dalam rekaman itu, aparat terdengar melontarkan ancaman kasar, “Makan nih. Habisin dan telen. Yang modar biar kamu, ya,” saat memaksa korban membuktikan tuduhan es berbahan spons. Insiden ini berujung permintaan maaf setelah tuduhan tersebut terbukti keliru.

Retorika.id - Sebuah video yang diunggah pada Selasa (27/1/2026) memperlihatkan dua aparat TNI POLRI dan seorang kakek penjual es gabus, Sudrajat. Kakek Sudrajat diketahui merupakan pedagang kecil yang telah lama berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, alih-alih mendapatkan perlindungan, ia justru menjadi sasaran tuduhan sepihak oleh aparat. Dalam video yang beredar luas, aparat tampak memeras, membakar, dan memaksa sang kakek untuk mencicipi dagangannya sendiri sebagai pembuktian di tempat, tanpa adanya dasar ilmiah maupun prosedur yang sah.

Belakangan, tuduhan tersebut terbukti keliru. Hasil pemeriksaan laboratorium dari pihak berwenang menyatakan bahwa es gabus yang dijual Sudrajat aman untuk dikonsumsi dan tidak mengandung bahan spons sebagaimana yang telah dituduhkan sebelumnya. Aparat yang terlibat pun akhirnya menyampaikan permintaan maaf, mereka mengaku terlalu cepat mengambil kesimpulan.

Namun, bagi publik, permintaan maaf tersebut belum


sebanding dengan dampak yang dialami langsung oleh korban. Pasalnya, selain intimidasi verbal, Sudrajat juga sempat mengalami perlakuan kekerasan fisik. Berdasarkan penelusuran sejumlah media dan kesaksian yang beredar, sang kakek diduga sempat ditonjok, ditendang, bahkan disabet menggunakan selang. Fakta ini memperparah kemarahan masyarakat, kemudian memperluas tuntutan agar kasus ini tidak berhenti pada klarifikasi semata.

Reaksi publik atas kasus ini sangat masif, terutama di media sosial. Warganet menilai tindakan aparat sebagai bentuk penyalahgunaan kekuasaan terhadap warga sipil yang berada dalam posisi lemah. Banyak yang menyoroti ketimpangan relasi kuasa antara aparat bersenjata dengan seorang pedagang lansia yang tidak memiliki kemampuan membela diri.

Di platform X, salah satu akun menilai tindakan aparat sebagai contoh nyata penyalahgunaan kekuasaan yang dilakukan tanpa empati dan prosedur hukum yang benar. Sementara itu, akun lainnya menegaskan bahwa permintaan maaf dari pihak aparat tetap tidak dapat menghapus fakta adanya intimidasi dan tindak kekerasan, serta mendesak agar aparat yang terlibat diberikan sanksi tegas, bukan sekadar teguran moral.

Narasi yang berkembang di ruang publik menunjukkan satu kesimpulan yang kuat, yaitu jika kasus ini tidak viral, besar kemungkinan perlakuan tidak adil terhadap sang kakek Sudrajat akan berlalu tanpa pertanggungjawaban apa pun.

Gelombang kemarahan publik menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi menoleransi tindakan sewenang-wenang, meskipun dilakukan atas dasar pemberian edukasi ataupun demi keamanan publik. Kini, publik menanti langkah konkret dari institusi terkait. Bukan hanya permintaan maaf, tetapi juga evaluasi menyeluruh hingga sanksi tegas sebagai bentuk pertanggungjawaban dan upaya mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan.

 

Referensi:

https://www.detik.com/jatim/berita/d-8327742/aparat-yang-viral-tuding-kakek-penjual-es-jadul-berbahan-spons-minta-maaf

https://www.detik.com/jatim/berita/d-8326421/viral-aparat-tuduh-kakek-penjual-es-berbahan-spons-ternyata-tak-terbukti

https://bogor.pojoksatu.id/kabupaten-bogor/1157118826/miris-penjual-es-gabus-yang-viral-ternyata-sempat-ditonjok-ditendang-hingga-disabet-menggunakan-selang?page=2

 

Penulis: Az Zahra Ailsa

Editor: Salwa Nurmedina Prasanti


TAG#aspirasi  #pemerintahan  #sosial  #wong-cilik