» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Pop Culture
Film “Agak Laen: Menyala Pantiku!” Sukses Dobrak Pakem Komedi Arus Utama Indonesia
10 Januari 2026 | Pop Culture | Dibaca 21 kali
Di Luar Pakem Arus Utama, “Agak Laen: Menyala Pantiku!” Suguhkan Komedi Cerdas yang Bernyal: - Foto: Imdb.com
Di saat layar bioskop Indonesia dipenuhi film dengan pola klise yang itu-itu saja, “Agak Laen: Menyala Pantiku!” datang dengan konsep dan gebrakan yang berbeda. Alih-alih mengikuti komedi arus utama, film ini mengangkat komedi absurd dengan sentuhan kriminal dan memilih panti jompo sebagai latar utama. Pilihan yang terdengar unik dan tak lazim, tapi justru membawa “Agak Laen” menjadi salah satu film yang paling banyak dibicarakan dan ditonton.

Retorika.id - Film "Agak Laen" hadir kembali dengan suasana baru melalui sekuel “Agak Laen: Menyala Pantiku!”, bukan sebagai sekuel yang melanjutkan cerita lama, melainkan sebagai kisah baru dari kelakuan empat sekawan Boris, Oki, Bene, dan Jegel. Dilansir dari akun Instagram @imajinari.id, per 6 Januari 2026, film ini telah meraih lebih dari 10,5 juta penonton, menjadikannya film terlaris di Indonesia setelah berhasil menggeser Jumbo dan KKN Desa Penari.

Keberhasilan ini tidak datang begitu saja, melainkan menjadi buah dari keberanian film ini mengangkat alur yang unik dan nyentrik di tengah dominasi film horor klise yang kerap terasa berlebihan di layar Indonesia. “Agak Laen: Menyala Pantiku!” sekaligus menjawab pertanyaan mengapa komedi yang berbeda justru mampu menang besar dan diterima luas oleh penonton.

Latar yang Tak Umum Digunakan dalam Alur Komedi-Kriminal

Ketika mendengar istilah panti jompo, stigma tertentu kerap langsung melekat di benak banyak orang,


mulai dari anggapan anak durhaka yang enggan merawat orang tua hingga pandangan ekstrem bahwa panti jompo adalah tempat “membuang” lansia. Padahal, yang sering terlewat ialah realitas dan perasaan para lansia itu sendiri. Dalam sebuah podcast bersama Raditya Dika, Jegel menyampaikan bahwa pemilihan latar panti jompo bertujuan untuk menunjukkan sisi lain dari ruang tersebut.

Selama proses syuting film kedua Agak Laen, para pembuat film dan pemerannya mendapati bahwa lansia yang tinggal di panti jompo tidak sepenuhnya ditelantarkan oleh keluarganya. Setiap individu memiliki cerita masing-masing, mulai dari keinginan untuk tidak merepotkan anak hingga rasa kesepian apabila harus tinggal sendirian di rumah. Di panti jompo, mereka justru tetap dirawat dan memiliki teman sebaya untuk berbagi waktu dan cerita.

Latar ini memang jarang digunakan dalam film komedi, terlebih komedi kriminal yang nyentrik. Namun, justru di situlah titik keberanian film ini. Meski terbilang berisiko, para pembuatnya berupaya mengemas komedi sekaligus pesan dengan matang. Dan kabar baiknya, niat tersebut berhasil sampai dan diterima oleh penonton.

Aspek Empatik dalam Punchline dan Komedi

Berbeda dengan film komedi yang mengandalkan lelucon instan hingga berpotensi merendahkan subjek atau komunitas tertentu, “Agak Laen: Menyala Pantiku!” menghadirkan humor yang lahir dari dinamika karakter yang kompleks. Setiap tokoh memiliki latar masalah masing-masing dan bertemu dalam satu ruang yang sama, yakni panti jompo, tempat mereka menjalankan misi yang kemudian membentuk ikatan emosional yang terasa absurd sekaligus nyata.

Para lansia dalam film ini juga dihadirkan dengan pendekatan yang empatik. Meski berada di tengah misi para tokoh utama, sistem dan kehidupan panti jompo digambarkan dengan cara yang memanusiakan para lansia sebagai individu utuh, bukan sosok tak berdaya seperti yang kerap dibayangkan. Panti jompo justru tampil sebagai ruang hidup yang hangat, lengkap dengan berbagai aktivitas seperti senam pagi, lomba 17-an, hingga party jompo.

Humor pun terbentuk dari perilaku absurd para pemeran, bukan dari upaya merendahkan siapa pun. Inilah yang menjadi kekuatan sekaligus keunikan “Agak Laen: Menyala Pantiku!”, sesuatu yang masih jarang ditemukan di layar kaca Indonesia. Strategi word of mouth juga bekerja sangat efektif, lamanya film ini bertahan di bioskop menjadi bukti antusiasme penonton, bahkan tak sedikit yang mengaku menontonnya lebih dari satu kali.

Pada akhirnya, “Agak Laen: Menyala Pantiku!” membuktikan bahwa film yang berani keluar dari zona aman, formula umum, dan klise yang sudah mapan tetap memiliki peluang besar untuk merebut perhatian publik. Layar lebar Indonesia dapat terus hidup melalui inovasi-inovasi yang segar dan berani, yang kelak akan diteruskan oleh generasi muda. Oleh karena itu, sebagai generasi muda, keberanian untuk menawarkan cerita yang jujur, empatik, dan berbeda menjadi kunci agar industri film Indonesia tidak berhenti pada pola yang itu-itu saja.

 

Penulis: Alia Mutiara Salsabila

Editor: Najma Tsabita


TAG#film  #seni  #sosial  #