» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 081281600703.

Mild Report
Mengenal Partai Hijau Indonesia
20 November 2018 | Mild Report | Dibaca 653 kali
PHI: - Foto: Geotimes
Partai Hijau Indonesia (PHI) merupakan gerakan yang hadir dalam merespon rendahnya perhatian tentang isu lingkungan di Indonesia, di mana isu tentang lingkungan juga berkaitan erat dengan interaksi ekonomi dan politik di Indonesia. Sehingga tidak mengheran ketika negeri ini seringkali dilanda bencana banjir di daerah-daerah pembangunan.

retorika.id (20/11) Rendahnya isu tentang lingkungan di Indonesia menyebabkan terbentuknya suatu gerakan yang mengatasnamakan partai dan memiliki misi yang mulia. Partai tersebut adalah Partai Hijau Indonesia (PHI) yang berdiri pada tanggal 5 Juni 2012 (hukumonline 2014). Rendahnya isu tentang lingkungan berkaitan erat dengan interaksi ekonomi dan politik di Indonesia. Hal itu disebabkan program pemerintah hanya mengedepankan pembangunan ekonomi yang ditunjukkan dengan pemberian izin pengusaha untuk membangun propertinya. Pembangunan ini memiliki kecenderungan mengabaikan sisi lingkungan, seperti perhatian mengenai pembuatan drainase. Tidak heran ketika negeri ini seringkali dilanda bencana banjir di daerah-daerah pembangunan. Sehingga, pembangunan di negeri ini tidak diiringi dengan kepekaan terhadap pelestarian lingkungan. Partai Hijau Indonesia (PHI) hadir untuk membantu menyelesaikan permasalahan lingkungan yang terjadi di Indonesia.

 

Latar Belakang Pembentukan Partai Hijau Indonesia

PHI, sebelum eksis dan masih merintis pada masa sekarang, tahun 2018, memiliki sejarah yang cukup panjang di belakangnya. Semua itu dimulai tahun 1970-an ketika era pembangunan di Indonesia oleh pemerintah Orde Baru gencar dilaksanankan. Pemerintah memulai pembangunan dengan berbagai upaya, salah satunya membuka keran modal luar negeri. Banyak selingan di sana, pembangunan itu, mulai dari Perisitiwa Malari, praktik korupsi yang menggurita, hingga pejabat militer yang nyaman menjabat. Tetapi, ada sebagian masyarakat sadar bahwa pembangunan kita salah arah.

Pada tahun 1980-an kesadaran itu berbuah, namanya

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

Bina Desa dan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). Keduanya merespon pembangunan yang lebih memprioritaskan pertumbuhan ketimbang pemerataan. Khusus nama terakhir, mereka juga menyoroti dampak ekologis dari pembangunan yang merusak lingkungan dan terus menggerus sumber daya alam Indonesia.

Singkat cerita lagi, setelah Presiden Soeharto turun takhta, kesempatan partai baru berdiri terbuka lebar. Walhi yang pada perkembangannya sadar bahwa diperlukan partai politik yang memiliki visi lingkungan, kemudian urung mendirikan partai politik impiannya. Di lain muka, pada tanggal 21 Oktober 1998, Dr. Rer. Nat. H. Widyatmoko (Dosen Fakultas Teknik Lingkungan Universitas Trisakti) dan Dr. Ir. Ign. Heruwasto (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) berupaya mendirikan Partai Hijau dan mendaftarkan partai tersebut untuk mengikuti Pemilu 1999. Tetapi usaha mereka gagal dikarenakan persyaratan tidak terpenuhi.

Setelah itu, Walhi membentuk Badan Pekerja Persiapan Pembangunan Organisasi Politik Kerakyatan (BP3OPK) pada 4 Maret 2005. Kemudian, Walhi membentuk organisasi massa, yaitu Sarekat Hijau Indonesia (SHI). Lalu, berkat perkawinan Walhi dan SHI, Partai Hijau Indonesia didirikan pada tahun 2012.

 

Karakteristik

PHI selanjutnya menjadi partai yang memiliki karakterisitik sendiri, baik dari kepemimpinan, struktur organisasi, hingga pendanaan. Dalam hal kepemimpinan, PHI tidak mengakui kepemimpinan tunggal yang kadang bertendensi mengkultuskan individu pemimpin. Mereka lebih memilih kepemimpinan bersama yaitu memakai konsep konvenor yang terdiri atas dua orang yaitu satu laki-laki dan satu perempuan. Kedua konvenor inilah yang diharapkan agar terjadi diskusi di antara keduanya. Pun fungsi keduanya hanya sebatas fasilitator dan koordinator (Muhammad dan Abraham 2016).

Perihal struktur organisasi, PHI menerapkan prinsip demokrasi patisipatoris, yaitu tidak terdapat jenjang birokrasi dalam organisasinya. Di dalam struktur organisasi PHI terdapat beberapa kelompok kerja (pokja) yang dibentuk sesuai dengan minat masing-masing. Sehingga, masing-masing pokja memiliki minat yang berbeda. Lalu, di dalam pokja tersebut setiap anggota memiliki kekuasaan yang sama dengan sesama anggota pokja.

Partai Hijau Indonesia merupakan partai yang tidak mengejar kekuasaan, namun lebih berusaha untuk mendorong pemberdayaan dan pemberian manfaat kepada masyarakat. Hal ini lah yang kemudian menjadikan PHI sebagai partai yang memiliki perspektif politik daya-guna. Secara lebih lanjut, PHI juga memegang enam prinsip politik yang merujuk pada Global Green Charter, antara lain: (1) keadilan sosial; (2) demokrasi akar-rumput; (3) keberlanjutan; (4) tanpa kekerasan; (5) kearifan ekologis; dan (6) penghormatan pada perbedaan.

 

Tantangan Partai Hijau Indonesia Ke Depan

Sebagai partai yang tidak memiliki ambisi akan kekuasaan, PHI memiliki fokus sendiri yang diharapkan dapat membuat perubahan di kancah nasional. Fokus utama PHI adalah untuk dapat berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan pemerintah, sehingga isu-isu lingkungan dapat memiliki tempat di kehidupan negara. Seperti yang sudah dijelaskan di pembukaan, pembangunan ekonomi kerap kali mengabaikan sisi lingkungan. Sehingga, keberadaan PHI dinilai penting bagi siapa saja yang ingin mendedikasikan diri terhadap penyelesaian masalah lingkungan di Indonesia.

Menurut Andrinof Chaniago, pengamat kebijakan publik, hal yang disayangkan adalah isu yang diusung PHI merupakan isu yang kurang populer di masyarakat. Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan yang masih tergolong rendah.

Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwasanya keberadaan PHI tetap lah penting. Walaupun di satu sisi isu lingkungan dianggap kurang begitu populer, di sisi lain PHI dapat menjadi pihak yang mengingatkan seluruh masyarakat bahwa persoalan lingkungan itu penting. Sehingga, isu yang kurang membumi tersebut bisa lebih tersosialisasikan agar masyarakat menengah ke bawah paham betapa mendesaknya perhatian terhadap persoalan lingkungan.

 

Penulis : R. Moch Khoiruddin, Nanda Pradina Putri, Raisa Akmalie, 

 

Referensi :

hukumonline. Partai Hijau Sulit Berkembang di Indonesia. 10 Februari 2014. http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt52f8c8b1ec17a/partai-hijau-sulit-berkembang-di-indonesia (diakses Mei 25, 2018).

Muhammad, John , dan Dian Abraham. "Lengan Politik Masyarakat Sipil": Pengalaman dan Ikhtiar Partai Hijau Indonesia. 5 October 2016. https://indoprogress.com/2016/10/lengan-politik-masyarakat-sipil-pengalaman-dan-ikhtiar-partai-hijau-indonesia/ (diakses Mei 25, 2018).

Partai Hijau Indonesia. Tentang Partai Hijau Indonesia. t.thn. http://www.hijau.org/tentang-partai-hijau-indonesia/ (diakses Mei 25, 2018).


TAG#aspirasi  #demokrasi  #ekonomi  #gagasan