» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 085850150198.

Mild Report
Mengingat Kembali Detik-Detik Jatuhnya Orde Baru
19 Mei 2018 | Mild Report | Dibaca 843 kali
Mengingat Kembali Detik-Detik Jatuhnya Orde Baru: - Foto: Muhammad Alfi Rahman
Hari ini (19/05), 20 tahun lalu perpolitikan Indonesia tengah berada di ujung tombak. Dinamika sosial politik dari masyarakat terus memojokkan Sang Smiling General, Soeharto, agar mundur dari singgasana yang telah lama ia duduki. Kali itu, sekali lagi api reformasi terpantik.

retorika.id - Ketika kita menilik beberapa fakta terkait dengan rezim Orde Baru tentunya hal pertama yang muncul di benak kita adalah mengenai keotoriteran rezim yang kala itu memegang kekuasaan atas dinamika pemerintahan di Indonesia. Dominasi negara yang seakan abosolut dimanifestasikan dalam gerakan pemerintahan yang sentralistik. Inilah yang kemudian menjadi aksen khas yang begitu melekat pada suasana kenegaraan pada masa itu. Hal ini tentunya berimplikasi kepada setiap aspek kehidupan bermasyarakat secara luas, mengingat kokohnya rezim Orde Baru itu sendiri yang kemudian baru ‘pamit’ setelah hampir 3 dekade lamanya menjadi tonggak kekuasaan tunggal di Indonesia.

Kokohnya rezim Orde Baru tidak dapat dipungkiri merupakan sebuah magnum opus atau mahakarya dari Soeharto. Dalam usaha untuk melanggengkan kekuasaanya, langkah-langkah seperti memeroleh simpati di muka dunia pada kontestasi revenew minyak sekitar tahun 1970 silam acap kali menjadi mobilisator yang

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

ia manfaatkan dalam bertahan di tengah berbagai macam hantaman politis yang mengarah kepadanya (Marijan, 2010). Terlepas dari hal tersebut, kesuksesan Soeharto dalam melibatkan unsur militer dalam siklus perpolitikan kala itu juga menjadi salah satu penjamin keberlangsungan rezim Orde Baru pada tatanan perpolitikan di Indonesia (Marijan, 2010).

Serangkaian pukulan demi pukulan yang mencederai nilai-nilai demokrasi seakan menyulut api reformasi yang kala itu kian membara. 

Hari ini (19/05), 20 tahun lalu perpolitikan Indonesia tengah berada di ujung tombak. Kala itu, setelah melakukan pertemuan dengan para pemuka agama dan jajaran tokoh masyarakat di Istana Merdeka, Soeharto tetap teguh dengan pendiriannya untuk tidak mundur dari posisinya sebagai presiden dan menginisiasi pembentukan Komite Reformasi yang berada dibawah kekuasaanya. Kali itu, sekali lagi api reformasi terpantik. Setelah tiga dekade lamanya menduduki posisi sebagai kepala pemerintahan dibawah naungan rezim Orde Baru, Soeharto belum bersedia memenuhi tuntutan rakyat untuk melepaskan jabatannya sebagai seorang presiden.

 

19 Mei 1998

Gencarnya Desakan Dalam Melaksanakan Sidang Istimewa

Memanasnya gejolak tuntutan masyarakat akan reformasi kala itu semakin gencar dilakukan. Masyarakat yang kala itu didominasi oleh para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta golongan pemuda dari berbagai latar belakang masih menduduki gedung MPR hingga malam hari. Tuntutan masyarakat masih sama, yaitu kepastian tentang pelaksanaan Sidang Istimewa yang menentukan masa depan Indonesia kedepannya. Aksi pemuda yang telah dimulai sejak 18 Mei 1998 itu pun berlangsung lancar dan sesuai rencana. Gelombang mahasiswa terus mengalir seiring berjalannya aksi.

 

Pernyataan Sikap Soeharto Dalam Menolak Tuntutan Rakyat

Soeharto pada akhirnya merespons tuntutan masyarakat dengan mengadakan pertemuan bersama para tokoh masyarakat dan pemuka agama di Istana Merdeka yang saat itu berlangsung hingga 2,5 jam. Pertemuan tersebut akhirnya menghasilkan beberapa keputusan. Beberapa diantaranya  adalah terkait dengan sikap Soeharto yang pada akhirnya menyatakan menyetujui mengundurkan diri secara konstitusional dengan mekanisme pergantian presiden dan wakil presiden tetap melalui Sidang Umum MPR. Keputusan lain juga berkaitan dengan sikap Soeharto yang pada akhirnya juga akan membentuk Komite Reformasi dan memimpin sendiri reformasi di berbagai bidang.

 

Referensi :

Marijan, Kacung. 2010. Sistem Politik Indonesia. Jakarta: Prenadamedia Group.

Kronik Reformasi. 19 Mei 1998: Soeharto Belum Mau Mundur dikutip dari laman https://tirto.id/19-mei-1998-soeharto-belum-mau-mundur-cKKb

Republika. 19 Mei 1998.

 

Penulis : Lalu Ary Kurniawan 


TAG#demokrasi  #humaniora  #pemerintahan  #politik