
[Tulisan ini telah diterbitkan dalam pamflet 29 September 2025] Seberapa kenal kamu dengan bapakmu sendiri? Aku pikir aku tahu segalanya. Sampai sebuah buku lusuh di laci meja kerjanya mengungkap sebuah kenangan yang seharusnya tak pernah diwariskan.
Aku pikir, akulah manusia yang paling kenal siapa bapak.
Figur bapak dalam bayanganku selalu terekam sempurna: bapak paling disiplin sedunia sekaligus ATM berjalanku. Pagi-pagi setelah subuh, dia selalu lari minimal lima kilometer, sarapan empat sehat lima sempurna sebelum jam sembilan pagi, dan selalu memenuhi apapun permintaanku, asal jelas fungsi dan kegunaannya. Laptop baru? Boleh. Les bahasa yang bahkan hanya kuikuti sebulan? Boleh. Uang jajan? Lebih dari cukup. Terlepas dari sifat tegasnya dan kebiasaannya menuntutku untuk selalu juara kelas, aku menyayangi bapak. Sangat.
Masuk kuliah, aku mulai bertemu orang-orang yang hobi membahas isu sosial-politik. Diskusi usai kelas, menonton film The Act of Killing, untuk kemudian membentuk forum refleksi. Semua orang serius, beberapa bahkan terisak. Aku hanya bisa geleng-geleng, aku tidak begitu mengerti apa yang ada di kepala mereka.
Pernah sekali aku dituding. Suatu sore setelah kerja kelompok di perpustakaan, seorang teman menghampiriku. Ia membawa selembar koran, yang entah ia dapat dari mana. Aku bahkan sudah tidak pernah
melihat loper koran sejak kecil. Ia menunjuk ujung kiri koran. Tentang Tragedi Semanggi I. “Bokap lo termasuk pelaku penembakan pas kerusuhan tahun itu, gak sih?” tanyanya dengan intimidatif.
Aku marah. Bingung harus menjawab apa. Aku segera meninggalkan perpustakaan dan pulang ke rumah.
Saat makan malam, aku bercerita ke bapak, sekaligus menanyakan kebenarannya. Bapak hanya terkekeh, menyeruput kopinya pelan. “Dulu situasinya rumit, kapan-kapan bapak ceritakan. Biarin aja temenmu itu, dia nggak tau apa-apa kok sembarang nge-judge kamu kayak begitu,” sahutnya santai.
Aku percaya, tersenyum lega mendengar jawaban bapak.
Tahun berikutnya adalah tahun yang tidak mudah untuk kami. Bapak jatuh sakit, kehilangan lebih dari separuh tenaganya untuk menjalankan agenda rutin kami: lari sore dan mengobrol santai sebelum tidur. Aku yang juga sering kelelahan belakangan ini, memutuskan tidak melanjutkan pembahasan pada waktu itu saat bapak bolak-balik dirawat di rumah sakit.
Sampai pada akhir bulan Agustus, hari yang tak kusangka akan tiba, hari dimana rumah mendadak jauh lebih ramai dari biasanya. Bau melati dan kapur barus menusuk indera penciumanku. Foto bapak terpajang besar di tengah ruang tamu, berhiaskan pita hitam di sudutnya. Rumah dipenuhi isak tangis, membuat dadaku semakin sesak. Aku terduduk kaku di ujung ruangan, rasanya tidak nyata sama sekali.
Dua pekan setelah pemakaman, aku memutuskan untuk membersihkan ruang kerja bapak. Mataku terpaku pada laci meja kayu di sana. Barang yang selalu bapak larang untuk kusentuh. Perlahan kutarik, dan hanya kutemukan satu buku lusuh di dalamnya, catatan tulisan tangan bapak.
Tanganku dingin, agak gemetar saat membuka halamannya.
13 September. 1998. Chaos. Pengamanan level merah. Perintah tembak peringatan. Atma Jaya. Steril massa. 18 orang.
Mataku membelalak membaca acak. Nafasku terengah-engah, seperti menempuh lima kilometer pertama bersama bapak. Kalimat itu berulang di banyak halaman. Sampai tengah malam, sampai rasanya perutku kosong. Nama-nama disebut. Jumlah. Bahkan detail jam berapa perintah tembak keluar. Berapa peluru. Ditulis seperti inventaris barang.
Aku duduk, tergugu. Buku di genggamanku terlepas. Rasanya seperti dikhianati. Memandang semua foto di ruang kerja bapak, penghargaannya, wibawa pada sorot matanya, semuanya terasa bohong. Air mataku jatuh tanpa sanggup kucegah. Bukan untukku. Bukan untuk bapak. Tapi untuk nama-nama dalam buku itu, nama-nama yang belakangan sering disebut teman-teman kampusku.
Dua jam tergugu, aku menutup buku itu. Tapi suara-suara di dalamnya tak pernah benar-benar bisa kututup. Kini, setiap kali orang menyebut nama bapak, aku tak lagi bisa hanya mengingat kebiasaan larinya, perhatiannya, tawanya, atau nada tegasnya saat aku gagal meraih nilai terbaik. Aku juga harus mengingat jerit massa dan angka-angka yang ditulis dingin di buku itu. Aku benci, karena aku tak bisa memilih kenangan mana yang harus kusimpan.
Sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, aku sekali lagi menatap senyum bapak dalam fotonya. Senyumnya masih sama. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku membalas senyum itu dengan rasa takut.
Penulis: Najma Tsabita
Editor: Hayuna Nisa
TAG: #politik #sejarah # #
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua