» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Opini
Kegagalan MBG yang Turut Menyumbang Emisi Karbon
06 November 2025 | Opini | Dibaca 265 kali
Sejumlah siswa menyantap menu makanan saat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di TK Kart: - Foto: Dedhez Anggara/ANTARA
Setiap piring makanan program Makan Bergizi Gratis yang digadang - gadang sebagai harapan solusi dari peningkatan gizi anak sekolah justru menimbulkan permasalahan baru. Di balik makanan yang tak dilahap hingga habis menyisakan jejak limbah pangan dan emisi karbon dalam jumlah yang terhitung besar sehingga menjadi suatu masalah tak terlihat yang beresiko mencemari lingkungan.

Retorika.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) diluncurkan oleh pemerintahan Prabowo-Gibran sebagai salah satu upaya utama untuk meningkatkan gizi anak sekolah di Indonesia. Tujuan utama program ini adalah agar anak-anak sekolah mendapatkan asupan makan yang bergizi dan diharapkan dapat menurunkan angka stunting, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta berkontribusi pada pembangunan nasional. Namun, meski tujuan yang dimiliki baik, nyatanya terdapat bukti kuat bahwa implementasi program tersebut masih bermasalah. Bukan hanya dari aspek kesehatan dan gizi, tetapi juga berdampak buruk terhadap lingkungan. Salah satu yang disoroti dalam artikel ini adalah dampak terhadap emisi karbon dan pembentukan limbah pangan akibat gagalnya pengelolaan makanan dan limbah, yang pada akhirnya memperburuk beban ekologis serta implikasi politik dan kebijakan yang lebih besar.

Beberapa riset dan liputan media mengungkap bahwa MBG masih dihadapkan dengan tantangan serius dalam hal indikator keberhasilan, mutu bahan pangan, dan pengelolaan pelaksanaan. Menurut pakar dari Universitas Gadjah Mada, Prof. Eni Harmayani, menyebutkan bahwa pengelolaan MBG, cara penyajian, standar nasional untuk menu makanan masih belum memiliki indikator yang jelas. Studi mengenai tantangan implementasi di Kabupaten Bandung Barat menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan besar antara tujuan kebijakan dan fakta lapangan, misalnya dalam kesiapan dapur, distribusi, dan kapasitas pengawasan. Di lain sisi, kasus keracunan massal mencapai angka lebih dari 4.000 siswa dalam kurun waktu delapan bulan terungkap akibat program MBG.

href="https://www.ums.ac.id/en/news/global-pulse/food-poisoning-in-mbg-carries-pain-beyond-the-data?utm_source=chatgpt.com">

Dari sudut lingkungan hidup, terungkap bahwa MBG berpotensi menghasilkan timbulan sampah organik dan emisi karbon yang tidak sedikit. Menurut analisis dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), program MBG dapat menghasilkan sampah organik sebesar 25-50 gram per porsi makan. Dengan 3,25 juta anak penerima, potensi timbulan sampah organik setiap hari bisa mencapai 81-162 ton. Dari sampah organik tersebut, diperkirakan emisi karbon dioksida ekuivalen diperkirakan mencapai 24-48 ton per hari. Jika dihitung dengan jumlah hari efektif sekolah (misalnya 256 hari), maka potensi emisi tahunan bisa lebih dari 6.000 ton CO? ekuivalen, dan bahkan potensi emisi tahunan dapat lebih tinggi jika memperhitungkapengelolaan limbah yang buruk. Menurut artikel di Tempo, dengan asumsi program dijalankan selama sekitar 200 hari sekolah dalam kurun waktu setahun, potensi emisi tahunan dapat mencapai hingga 25.500 sampai 51.000 ton.

Kasus keracunan dan munculnya limbah memperlihatkan kegagalan dalam tata kelola, standar operasional, pengawasan, dan manajemen rantai pasok makanan. Beberapa unit penyelenggara (SPPG) MBG tidak mematuhi SOP yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Penghentian sementara 112 dapur SPPG karena pelanggaran standar mengindikasikan adanya permasalahan struktural. Kritik dari kelompok masyarakat sipil turut timbul yang menyebutkan MBG “terbukti gagal memenuhi hak anak atas pangan bergizi, sehat dan aman,” sehingga muncul tuntutan untuk dilakukan evaluasi menyeluruh.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dilihat bahwa kegagalan dalam implementasi MBG berdampak terhadap lingkungan dan emisi karbon. Pemborosan pangan memperbesar timbulan limbah ketika makanan tidak habis dikonsumsi karena berbagai alasan. Akibatnya adalah sisa makanan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hingga menumpuk. Ketika limbah organik membusuk di lingkungan tanpa pengolahan yang tepat, selain menghasilkan metana (gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dari CO?) juga menghambat upaya pengelolaan sampah yang selama ini sudah menjadi tantangan di Indonesia.

Program ini juga belum memiliki standar pengelolaan limbah dan rantai pasok yang belum memadai mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan, distribusi ke sekolah, pengelolaan sisa makanan, serta pengelolaan kemasan dan limbahnya. Banyak SPPG belum memiliki sertifikat higiene dan sanitasi, atau belum menerapkan standar HACCP secara konsisten.Apabila pengelolaan pangan dan limbah diabaikan, tidak hanya aspek kesehatan yg terancam, tetapi juga aspek lingkungan. Makanan yang seharusnya disantap berubah menjadi limbah yang menghasilkan emisi dan karena skalanya besar (ribuan hingga jutaan porsi) maka dampaknya bisa signifikan. 

 

Referensi:

Adrian. (2025, September 18). Food poisoning in MBG carries pain beyond the data. Universitas Muhammadiyah Surakarta. https://www.ums.ac.id/en/news/global-pulse/food-poisoning-in-mbg-carries-pain-beyond-the-data?utm_source

Hasyim, I., & Wuragil, Z. (2025, January 14). Berapa Potensi Sampah dan Emisi Karbon dari Program MBG Prabowo? Ini Kalkulasi Walhi. Tempo. https://www.tempo.co/lingkungan/berapa-potensi-sampah-dan-emisi-karbon-dari-program-mbg-prabowo-ini-kalkulasi-walhi-1193832?utm_source

Ilmi, A. F. (2025, May 20). Jejak kerusakan ekologis program MBG Pemerintahan Prabowo-Gibran. LaporIklim. https://laporiklim.wargaberdaya.org/berita/jejak-kerusakan-ekologis-program-mbg-pemerintahan-prabowo-gibran/?utm_source

Nurfitra, L. B. T. (2025, October 21). Indonesia freezes 112 MBG kitchens amid food safety push. Antara News. https://en.antaranews.com/news/387205/indonesia-freezes-112-mbg-kitchens-amid-food-safety-push?utm_source

Sahal, U. (2025, October 27). Dari MBG ke Emisi: Ketika Nasi Sisa Jadi Masalah Iklim. Magdalene.co. https://magdalene.co/story/mbg-sampah-makanan-emisi-iklim/?utm_source

Salma. (2025, January 22). UGM Expert: Clear Indicators for MBG Program success needed. Universitas Gadjah Mada. https://ugm.ac.id/en/news/ugm-expert-clear-indicators-for-mbg-program-success-needed/?utm_source

 

Penulis: Azhra Naura

Editor: Hayuna Nisa

 


TAG#aspirasi  #kerakyatan  #lingkungan  #pemerintahan