
Hadir dengan balutan komedi gelap yang menyentil, “Tinggal Meninggal” besutan Kristo Immanuel sukses memberikan representasi neurodivergen di sinema tanah air, sekaligus membuka diskusi tentang kesadaran masyarakat Indonesia terhadap perbedaan.
Retorika.id - Pada tanggal 15 Agustus 2025 kemarin, Kristo Immanuel memulai debut sutradaranya dengan film “Tinggal Meninggal” di bioskop Indonesia. Berdurasi dua jam, film ini dibintangi oleh Omara Esteghlal yang berperan sebagai Gema, seorang pemuda canggung yang kesulitan untuk berinteraksi dengan orang-orang di kantornya yang sudah akrab dengan satu sama lain tanpa dirinya. Hal ini berubah ketika Ayahnya meninggal dunia. Untuk pertama kalinya, Gema mendapatkan berbagai perhatian dan afeksi yang selama ini tak pernah ia rasakan, dari rekan-rekannya di kantor. Namun, seiring berlalunya masa duka, empati dari orang-orang di sekitarnya perlahan memudar. Gema kembali merasa jauh dan hampa, perhatian dan afeksi tersebut merupakan kehangatan yang belum pernah Gema rasakan sebelumnya. Demi mendapatkannya kembali, Gema mulai berpikir “Siapa lagi yang harus meninggal?” yang membuatnya melakukan rangkaian kebohongan yang membawanya ke situasi kacau yang semakin sulit untuk dikendalikan.
Di awal promosi dan penayangannya, film ini mendapatkan respon positif karena idenya yang segar dan terkesan berbeda dari film-film Indonesia pada umumnya. Namun, sayangnya film ini hanya berhasil mendapatkan 184.960 penonton yang dianggap relatif
rendah. Hal ini diduga terjadi karena persaingan ketat dengan film lain yang sedang tayang yaitu “Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba Infinity Castle”. Terlepas dari itu, film ini berhasil mendapatkan banyak pengakuan dengan menjuarai 5 dari 6 nominasi di FFWI 2025 dan mendapatkan 5 penghargaan di JAFF Indonesian Screen Awards. Film ini juga mendapatkan 2 nominasi di Festival Film Bandung 2025 dan 2 nominasi di FFI 2025. Hal ini pun mengundang berbagai rasa penasaran dari orang-orang yang belum sempat untuk menontonnya karena sudah turun layar.
Akhirnya pada bulan Desember 2025, Netflix mengumumkan akan menayangkan film “Tinggal Meninggal” pada tanggal 1 Januari di platform mereka yang mendapatkan reaksi dari antusias baik dari yang sudah menonton maupun belum. Dan benar saja, setelah tayang di tahun baru, film ini menjadi topik diskursus yang ramai dibicarakan di media sosial, terlebih di aplikasi X. Semua orang memiliki tanggapan yang beragam, banyak yang menjadi penggemar dan ada juga yang kurang menyukainya. Namun ada satu topik yang hangat dibicarakan yaitu rasa malu ketika menonton film ini. Banyak yang mengaku bahwa mereka sampai harus memberhentikan filmnya sebentar karena tidak kuat melihat tindakan Gema yang dianggap memalukan.
Reaksi tersebut sebenarnya tidak aneh karena memang tindakan yang dilakukan Gema memang bertujuan untuk membuat penonton ikut waswas akan kebohongan yang dilakukan oleh Gema. Kristo Immanuel sebagai sutradara film ini sempat menyatakan bahwa film ini merupakan surat cinta untuk orang-orang neurodivergen dan agar orang-orang yang tidak seperti Gema bisa memahami isi pikiran dari orang yang sepertinya itu bagaimana. Neurodivergen adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan individu dengan fungsi otak yang berbeda dari apa yang dianggap tipikal.
Saat masih sekolah dasar, Gema diolok-olok oleh murid lain dengan sebutan “camen” atau cacat mental karena dirinya yang dianggap tidak bisa “nyambung” ketika berbicara dengan orang lain. Ditambah dengan absennya orang tua sebagai pendukung emosionalnya, Gema pun tumbuh menjadi seseorang yang terlepas dari realita dan seakan-akan memiliki dunia-nya sendiri dengan komat-kamit dan berbicara dengan dirinya sendiri.
Film ini berhasil menghadirkan tokoh Gema sebagai representasi neurodivergen yang selama ini jarang mendapatkan ruang di media Indonesia. Lewat cara berpikir, berbicara, dan bertindak yang berbeda dari kebanyakan orang, Gema mengajak penonton, khususnya masyarakat Indonesia, untuk mempertanyakan kembali apa yang selama ini dianggap “normal”. Padahal, karakter seperti Gema bukanlah sesuatu yang yang tidak realistis. Mereka ada di sekitar kita, hidup berdampingan dalam keseharian, hanya saja sering tidak terlihat atau tidak dipahami.
Film ini membuka kenyataan pahit bahwa kesadaran masyarakat Indonesia terhadap orang-orang dengan kondisi neurodivergen masih sangat rendah. Tanpa mencoba memahami, banyak orang hanya bisa menertawakan perilaku Gema, sesuatu yang tanpa disadari memperlihatkan betapa tidak peka dan sempitnya cara pandang kita terhadap perbedaan. Memang benar bahwa film diciptakan untuk menghibur, dan sebagai sebuah dark comedy, film ini berhasil menjalankan fungsinya. Namun film ini seharusnya bisa menyadarkan penonton akan sosok seperti Gema yang ada di kehidupan nyata kita. Karena itu, sudah seharusnya kita belajar untuk lebih sadar, peduli, dan mampu untuk merangkul mereka sebagai bagian dari masyarakat yang sama.
Penulis: Diva Rahma Anjani
Editor: Najma Tsabita
TAG: #film #review #sosial #
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua