
Masifnya penggunaan AI pada ilustrasi yang ditampilkan saat Amerta menjadi perbincangan publik, terutama civitas academica Unair. Banyak yang mengkritik perlakuan kampus top 3 nasional ini dalam menyambut mahasiswa baru di PKKMB 2026.
Retorika.id - Pengukuhan mahasiswa baru Universitas Airlangga angkatan 2026 dilaksanakan serentak di Kampus MEER C Unair pada Kamis, (30/7/26). SAGA, maskot Unair yang dicantumkan pada desain-desain digital Amerta, menjadi polemik dalam beberapa hari terakhir. Pasalnya, karakternya di buku pedoman unggahan Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) Unair untuk maba dibuat dengan artificial intelligence (AI). Hal ini terlihat dari ketidaksinkronan jumlah jari SAGA—empat di kiri, lima di kanan.
Tak berhenti di situ, desain hasil AI ini juga terpampang di beberapa titik Gedung Airlangga Convention Center (ACC), misalnya di backdrop dan bumper pada panggung utama. Kemudian, presentasi sesi orasi ilmiah oleh Direktur Pendidikan Unair, Maftuchah Rochmanti, juga menggunakan ilustrasi buatan AI.
“Anda harus memahami bagaimana panduan memulai perjalanan akademik Anda dengan memanfaatkan AI
sebagai sarana untuk mencapai tujuan,” potongan naskah yang ia bacakan.
Selain itu, sentuhan AI juga terlihat pada slide materinya yang bertajuk “Membangun Budaya Akademik Berintegritas: Sistem pembelajaran, Hak, dan Kewajiban dan Perlindungan Mahasiswa”, dibuktikan oleh logo Unair yang berubah total dari bentuk aslinya.
Menanggapi hal tersebut, panitia PKKMB Unair 2026 mengaku tidak berkontribusi dalam pembuatan ilustrasi AI yang ada. Penggunaan AI justru datang dari pihak kampus. Isu ini pun menuai kritikan dari maba Unair itu sendiri. Misalnya, pada platform X terdapat unggahan yang menunjukkan ironi pemakaian AI sebagai alat pembuatan logo acara besar tahunan kampus. Beberapa komentar juga mengkritisi pihak Ditmawa yang lebih memilih memanfaatkan AI daripada menggunakan sumber daya mahasiswa yang terampil dalam bidang desain grafis.
Akun X @/psxxxxxxxxxx yang menuliskan cuitan, “INI AI APA ENGGA YAH” dengan melampirkan foto maskot Amerta yang terindikasi AI generated menuai banyak interaksi, baik melalui komentar maupun kutipan. Beberapa di antaranya seperti yang diunggah oleh akun @/suxxxxxxxx pada kolom komentar di postingan serupa, “Itu burung segede gaban ai, dekor ai, guidebook ai, padahal tim creative dari Amerta exist.”
Dino (nama samaran), mahasiswa baru, mengatakan, “Aku sudah dengar dari dekan kalo AI ini bisa digunakan jika memang dengan cara yang tepat. Namun dalam hal tersebut AI sudah digunakan dalam ranah seni yang di mana itu sangatlah salah. AI tidak seharusnya menggantikan pekerja seni dan desain dalam membuat logo ini, dari yang aku lihat, sebagian besar dibuat oleh AI. Tentunya ini sangat kontra dengan prinsip keadilan bagi seluruh mahasiswa untuk berkarya yah kak,” ungkapnya dalam wawancara dengan tim Retorika pada Kamis (30/7).
Kejadian ini menjadi kontradiktif dengan pidato panjang Rektor di awal acara terkait moto “Excellence with Morality” yang dibawa Unair sebagai landasan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Sebab, untuk menghasilkan suatu gambar, generative AI menggunakan miliaran data visual dari internet tanpa consent dari kreator aslinya. Hal ini sangat bertolak belakang dengan institusi pendidikan yang menjunjung tinggi moralitas.
Hingga berita ini diterbitkan, Ditmawa Unair belum memberikan tanggapan terkait pengajuan wawancara yang diajukan Tim Retorika.
Penulis: Claudya Liana, Febriana
Editor: Hanum R. A.
TAG: #akademik #budaya #dinamika-kampus #seni
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua