» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 085850150198.

Sastra & Seni
Celana untuk Siswi
17 April 2018 | Sastra & Seni | Dibaca 833 kali
Celana untuk Siswi: - Foto: Hai Grid
Untukmu yang terus mengagungkan kesetaraan gender, salahkah jika aku merasa bila penggunaan celana sebagai seragam sekolah untuk siswi merupakan upaya untuk menegakkan kesetaraan itu? Sadarkah jika penggunaan rok sebagai seragam sekolah itu berarti mengekang kebebasan siswi untuk bergerak?

retorika.id - Balutan rok agaknya sering mengiasi seragam siswi mulai dari TK hingga SMA. Oh, sepertinya terlupakan olehku jika mahasiswapun diwajibkan memakai bawahan itu ketika masa ospek universitas dan berlanjut pada dipakainya kembali ‘itu’ ketika sidang berlangsung.

Heran saja. Bukankah sekarang kesetaraan gender terus digaungkan? Lalu kemana suara-suara yang menyuarakan kesetaraan antara siswa dan siswi? Bukankah dengan sama-sama menggunakan celana untuk seragam sekolah merupakan upaya untuk menegakkan kesetaraan itu? Walau memang di sekolah swasta tertentu –yang berbasis agama, penerapan penggunaan celana sebagai seragam adil diberlakukan baik bagi perempuan maupun laki-laki.

Aish,

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

seragam ini memang problematik. Masalah seragampun benar-benar diseragamkan di seluruh sekolah –kecuali swasta.

Ah, seragam. Apanya juga yang seragam jika masih dibedakan ya?

Tidakkah mereka tahu bahwa tidak semua perempuan betah memakai rok? Tidakkah laki-laki tahu bahwa perempuan juga merasa nyaman jika memakai celana?

Tidakkah mereka tahu bahwa rok membatasi gerak-gerik perempuan? Tidakkah mereka tahu jika rok itu rentan memperlihatkan lebih banyak kulit ketika sedang dibonceng? Sudah begitu menyalahkan perempuan jika tidak memakai “double protection” di dalam rok.

Gila saja jika siswi harus memakai legging panjang atau kaos kaki super panjang tiap hari hanya agar ketika rok mereka tersingkap akan tetap “secure” di mata orang-orang? Apa semua orang harus mengeluarkan uang lebih untuk membeli “double protection” seperti itu?

Wah, jangan-jangan kewajiban penggunaan rok merupakan agenda kapitalis sehingga siswi harus membeli lebih daripada siswa.

Kembali lagi.

Rok seragam yang panjang dianggap mempersulit langkah siswi. Rok seragam yang pendek dianggap menimbulkan mudharat karena mengekspos kaki.

Entah. Hal ini terus membingungkanku.

Kenapa siswi tidak diseragamkan saja pakai celana? Masa’ hanya laki-laki yang bebas bergerak? Atau ini juga merupakan agenda tersembunyi patriarki.

Aneh juga ketika celana sudah dianggap sebagai outfit unisex, tapi di sekolah celana cuma dikhususkan untuk laki-laki.

Kalau mau setara mbok ya masalah celana untuk seragam itu mending tidak khususon untuk laki-laki. Celana sudah tidak identik dengan maskulinitas ‘kan? Perempuan feminim juga wajar toh menggunakan celana?

Sesederhana itu memang kegelisahanku pada seragam.

Jika kalian terus menggaungkan kesetaraan gender, tapi tidak peka terhadap bagaimana perbedaan seragam antara siswa dan siswi menunjukkan ketidaksetaraan, wah nampaknya kalian mainnya kejauhan. Main yang dekat-dekat sajalah. Lihat sekelilingmu.

 

Penulis : Anita Fitriyani


TAG#aspirasi  #demokrasi  #gagasan  #gender