» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Opini
Choice Feminism: Ketika Kebebasan Memilih menjadi Sebuah Ilusi
20 Juli 2026 | Opini | Dibaca 57 kali
gerakan pembebasan perempuan di Washington, AS, tahun 1970: - Foto: ultimagz
Choice feminism mengeklaim bahwa setiap pilihan perempuan, mulai dari riasan, penampilan, sampai peran dalam relasi, otomatis menjadi tindakan feminis hanya karena ia yang memilih. Padahal, akar pilihan itu sendiri kerap tumbuh dari standar dan struktur patriarki yang sudah lama membentuknya.

Retorika.id - "I want princess treatment", "I want my man to lead the relationship". Kalimat-kalimat yang sebenarnya lahir dari budaya patriarki dan turut melanggengkan misogini ini, secara ajaib, berubah menjadi bentuk “feminisme sejati” begitu ditambahkan satu kata kunci: pilihan. Fenomena inilah yang disebut dengan choice feminism, atau feminisme berbasis pilihan. Di titik ini, kebebasan untuk memilih mulai menjadi kabur dengan turut melanggengkan budaya patriarki itu sendiri.

"Feminism is about women making her own choices". Kalimat itu terdengar positif, memberdayakan, bahkan terasa seperti representasi murni dari apa yang selama ini diperjuangkan oleh gerakan perempuan. Tapi coba kita telaah lebih jauh, pilihan macam apa yang sedang dibicarakan? Di satu sisi, benar bahwa perempuan berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, mau punya anak atau tidak, menikah atau tidak, berkarier atau tidak. Namun di sisi lain, ada miskonsepsi besar yang diam-diam menyusup, seolah setiap pilihan yang diambil perempuan otomatis menjadi pilihan yang feminis, hanya karena ia yang memilih.

Contoh populernya seperti memakai riasan atau mencukur bulu tubuh atas nama “pilihan sendiri”. Padahal, hal ini tidak serta-merta menjadikannya tindakan feminis, karena akar pilihan itu sendiri tumbuh dari standar yang dibentuk masyarakat patriarkis. Riasan yang digunakan untuk mempercantik wajah agar sesuai standar kecantikan tertentu dan tubuh perempuan yang mulus tanpa bulu adalah standar yang secara historis dibebankan hanya kepada perempuan, tidak kepada laki-laki. Melakukan hal-hal tersebut tidak lantas membuat seseorang tidak


feminis, tetapi mengeklaimnya sebagai tindakan feminis semata-mata karena itu pilihan pribadi adalah kekeliruan yang berbahaya.

Ilmuwan politik Michaele Ferguson, dalam artikelnya di jurnal Perspectives on Politics terbitan Cambridge University Press (2010), menjelaskan bahwa choice feminism muncul sebagai respons terhadap tiga kritik umum terhadap feminisme: dianggap terlalu radikal, terlalu eksklusif, dan terlalu menghakimi. Sebagai jawabannya, choice feminism menawarkan cara pandang yang tidak menentang status quo, menjanjikan inklusivitas bagi semua perempuan apa pun pilihan mereka, dan sepenuhnya menghindari sikap menghakimi.

Sekilas, ini terdengar ideal, kebebasan penuh bagi perempuan tanpa penghakiman. Tapi menganggap perempuan tidak pernah bisa keliru dalam memilih adalah kekeliruan itu sendiri. Perempuan, sama seperti manusia lainnya, bisa saja mengambil keputusan yang justru merugikan dirinya sendiri secara kolektif. Tidak semua pilihan adalah pilihan yang feminis. Operasi plastik demi memenuhi standar kecantikan, menghabiskan jutaan rupiah untuk perawatan wajah, atau mengorbankan seluruh hidup demi seorang pria, bukan tindakan feminis hanya karena itu datang dari keputusan perempuan sendiri. Ironisnya, hal-hal semacam ini justru merupakan pola yang secara historis telah lama diperjuangkan feminisme untuk dilawan.

Lantas, bagaimana cara membedakan pilihan yang benar-benar bebas dari pilihan yang sebenarnya adalah hasil kondisioning patriarki? Salah satu caranya adalah dengan bertanya, apakah pilihan ini masih akan ada nilainya jika tidak ada mata laki-laki yang menilai, atau jika standar kecantikan dan peran gender tidak pernah ada. Jika jawabannya tidak, kemungkinan besar pilihan tersebut bukan murni datang dari keinginan pribadi, melainkan hasil internalisasi nilai-nilai yang sudah tertanam sejak kecil. Ini bukan berarti perempuan harus terus-menerus menginterogasi setiap keputusan kecil dalam hidupnya, tapi setidaknya ada kesadaran bahwa "pilihan bebas" itu tidak pernah benar-benar lepas dari konteks sosial tempat ia lahir.

Choice feminism populer bukan tanpa alasan, ia adalah jalan yang paling mudah. Ia tidak menentang apa pun, dan pada dasarnya menerima begitu saja sistem yang menindas. Feminisme, kerap disederhanakan secara berlebihan, seolah hanya soal kesetaraan hak semata padahal jauh lebih kompleks dari itu. Feminisme itu menyangkut struktur sosial, ekonomi, dan budaya yang membentuk pilihan-pilihan perempuan sejak awal. 

Jika dianalogikan, feminisme sejati adalah upaya untuk mendobrak sangkar. Choice feminism, sebaliknya, lebih seperti tetap tinggal di dalam sangkar yang sama sambil menambahkan pita merah muda di jerujinya, membuatnya tampak indah, tapi tidak benar-benar membebaskan siapa pun. Perjuangan yang sesungguhnya membutuhkan usaha nyata, menerima kenyataan bahwa mempraktikkan feminisme berarti bersedia untuk merasa tidak nyaman, mempertanyakan pilihan-pilihan yang selama ini dianggap wajar, dan berani menghadapi kemungkinan bahwa tidak semua yang kita pilih benar-benar membebaskan kita.

Choice feminism memang tampak sederhana dan mudah diterima. Namun kesederhanaan itu tidak mengubah apa pun, tidak ada sistem yang tergoyahkan, tidak ada yang benar-benar terbantu, termasuk perempuan yang mempraktikkannya sendiri. Feminisme adalah hasil perjuangan panjang, penuh perlawanan, pengorbanan, dan konflik yang tidak selalu nyaman untuk dibahas. Mempelajari bagaimana gerakan ini dulu melawan struktur yang menindas, bagaimana perempuan-perempuan sebelumnya mempertaruhkan banyak hal demi hak yang kini dianggap wajar, akan membantu membedakan mana perjuangan yang sesungguhnya dan mana yang sekadar kemasan. Tanpa pemahaman akan sejarah dan perlawanan yang menyertainya, feminisme akan terus rentan direduksi menjadi sekadar slogan, dan choice feminism akan terus dianggap sebagai bentuk pembebasan padahal sebenarnya hanya mengukuhkan status quo. Ilusi kebebasan memilih ini memang menggiurkan dan terasa membebaskan di permukaan. Meski begitu, penting untuk selalu mengingat dari mana sesungguhnya pilihan itu berasal. 

 

Penulis: Diva Rahma Anjani

Editor: Febriana Rahma Sari

 

Referensi

Ferguson, M. L. (2010). Choice feminism and the fear of politics. Perspectives on Politics, 8(1), 247–253. https://doi.org/10.1017/s1537592709992830 

What is feminism? | UN Women – Headquarters. (2026, February 25). UN Women – Headquarters. https://www.unwomen.org/en/articles/explainer/what-is-feminism 

 


TAG#aspirasi  #gagasan  #gender  #humaniora