
Homofobia kembali menjadi alat peralihan isu politik di Indonesia. Media lokal dan nasional yang seharusnya berpihak kepada masyarakat termarginalkan justru menambahkan bensin ke dalam api yang membakar kehidupan-kehidupan queer di tanah air. Bulan Juni yang kita kembali peringati sebagai Bulan Kebanggaan menjadi pertanda bagi kita semua untuk tetap tajam dan tidak mudah teralihkan oleh para penguasa yang kian ingin mengorbankan komunitas LGBTQ+ untuk kepentingan politik mereka.
Retorika.id - Belum satu bulan berlalu setelah artikel ini dibuat, dua mahasiswa di universitas di Padang, Sumatera Barat, menjadi korban penggerebekan paksa dan drop out tanpa landasan hukum dan aturan yang pasti karena keduanya diduga sedang melakukan hubungan seks sesama jenis di kosnya sendiri.
Seminggu sebelum kejadian itu berlangsung, nilai mata uang Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat dikabarkan anjlok, bahkan memecah rekor dengan nilai terparah sepanjang sejarah Indonesia. Kemudian, tak lama setelah kejadian penggerebekan paksa itu mulai kehilangan momentumnya, sebuah video yang menunjukkan seorang laki-laki yang sedang berjalan di Jl. Malioboro, Yogyakarta, diganggu oleh sejumlah orang yang ia tidak kenal dengan mengujar kepadanya kata “boti!” berulang kali mulai bermunculan di beberapa sosial media, seperti TikTok, Instagram, dan X (Twitter).
Naiknya ujaran-ujaran kebencian yang dilontarkan kepada kelompok minoritas seksual ini dengan menggunakan momentum isu-isu sosial, politik, dan ekonomi lainnya bukanlah suatu hal yang baru. Hendri Yulius Wijaya (2019), seorang peneliti studi kwir di Indonesia telah mencatat bahwa upaya-upaya eksploitasi
identitas minoritas gender dan seksualitas demi kepentingan politik tertentu sudah disangka oleh banyak aktivis-aktivis gender di Indonesia. Hal tersebut pun sangat selaras dengan laporan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia yang menyatakan bahwa media online, baik yang lokal maupun nasional, di Indonesia dipenuhi oleh ujaran kebencian yang dilontarkan oleh tokoh-tokoh publik kepada komunitas minoritas gender dan seksual.
Laporan tersebut menunjukkan bahwa aktor-aktor negara, selama setidaknya satu dekade terakhir, sedang salah fokus—entah itu disengaja atau tidak—pada masalah yang ada. Alih-alih mengusut tuntaskan permasalahan sosial, politik, atau ekonomi yang sedang hangat, mereka malah peduli dalam menggunjing orang-orang yang termasuk ke dalam payung kwir.
Meski banyak sekali isu-isu seputar komunitas LGBTQ+ yang kembali diangkat dan dapat kita ikut duga sebagai peralihan isu sosial, politik, dan bahkan ekonomi, bulan Juni ini kita akan menyambut Bulan Kebanggaan (atau Pride Month). Dalam artikel ini, saya akan menjawab beberapa pertanyaan, yakni kenapa kita mesti merayakan Bulan Kebanggaan dan apa saja yang mesti kita selebrasikan di Bulan Kebanggaan ini?
Isu LGBTQ+ yang akhir-akhir ini sering kali beredar di tengah munculnya isu-isu yang sensitif secara sosial, politik, dan ekonomi menjadi pertanda akan gerakan komunitas kwir ini ke depannya. Sebab, dalam komunitas kwir, hari-hari yang menjadi tanda peringatan penting, seperti IDAHOBIT, Transgender Visibility Week, bahkan juga Bulan Kebanggaan, tidak sekadar menjadi selebrasi atas identitas kwir itu sendiri, melainkan juga untuk peringatan akan perjuangan komunitas kwir yang sudah berlalu, yang sedang terjadi, dan yang akan mendatang. Bulan Kebanggaan menjadi bulan untuk mengingat bahwa kita semua masih melawan sistem yang diskriminatif pada kelompok-kelompok yang paling terpinggirkan.
Bulan Kebanggaan yang kita rayakan pada bulan Juni ini seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua bahwa fokus kita pada konflik horizontal bukanlah hal yang produktif. Solidaritas yang dapat kita bangun pada Bulan Kebanggaan ini dapat membebaskan mereka yang takut untuk mengekspresikan diri secara terbuka. Dengan demikian, sikap, bahkan perilaku, yang homofobik tertantang oleh tubuh-tubuh mereka yang tidak mematuhi pada roda sistem yang menentukan apa yang “normal” dan apa yang “menyimpang”. Merangkul orang-orang dalam payung kwir ini kemudian juga menjadi PR yang mendesak bagi gerakan-gerakan sosial di sekitar kita.
Mengusut tuntaskannya dapat dimulai dari diri kita masing-masing: Berikan ucapan “Selamat Bulan Kebanggaan” bagi teman-teman kalian yang merayakan, rangkul mereka dalam setiap pergerakan kalian, dan berhenti teralihkan fokusmu pada isu-isu yang merugikan orang-orang kwir karena identitas dirinya.
Penulis: Albert
Editor: Claudya Liana
Referensi
Adila, A. (2026, May 20). UNP Layangkan Sanksi Drop Out kepada Mahasiswa Terduga LGBT. Ganto.Co. https://www.ganto.co/berita/6910/unp-layangkan-sanksi-drop-out-kepada-mahasiswa-terduga-lakukan-hubungan-sesama-jenis.html
Wijaya, H. Y. (2019). Localising queer identities: queer activisms and national belonging in Indonesia. In G. Fealy & R. Ricci (Eds.), Contentious Belonging: The Place of Minorities in Indonesia. ISEAS Publishing.
TAG: #gagasan #gender #humaniora #lpm-retorika
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua