» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Opini
Gak Ada Atap, Gak Ada Bangku, Pemberhentian Sederhana Halte Kampus B Unair
02 Juni 2026 | Opini | Dibaca 20 kali
Megahnya Kota Surabaya berbanding terbalik dengan kualitas fasilitas transportasi umumnya. Seperti Halte Kampus B Surabaya yang bahkan tak ada wujudnya.

Retorika.id - Pukul 13.00 WIB, matahari tengah memancarkan sinarnya terik di langit Kota Metropolitan Surabaya (5/5/2026). Di pinggir jalan, di depan salah satu gedung Unair, seorang mahasiswi sedang duduk di beton pagar pembatas untuk menunggu Suroboyo Bus datang. Tanpa naungan untuk berlindung dari cuaca panas dan hujan. Tanpa bangku yang nyaman bahkan untuk sekadar singgah. Hanya ditemani terik matahari yang menyengat, bayangan dari pohon dekat halte, dan deru kendaraan yang melaju.

Inilah keadaan yang bisa kita temui sehari-hari di Halte Universitas Airlangga Kampus B, yang terletak di kawasan Dharmawangsa, Surabaya. Halte yang cukup padat pengunjung ini tampak tampil sederhana, atau lebih tepatnya tak layak pakai.

Idealnya, halte haruslah nyaman dan aman sebagai tempat singgah para pengguna bus. Dengan atap yang kokoh untuk melindungi dari panas dan hujan, bangku yang nyaman dan bersih, serta luasnya memadai untuk jumlah pengguna bus yang naik-turun. Namun, hal ini tidak akan kita temui di Halte Kampus B Unair, yang ada hanyalah sebuah papan penanda halte bus berbentuk persegi dengan warna biru. Sungguh, sebuah ironi melihat halte sederhana yang bersanding dengan universitas terkenal.

 

Dalam pengamatan yang dilakukan selama hari-hari aktif perkuliahan atau weekday, terlihat sejumlah pengguna bus, baik mahasiswa maupun masyarakat umum menunggu bus di sekitar halte. Beberapa memilih berdiri di bawah sinar matahari sambil memainkan ponsel mereka, dan yang lainnya memilih duduk di beton pembatas pagar sambil berteduh. Halte tampak penuh pengguna bus di saat jam-jam tertentu, seperti pagi hari pukul 07.00–09.30 saat


waktunya berangkat kerja dan sore hari saat waktunya pulang.

Halte ini tidak memiliki struktur bangunan sama sekali. Satu-satunya penanda bahwa tempat ini adalah halte hanyalah papan biru persegi bergambarkan simbol bus dan bertuliskan “STOP”. Lokasi halte bus juga menyatu dengan jalur pejalan kaki, tanpa atap dan bangku yang memadai, penerangan seadanya, dan tidak ada informasi rute dan jadwal.

Satu-satunya fasilitas yang menjadi penolong para pengguna bus adalah pohon-pohon di dekat penanda halte yang melindungi mereka dari panasnya Surabaya. Bayang-bayangnya pun tidak selalu jatuh tepat di titik tunggu, tergantung dengan posisi matahari. Lebih parah lagi, situasi hujan ditambah jam padat seperti saat pulang kantor di sore hari membuat para pengguna bus terpaksa basah-basahan dan menggunakan pelindung diri seperti payung sambil berdiri saat menunggu bus datang.

Nisa, salah satu mahasiswa FISIP Unair, adalah pengguna setia Suroboyo Bus. Hampir setiap hari ia menggunakan Suroboyo Bus untuk mengikuti perkuliahan. Nisa menceritakan pengalamannya saat menunggu di Halte Kampus B. Ia menceritakan kegelisahannya mengenai kondisi halte yang tidak layak pakai. “Kayak di drama-drama sih. Bayangin deh, kalo sore-sore terus hujan kan remang-remang tuh. Aku harus nunggu pakai payung dan sambil berdiri karena halte yang gak proper itu. Lalu, aku juga harus nunggu 2040 menit karena busnya sering penuh,” ujarnya.

Penerangan yang remang-remang juga menjadi masalah tersendiri saat menunggu bus. Keadaan halte yang tidak layak dan sepi saat malam hari menjadi tantangan bagi pengguna bus. Seperti yang diceritakan oleh Nisa saat menunggu di halte bus, “Kan cuma ada tanda stop bus aja ya, ada sih lampu tapi itu cuma remang-remang aja. Sebagai perempuan, aku tuh suka risau gitu sama keadaan halte yang gak proper. Apalagi beberapa halte tuh tempatnya di tempat-tempat yang sepi. Takutnya kan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.

Halte Unair Kampus B memiliki masa depan yang baik. Sebab, menurut akun resmi Direktorat Pengelolaan Infrastruktur, Lingkungan dan Operasional Universitas Airlangga, @dit.pilar, Universitas Airlangga dengan Pemerintah Kota Surabaya akan bekerja sama membangun Halte Unair Kampus B menjadi lebih baik dengan penambahan atap dan sejumlah bangku. Namun, hal ini dianggap masih kurang oleh warganet karena ukuran halte yang akan dibangun dirasa terlalu kecil dan menutupi jalur pejalan kaki.

Masalah halte tidak layak pakai ini menyebar di berbagai penjuru Surabaya. Banyak halte-halte yang bernasib sama seperti Halte Kampus B Unair yang sama-sama hanya bermodal papan penanda bus. Contohnya seperti Halte Kalijudan B, Halte RSIA, Halte Galaxy Mall, dan masih banyak lagi halte-halte tidak layak pakai di Surabaya.

Sayangnya, meski banyak keluhan datang dari masyarakat, pemerintah tidak mengindahkan keluhan-keluhan masyarakat. Bahkan, masyarakat Surabaya hingga akhirnya harus menginisiasi sendiri untuk membuat halte di Surabaya menjadi lebih layak. Contohnya seperti Forum Diskusi Transportasi Surabaya (FTDS) yang menyediakan papan informasi di sejumlah titik halte Surabaya dan menyediakan dua kursi panjang hasil swasembada di TPB Pakuwon Mall. Walau akhirnya dua kursi hasil swasembada itu hilang entah kemana.

Persoalan tentang halte yang tidak layak pakai bukanlah masalah sepele. Pemerintah kota seharusnya memberikan perhatian lebih untuk mengatasi masalah yang ada, sesuai dengan Pasal 138 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dengan transportasi umum yang layak dan aman, tentunya dapat memajukan kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemacetan, dan mengurangi emisi karbon.

Keberadaan halte seharusnya bukan sekedar papan bus stop seadanya saja. Melainkan harus dibangun dengan baik dan benar agar seluruh masyarakat dapat menggunakannya dengan rasa nyaman dan aman. Harapannya, halte-halte di Surabaya dapat dibangun dengan baik sehingga memiliki atap untung berlindung dari panas dan hujan, bangku-bangku yang nyaman untuk rehat sejenak, penerangan yang memadai, dan informasi rute dan jadwal bus yang jelas.

 

Penulis: Luthfi Nur Fauziyah 

 

Editor: Claudya Liana

 

Referensi

Dit.pilar. (2026, April 23). Survey lokasi Halte Bus UNAIR di Jl. Dharmawangsa. Instagram. https://www.instagram.com/p/DXddr9_H_Pb/?img_index=2&igsh=eHdpbm5vMzBwcjA4 

Prasetyadi, K. O. (2024, Desember 24). Muda, Marah, dan Cerewet demi Transportasi Umum Surabaya. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/muda-marah-dan-cerewet-demi-tansportasi-umum-surabaya 

 


TAG#demokrasi  #lpm-retorika  #pemerintahan  #sosial