» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Mahasiswa Surabaya Padati Depan Grahadi, Tuntut Penghentian Makan Bergizi Gratis
18 Juni 2026 | Liputan Khusus | Dibaca 44 kali
Massa aksi membentuk formasi lingkaran di depan Gedung Grahadi dan melakukan orasi (17/6): - Foto: Divisi Perusahaan/Prana Meutia
Rabu (17/6/26), di depan Gedung Grahadi Surabaya, gabungan mahasiswa se-Surabaya melakukan aksi demonstrasi dengan lima tuntutan utama yang salah satunya membahas penyetopan program MBG dan Koperasi Merah Putih.

Retorika.id - Rabu (17/6/26), gabungan mahasiswa dari berbagai kampus di Surabaya serentak melakukan demonstrasi di depan Gedung Grahadi. Massa dengan almamater Universitas Airlangga (Unair) mulai memenuhi jalan raya pukul 14.00 WIB.

Aksi dimulai dengan orasi oleh Presiden BEM Unair, Senja, yang menyampaikan tuntutan utama aksi pada hari itu, yakni pemberhentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta 15 daftar tuntutan lainnya. Orasi disampaikan bergantian oleh koordinator lapangan dan massa aksi yang berasal dari Universitas Airlangga. 

Pada pukul 14.07 WIB, rombongan massa aksi yang berasal dari berbagai perguruan tinggi di Surabaya, meliputi Universitas Negeri Surabaya (Unesa), UIN Sunan Ampel Surabaya (Uinsa), Universitas 17 Agustus (Untag), Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), UPN “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT), Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), dan lainnya mulai membanjiri lokasi berlangsungnya aksi, bergabung dengan massa dari Unair. 


style="font-size: small;">Dalam aksi, Senja mengajak massa serta masyarakat luas untuk ikut serta menandatangani petisi pemberhentian program MBG yang ditengarai menjadi salah satu problematika utama dalam rezim pemerintahan Prabowo-Gibran. 

Ia menegaskan bahwa MBG tidak lagi memberikan dampak bagi masyarakat, terlebih dengan adanya penangkapan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, dalam tindak pidana korupsi tata kelola penyelenggaraannya.

“Itu (dugaan korupsi) memberikan indikasi dan juga alarm keras bagi BGN bahwasannya BGN sudah tidak baik-baik saja dan negara sudah tidak baik-baik saja secara fiskal,”ujar Senja.

Keresahan yang sama juga disampaikan Sani, mahasiswi FISIP Unair. Ia turun ke jalan dalam rangka mengkritisi program MBG dan Koperasi Merah Putih yang menurutnya tidak berdampak pada negara. “Dan juga saya ingin gaji pendidik dan juga kesehatan itu lebih ditekankan dibandingkan gaji SPPG MBG,” ungkapnya. 

Di luar barisan mahasiswa beralmamater, terdapat seorang Ibu yang turut menjadi massa. Anindita, yang ternyata merupakan alumni FISIP Unair, menyampaikan bahwa dirinya khawatir akan masa depan anaknya. Menurutnya, keadaan Indonesia yang ada di depan mata saat ini bukanlah tempat yang ideal bagi anak-anaknya di masa depan.

‘’Kami juga mikir, ini Indonesia kayak apa yang mau dihadapi sama anak-anak kami nanti? Jadi ya karena anak-anak saya masih kecil-kecil, jadi saya lah yang maju untuk menyuarakan kepentingan mereka,” ujar Anindita.

Anindita berharap aksi ini bisa menyadarkan lebih banyak orang bahwa kondisi negara sedang berantakan. “Semoga banget ada satu sampai dua orang lagi yang akhirnya terbuka matanya. Akhirnya, ‘Oh iya ya negara kita lagi kacau banget, lagi mengkhawatirkan banget’, akhirnya mereka juga ikut bersuara, ikut menyerukan keprihatinan mereka.”

Daniel, Menteri Sosial dan Politik BEM Unair menyampaikan bahwa aksi hari ini merupakan inisiasi dari BEM Unair, yang kemudian membuka kolaborasi aksi dengan teman-teman BEM universitas lainnya di Surabaya. 

“Dari BEM, aliansi BEM Se-Surabaya, ABS, dari BEM Nusantara juga akhirnya sepakat membersamai teman-teman Unair yang jadi inisiator untuk turun aksi,” katanya.

Meskipun begitu, Daniel menyatakan bahwa terlepas dari adanya ketentuan untuk menggunakan jas almamater, BEM Unair tidak melarang adanya mahasiswa atau massa aksi dari elemen masyarakat lain untuk bergabung dengan tanpa almamater atau identitas apa pun. 

Aksi ditutup dengan adanya pernyataan sikap yang disampaikan Presiden BEM Unair, dan diatasnamakan seluruh mahasiswa Unair. Pernyataan sikap tersebut menekankan pada penolakan terhadap segala bentuk penyalahgunaan kekuasaan, menolak pembungkaman suara rakyat, serta menuntut hadirnya kebijakan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat.

 

Penulis: Claudya Liana, Nailah Rahmah Tsabita

Editor: Dzakii As’at Rizki Kusuma

 


TAG#demokrasi  #demonstrasi  #politik  #sosial