» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 085850150198.

Pop Culture
Kansen Rettou, Manga Epik Tentang Pandemi Karya Kakizaki Masasumi
02 April 2020 | Pop Culture | Dibaca 233 kali
Manga Pandemi: Kansen Rettou Foto: Sumber: MangaBat/Alvidha Febrianti
Tanggal 3 Januari 2011, dr. Tsuyoshi Matsouka memeriksa seorang pasien yang awalnya diduga mengidap flu. Namun, keesokan harinya pasien itu meninggal akibat kegagalan multi organ dan diikuti oleh orang lain dengan gejala yang sama. Hal itu disebabkan oleh virus “asing” yang membuat para dokter di Jepang tidak tahu dari mana virus itu berasal.

retorika.id - Selama melakukan social distancing, kita tidak harus bekerja sepanjang waktu agar tetap produktif. Namun, bersantai sejenak sambil menonton film atau membaca buku tidak ada salahnya. Misal, komik karya Kakizaki Masasumi yang berjudul “Kansen Rettou” menjadi pilihan yang tepat untuk dijadikan sebagai bahan bacaan. Sebab, isi dari komik “Kansen Rettou” menceritakan tentang penyebaran pandemi virus yang terjadi di negara Jepang.

Virus di kehidupan nyata adalah suatu hal yang sangat mengganggu. Entah itu virus yang ditemukan di perangkat komputer seperti malware maupun virus secara biologis sama-sama akan menimbulkan berbagai dampak buruk. Namun, di dunia manga biasanya penyebaran virus akan digambarkan dalam kondisi yang lebih mengerikan.

Komik “Kansen Rettou” karya Kakizaki Masasumi diterbitkan pada tanggal 26 Desember 2008 oleh Shogakukan dalam bahasa Jepang. Kemudian, diterbitkan ulang oleh Level Comics dalam bahasa Indonesia pada tahun 2010 dengan judul “Pandemic”. Komik yang bergenre drama, horror, psychological, dan seinen ini memberikan pengalaman membaca yang sangat menegangkan. Pergolakan batin yang timbul dari dalam diri para dokter dan staff rumah sakit antara harus memilih keluarga atau kesembuhan pasien sangat mengharukan. Selain itu, cerita mengenai perjuangan manusia antara hidup dan mati dalam melawan virus yang ganas itu cukup menguras emosi ketika membacanya.

Kisah di dalam komik itu berawal ketika terdapat pasangan suami istri yang datang ke Rumah Sakit Izumino di Kota Izumi, Tokyo. Sang istri, Manabe Asami saat itu mengantarkan suaminya, Manabe Hideyoshi ke rumah sakit pada tanggal 3 Januari 2011. Awalnya dr. Tsuyoshi Matsuoka mengira Hideyoshi hanya mengalami flu dan demam biasa.

Namun, keesokan harinya, pada tanggal 4 Januari 2011, kondisi Hideyoshi semakin parah dan diduga

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

Hideyoshi terkena virus “asing” yang menyebabkan kegagalan multi organ seperti hyperthermia, pneumonia, muntah darah, dan mimisan. Di saat yang bersamaan, media berita Jepang melaporkan bahwa telah ditemukan kematian unggas-unggas yang disebabkan oleh flu burung pada kawasan peternakan di Izumi.

Pada tanggal 5 Januari 2011, Hideyoshi adalah korban pertama yang meninggal akibat virus yang belum diketahui jenisnya tersebut. Kasus penularan virus di Jepang terus meningkat. Bahkan, sejumlah staff, perawat, dan dokter juga tertular, termasuk dr. Andou Kazuma yang bertugas bersama dengan dr. Matsouka di UGD meninggal akibat tertular virus saat merawat Hideyoshi.

Situasi yang semakin kacau itu membuat masyarakat di Jepang merasa panik. Pada tanggal 6 Januari 2011, pemerintah Jepang menggelar konferensi untuk membahas penyebaran virus itu. Di akhir konferensi, pemerintah Jepang sepakat untuk melakukan penyelidikan dengan menunjuk Kobayashi Eiko, seorang staff kesehatan di WHO untuk memimpin langsung penelitian virus di RS Izumino.

Selama melakukan penyelidikan, Eiko bersama seluruh dokter dan staff RS Izumino hampir putus asa. Bahkan, dugaan awal dari Eiko bahwa virus tersebut berasal dari flu burung (H5N1) di daerah Izumi tidak terbukti kebenarannya. Sebab, ketika pasien diberikan obat Tamiflu (sejenis obat yang dianjurkan untuk menangani flu burung) tidak menunjukkan reaksi apapun dan cenderung memperparah kondisi pasien.
Meskipun dilanda kesedihan dan keputusasaan, penyelidikan masih tetap berlanjut. Pada tanggal 16 Januari, WHO bersama American Infection Control Center mengumumkan hasil yang mengejutkan bahwa virus “asing” itu diberi nama “Blame”, sebagai virus yang sama sekali tidak dikenal dan belum pernah ditemukan pada penelitian sebelumnya.

Hal lain yang lebih mengejutkan adalah ada satu pasien yang berhasil sembuh dari virus “Blame”, yakni Manabe Asami. Sebelum kematiannya, Eiko yang juga terinfeksi virus “Blame” mengatakan kepada dr. Tsuyoshi Matsuoka untuk melakukan suatu treatment sebagai solusi satu-satunya dalam menyelamatkan para korban yang terinfeksi, dengan cara mentransfusikan serum milik pasien yang telah pulih ke tubuh pasien yang masih terinfeksi untuk merangsang antibodi terhadap virus. Treatment tersebut berhasil, tetapi tak kunjung terakreditasi dan masih dilakukan uji penelitian.

Meskipun hanya berisi satu season yang terdiri dari tujuh chapter, komik “Kansen Rettou” ini sangat mengedukasi pembaca tentang penyebaran virus dan bagaimana karakteristiknya. Selain itu, cerita yang disampaikan memiliki plot twist yang membuat pembaca merasa mind-blown. Jika dicermati lebih lanjut, terdapat tiga poin penting dalam komik “Kansen Rettou”.

1. Peran Media Massa Terkait Pemberitaan Pandemi

Dalam komik “Kansen Rettou” digambarkan bahwa media massa di Jepang menyampaikan pemberitaan mengenai virus flu burung (H5N1) yang menyerang hewan unggas di peternakan Izumi bertepatan dengan meninggalnya Hideyoshi akibat virus “Blame”. Dampak dari pemberitaan tersebut adalah para dokter menduga bahwa meninggalnya Hideyoshi disebabkan oleh jenis virus yang bermutasi dari virus flu burung. Namun, pada akhirnya dugaan tersebut salah. Hal itu menunjukkan bahwa peran media massa dalam menyebarluaskan informasi kesehatan, khususnya virus kepada masyarakat sama pentingnya dengan dokter dan tenaga medis lainnya. Misal, pemberitaan tentang penyebaran virus harus dilakukan dengan cermat tanpa harus memicu masyarakat untuk berspekulasi tanpa data yang valid.

2. WHO Cenderung Berspekulasi Terhadap Kasus Penyebaran Virus Jenis Baru

Pada chapter 4, penulis menceritakan tentang pihak WHO yang terkesan terburu-buru dalam menyimpulkan dari mana penyebaran virus “Blame” tanpa alasan yang lebih detail. Hal itu tercantum pada ucapan salah satu anggota WHO yang mengatakan, “The infection started from the first victim’s step-father who went to an island in the pacific named ‘Minas’, and from there, he carried the virus back to Japan. That is our theory regarding this case.” Di samping itu, tokoh Manabe Asami sebagai istri dari korban pertama yang meninggal tidak terlalu ditonjolkan. Padahal, penjelasan dari Manabe Asami dapat membantu untuk mengungkap dari mana virus “Blame” berasal.

3. Pemberian Obat yang Salah Dapat Memperburuk Kondisi Pasien

Pemberian obat untuk menangani virus harus diperhatikan sesuai resep dan dosis yang telah ditetapkan atau teruji secara klinis. Alih-alih ingin menyembuhkan pasien dari rasa sakit, malah memperburuk kondisi pasien. Hal itulah yang digambarkan dalam komik “Kansen Rettou” ketika dr. Tsuyoshi Matsuoka memberika obat Tamiflu untuk pasien, tetapi tidak memberikan efek apapun dan kondisi para pasien malah semakin parah. Penulis mencoba untuk mempertegas pesan tersebut pada chapter 3, yang dimana salah satu perawat mengatakan “The Tamiflu is not having effect, dr. Matsouka!”

Pada umumnya, kita hanya mengenal jenis virus influensa saja. Tetapi, berdasarkan cerita dalam komik “Kansen Rettou” sangat memungkinkan munculnya jenis virus baru. Tidak hanya di dalam dunia manga, di dunia nyata pun virus dapat berkembang dan berubah setiap saat. Baik dari segi penulisan maupun gambar biasanya tergantung imajinasi penulis. Penyajian alur cerita dan gambar yang sangat epik, menunjukkan bahwa Masasumi berhasil membuat manga “Kansen Rettou” menempati posisi one star ratings di situs Goodreads.

Penulis: Alvidha Febrianti


TAG#budaya  #karya-sastra  #review  #