» Website: https://www.retorika.id » Email: lpmretorikafisip@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Teatrikal UFO Ricuh, Luputnya Trigger Warning Dinilai sebagai Pemicu
10 Agustus 2026 | Liputan Khusus | Dibaca 188 kali
Kerusuhan saat sesi teatrikal pada UFO hari pertama (6/8): - Foto: Dokumentasi pribadi
United FISIP Orientation (UFO) 2026 diselenggarakan pada 6 hingga 7 Agustus 2026. Pada hari pertamanya, terdapat penampilan teatrikal yang mengisahkan seorang mahasiswa baru mengalami represi berupa teror. Aksi tersebut memang bertujuan untuk membangkitkan rasa solidaritas dan pemahaman kolektif di dalam benak-benak mahasiswa baru. Namun, pertunjukan tersebut justru menimbulkan kepanikan hingga beberapa mahasiswa mengalami penurunan kondisi fisik dan harus segera mendapat pertolongan medis. Lantas, mengapa bisa terjadi? Di manakah kesiapan panitia UFO saat merangkai teater pada UFO hari pertama?

Retorika.id - United FISIP Orientation (UFO) menjadi langkah awal bagi mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unair untuk mengenal lingkungan perkuliahan di Kampus Oranye. UFO yang dilaksanakan pada 6 dan 7 Agustus ini menuai pujian juga kritikan dari mahasiswa baru (maba) maupun panitia. 

Teatrikal pada hari pertama UFO menjadi sorotan karena berujung ricuh dan membuat beberapa maba ter-trigger sampai tumbang. Meski kondisi kembali kondusif, peristiwa ini tetap mendapat kecaman dari beberapa pihak, melihat banyaknya mahasiswa yang merasa tak nyaman secara fisik maupun psikis.

Pada Kamis (6/8) pagi, di Taman FISIP, teater dimulai dengan masuknya aktor perempuan berpakaian layaknya mahasiswa baru ke panggung. Ia ketakutan karena mendapat teror dari boks misterius. Kemudian, mahasiswa baru yang duduk dan menonton drama tersebut merasa tersulut atas tindakan yang dilakukan Tim Disiplin (Timdis) UFO sebagai aktor yang melakukan kekerasan fisik pada aktor perempuan tersebut. 

Awalnya, hanya ada satu mahasiswa yang maju ke panggung. Namun, tindakan yang dilakukan dirasa sudah tidak wajar oleh banyak mahasiswa baru sehingga membuat mereka ikut maju ke depan untuk melindungi mahasiswa baru yang menjadi “lawan” dari Tim Disiplin UFO. Kejadian tersebut mengakibatkan kerusuhan yang tidak diprediksi sehingga banyak mahasiswa ter-trigger hingga mengalami serangan panik bahkan penurunan kondisi fisik. 

Menanggapi hal tersebut, Ezy sebagai Ketua UFO 2026 berpendapat kerusuhan tersebut merupakan bukti kesuksesan bahwa maba berhasil membangun solidaritas tinggi dan memahami isu yang disampaikan.

“Aku melihat kejadian tersebut itu bukan sebagai suatu kegagalan, namun keberhasilan dari teman-teman


acara dalam mengkaji isu. Dan juga aku bangga sih, karena itu menunjukkan bahwa teman-teman maba ini punya rasa solidaritas yang tinggi dan peduli yang tinggi juga, serta paham atas isu yang akan mereka pelajari nantinya,” ungkapnya. 

Ezy juga menjelaskan bahwa maba tidak mengetahui bahwa penampilan tersebut hanya settingan. Hal ini membuat beberapa mahasiswa baru memasuki area teatrikal saat adegan Timdis sebagai aktor represif mengangkat aktor utama untuk menolong aktor utama tersebut. “Yang membuat mereka terpancing adalah di teatrikal itu pas Timdis mengangkat si aktor. Itu juga membuat mereka terpancing. Dan dari maba juga akhirnya terpancing untuk maju, maju ke depan, maju ke dalam area teater tersebut yang tujuannya itu untuk menolong si aktor ini. Yang dikira bahwa teater ini itu bukan settingan.” 

Aksi mahasiswa baru dalam melindungi aktor memang menunjukkan adanya rasa kepedulian dan memahami pentingnya saling menjaga. Namun, ketegangan yang terjadi saat kerusuhan berimbas pada kondisi fisik dan psikologis sejumlah maba. Teatrikal yang berakhir ricuh tersebut memicu rasa cemas yang berlebih hingga guncangan emosional bagi sebagian mahasiswa baru. Akibatnya, sejumlah peserta UFO yang mengalami syok dan serangan panik harus segera ditangani medis untuk mendapatkan pertolongan pertama. AN, salah satu anggota Medis UFO, menjelaskan bagaimana banyak mahasiswa baru mengalami serangan kecemasan atas teatrikal tersebut. 

“Jadi yang paling banyak itu sebenarnya waktu teatrikal. Karena teatrikal itu kan itu dramanya tentang, kemarin seingat aku, teror gitu kan terhadap seorang perempuan. Dan mereka tuh aktingnya bagus banget. Jadi itu kayak akhirnya mereka mungkin ngerasain langsung apa yang dirasain sama aktornya itu. Akhirnya mereka banyak yang ke-trigger dan akhirnya di medis itu banyak pasiennya,” terang AN. 

AN juga mengatakan bahwa ia tidak menerima informasi mengenai tema maupun jalan cerita teatrikal. “Sebenarnya dari kita sendiri kan nggak ada diinfoin ya teaterikalnya tuh bakal kayak gimana. Kita tuh pokoknya harus setiap ada sesi atau kayak acara kita tuh selalu emang harus berjaga-jaga di sekitar situ,” jelasnya.

AN mengakui tidak menyangka banyak mahasiswa akan tumbang saat sesi teatrikal. “Jadi kita nggak expect yang gimana-gimana gitu. Karena kita juga nggak diinfoin teaterikalnya bakal kayak gimana.“ 

Melalui wawancara dengan Retorika (8/8), maba berinisial KM yang ikut berpartisipasi pada hari pertama UFO melaporkan bahwa panitia UFO tidak mempertimbangkan orang-orang yang merupakan korban dari kekerasan secara fisik.

“Kamu tidak bisa mengantisipasi bagaimana orang yang rentan (pada kekerasan) bereaksi. Ada orang yang kalau mau melawan itu ngerti pesan, ngerti cara, dan ngerti konteks situasi. Tapi ada juga yang rawan, dan mereka gak dikasih aba-aba,” ujarnya.

Tambah lagi, dirinya merasa reaksi dari seseorang yang mengidap trauma tidak diantisipasi oleh para panitia UFO. Bahkan, meskipun, sistem formulir riwayat kesehatan sudah disediakan oleh para panitia, sistem pemberian pita dilaporkan cenderung mengakibatkan kehilangan data.

“Iya, (kejadian tersebut termasuk) berlebihan kalau gak ada pertimbangan untuk orang yang rawan. Kan gak tahu kalau ada yang punya sejarah kekerasan fisik. Apalagi koordinasi dari Tim Medisnya kayak kurang. Iya, contohnya pas PKKMB Fakultas sebelum UFO, aku sudah didata di formulir punya riwayat mental health. Tapi pas Day 1 UFO, datanya kayak gak ada. Jadi koordinasinya kurang efisien, ada data yang hilang.”

Tim Medis UFO kemudian mengklarifikasi terdapat beberapa masukan pada formulir riwayat penyakit yang dilewatkan karena dianggap tidak spesifik merujuk kepada suatu penyakit. 

“Jadi kayak kalau misal dia cuma ngasihnya asam lambung, nah kita kan nggak tahu asam lambungnya apa. Jadi kayak ya mungkin itu salahnya juga dari yang isi formnya. Kayak isi formnya nggak lengkap, jadi kita nggak bisa masukin dia ke kategori apa pun,” ujar AN.

Akibat kerusuhan pada hari pertama, Panitia UFO sempat dipanggil oleh Dekanat FISIP Unair. Ezy menjelaskan bahwa pertemuan tersebut tidak terbatas membahas kerusuhan yang terjadi saat penampilan teatrikal. Namun, dalam pertemuan tersebut, panitia UFO meluruskan bahwa mata acara teatrikal pada pagi hari hanya settingan

Dekanat FISIP Unair menegaskan bahwa dalam pemilihan isu atau topik harus sesuai dengan substansi dan menghindari hal-hal yang sensitif seperti pencemaran nama baik, menghina lambang negara, menjelek-jelekkan personal, dan menyinggung SARA. “Supaya menghindari juga kejadian seperti di hari pertama, di paginya itu. Terus juga soal tentang isu yang dibawa, juga supaya tidak terjadi hal-hal yang mungkin di luar substansi kayak menghina ke personal, atau misalnya membawa hal-hal berbau SARA, atau juga menghina lambang negara,” ujar Ezy.

Menanggapi peristiwa ini, Pihak Dekanat menegaskan bahwa kebebasan berpendapat harus ditekankan. Mereka tidak melarang isu-isu tertentu selama masih sesuai dengan substansi kegiatan. Dekanat berharap panitia acara PKKMB fakultas lebih memperhatikan cara penyampaian isu serta mitigasi yang tepat.

 

Penulis: Aini, Dian, Dzakii, Kal, Radian

Editor: Claudya 

 


TAG#dinamika-kampus  #fisip-unair  #humaniora  #universitas-airlangga