
Penutupan PKKMB Unair 2026 yang digelar hingga pukul 22.00 WIB di Kampus C memicu keluhan akibat koordinasi yang mendadak dari pihak Ditmawa. Minimnya sosialisasi terkait aturan penjemputan membingungkan mahasiswa baru dan panitia.
Retorika.id - Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, penutupan Pengenalan Kehidupan Mahasiswa Kampus (PKKMB) 2026 Universitas Airlangga diadakan mulai pukul 5 sore hingga 10 malam waktu setempat pada Sabtu (8/8/2026). Kegiatan yang diadakan di Kampus C Unair ini menyediakan panggung outdoor, yakni di sekitar Gedung Multipurpose dan Gedung Nano.
Untuk mengatasi sesi open gate yang beririsan dengan waktu Magrib, panitia Amerta mengarahkan mahasiswa baru (maba) muslim melakukan ibadah di Gedung Gor bagi yang laki-laki, Masjid Ulul Azmi bagi yang perempuan, serta on the spot atau di sekitaran panggung. Beralaskan kardus yang memang disediakan panitia, maba terlihat salat di sisi luar gedung fakultas sains dan teknologi, dari jalanan hingga teras dengan penerangan yang redup.
Di samping itu, teknis pemulangan maba merupakan hal yang menjadi sorotan. Informasi yang beredar pada hari sebelumnya menyebutkan
adanya larangan penjemputan secara pribadi. Maba yang tidak membawa kendaraan diimbau menggunakan Bus Unair menuju Kampus A ataupun Kampus B Unair guna mencegah kepadatan menumpuk di Kampus C.
Kabar ini tampaknya tidak tersebar rata pada seluruh mahasiswa baru. Kurniawati, wali mahasiswa baru program studi Farmasi, mengaku belum mengetahui pembatasan terkait peraturan penjemputan. Ia setia menunggu anaknya di gerbang dekat Gedung ACC pada pukul setengah sebelas malam karena khawatir. “Saya kebetulan ini jauh-jauh dari Sidoarjo juga sih berusaha untuk menjemput karena ya khawatir karena malam acaranya,” ujarnya.
Lathifah, salah satu panitia Pendamping Kelompok (PK), menyebutkan ia baru mengetahui penyelenggaraan acara akan dilakukan saat malam dua hari sebelum kegiatan. “Aku tuh merasa Ditmawa (Direktorat Kemahasiswaan) ini tuh kayak terlalu mendadak gitu,” tuturnya.
Informasi terkait kostum panitia dan aturan penjemputan juga baru diterimanya pada pukul 20.00 WIB, Jumat (7/8). Ia berterus terang tidak dapat menjawab pertanyaan yang dilontarkan maba karena kabar yang didapat oleh para panitia masih simpang siur hingga tengah malam.
“Banyak banget hal-hal yang belum difiksin. Bahkan kemarin malam, kayak jam 10-an itu, tuh, Koor (koordinator) Garudaku tuh bilang kayak, 'Bentar ya, guys, ini masih mau difiksin dulu sama Ditmawanya,' gitu. Kayak, aneh banget, udah jam 10 loh,” gerutunya.
Penyelenggaraan penutupan PKKMB yang dilaksanakan di malam hari turut menimbulkan keresahan baru di antara maba. Salah satunya terkait masalah keamanan dalam perjalanan pulang, terlebih bagi maba perempuan. Penutupan selesai pada pukul 22.00 WIB, dilanjut dengan pengaturan mobilisasi hingga pukul 22.30 WIB.
Hal ini disampaikan pula oleh Mila, maba program studi Statistika. Menurutnya, selesainya acara yang begitu larut membuka banyak kekhawatiran di antara maba. “Kalau malam itu jalanan agak sepi ya jadi kalau anak rantau pulang sendiri agak berbahaya tapi kalo dijemput ortu (orang tua) agak fine,” ungkapnya.
Selain Mila, Sheril yang merupakan maba program studi Kedokteran Gigi, menyampaikan juga tidak tahu-menahu soal larangan penjemputan. Namun, ia mendapat informasi adanya fasilitas Bus Unair bagi yang tidak membawa kendaraan dari PK Ksatrianya.
“Untungnya kalo tadi di sini tuh kan katanya ada mobilisasi dari sini (Kampus C), difasilitasi shuttle bus ke kampus A dan kampus B jadi yang daerah rumah kosnya deket situ bisa naik shuttle bus dulu baru di sarankan pesen Gojeknya di situ,” terangnya.
Penulis: Claudya Liana, Hazhiyah A. A., Nailah R. Tsabita
Editor: Naila I. Putri Santoso
TAG: #dinamika-kampus #pendidikan #sosial #universitas-airlangga
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua