
Izinkanlah daku, Bakung Putih, untuk mencintai manusia. Tiadalah konsekuensinya, karena cinta dapat memperindah segalanya, kan?
Sang Bakung Putih mekar di telapakku.
Tangkainya ialah nadiku, akarnya di jantung hatiku.
Dengan kasih sayang ia mekar, begitu besar, begitu lebar
Kujamin, cintanya mampu membuatmu terkapar
Sayangnya, si Bakung terlalu mencinta
Mekar terlalu sering, hingga akarnya dicabut sang pencipta
Namun si Bakung berontak, dan pencipta kalah telak
Kini, jantung hatiku yang meledak tidak lagi terelak
Aih, aih, untuk siapalah si Bakung mencinta?
Untuk sang dia, tentu saja.
Manusia yang tiada duanya di semesta
Pemilik Bakung yang dirantai jarak oleh cerita
dir="ltr">=====
“Oh, Bakung cintaku, tolong berikan kelopakmu padaku!”
“Jikalau kau cintaiku, pasti kau mau!”
Apalah, apalah, manusia?
Tiada cukupkah cinta yang Bakung tebarkan?
Tiada arti-kah, mekar kelopak yang Bakung buatkan?
Namun, sang manusia sudah bersabda atas dalil cinta
Maka, atas dalil cinta pulalah, sang Bakung melepas kelopaknya.
“Lagi! Berikan putik sari, cintaku!”
“Jikalau kau kasihiku, pasti kau mau!”
Aduhai, aduhai, manusia
Tiada cukupkah kelopak yang Bakung tanggalkan?
Tiada artinya kah pengorbanan yang ia berikan?
Namun, sang manusia sudah bertutur dalam nama cinta
Maka, dalam nama cinta pulalah, sang Bakung mencabut putik sarinya.
“Terakhir, kali ini terakhir, sayangku! Tanamkan benihku padamu, sayangku.”
“Jikalau kau menyayangiku, pasti kau mau!”
Apalah, apalah manusia?
Tiada cukupkah putik sari yang kau cicipi, hah?
Tiada habisnya dahagamu, yang mendatangkan musibah?
Namun, sang manusia sudah berucap atas nama cinta
Maka, dalam nama cinta pulalah, sang Bakung membunuh dirinya.
=======
Sang Bakung Putih layu di telapakku
Tangkainya menyumbat nadiku, akarnya mencekik jantung hatiku
Dengan pasrah ia layu, begitu kuncup, begitu busuk.
Kujamin, mayatnya mampu membuat hatimu tertusuk.
Sayangnya, si Bakung terlalu mencinta
Menyayangi terlalu dalam, hingga tak lagi tercipta
Si Bakung menyesal, saat manusia menang telak
Kini, pembuangan berdalih kebosanan tidak lagi terelak
Aih, aih, untuk siapalah si Bakung tersiksa?
Untuk sang dia, tentu saja.
Makhluk yang dibenci malaikat di angkasa
Penindas Bakung, manusia peluruh asa
TAG: #karya-sastra #romansa #seni #
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua