» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Sastra & Seni
Bakung Putih, Sang Manusia
30 Mei 2025 | Sastra & Seni | Dibaca 513 kali
Bakung Putih, Sang Manusia: Bakung Putih, Sang Manusia Foto: syblinks via Pinterest
Izinkanlah daku, Bakung Putih, untuk mencintai manusia. Tiadalah konsekuensinya, karena cinta dapat memperindah segalanya, kan?

Sang Bakung Putih mekar di telapakku. 

Tangkainya ialah nadiku, akarnya di jantung hatiku.

Dengan kasih sayang ia mekar, begitu besar, begitu lebar 

Kujamin, cintanya mampu membuatmu terkapar

 

Sayangnya, si Bakung terlalu mencinta

Mekar terlalu sering, hingga akarnya dicabut sang pencipta

Namun si Bakung berontak, dan pencipta kalah telak

Kini, jantung hatiku yang meledak tidak lagi terelak

 

Aih, aih, untuk siapalah si Bakung mencinta?

Untuk sang dia, tentu saja.

Manusia yang tiada duanya di semesta

Pemilik Bakung yang dirantai jarak oleh cerita

 


dir="ltr">=====

 

“Oh, Bakung cintaku, tolong berikan kelopakmu padaku!”

“Jikalau kau cintaiku, pasti kau mau!”

 

Apalah, apalah, manusia?

Tiada cukupkah cinta yang Bakung tebarkan?

Tiada arti-kah, mekar kelopak yang Bakung buatkan?

Namun, sang manusia sudah bersabda atas dalil cinta

Maka, atas dalil cinta pulalah, sang Bakung melepas kelopaknya.

 

“Lagi! Berikan putik sari, cintaku!”

“Jikalau kau kasihiku, pasti kau mau!”

 

Aduhai, aduhai,  manusia

Tiada cukupkah kelopak yang Bakung tanggalkan?

Tiada artinya kah pengorbanan yang ia berikan?

Namun, sang manusia sudah bertutur dalam nama cinta

Maka, dalam nama cinta pulalah, sang Bakung mencabut putik sarinya.

 

“Terakhir, kali ini terakhir, sayangku! Tanamkan benihku padamu, sayangku.”

“Jikalau kau menyayangiku, pasti kau mau!”

 

Apalah, apalah manusia?

 

Tiada cukupkah putik sari yang kau cicipi, hah?

Tiada habisnya dahagamu, yang mendatangkan musibah?

Namun, sang manusia sudah berucap atas nama cinta

Maka, dalam nama cinta pulalah, sang Bakung membunuh dirinya.

 

=======

 

Sang Bakung Putih layu di telapakku

Tangkainya menyumbat nadiku, akarnya mencekik jantung hatiku

Dengan pasrah ia layu, begitu kuncup, begitu busuk.

Kujamin, mayatnya mampu membuat hatimu tertusuk.

 

Sayangnya, si Bakung terlalu mencinta

Menyayangi terlalu dalam, hingga tak lagi tercipta

Si Bakung menyesal, saat manusia menang telak

Kini, pembuangan berdalih kebosanan tidak lagi terelak

 

Aih, aih, untuk siapalah si Bakung tersiksa?

Untuk sang dia, tentu saja.

Makhluk yang dibenci malaikat di angkasa

Penindas Bakung, manusia peluruh asa

 
 
Penulis: Naara Nava A.L.
Editor: Najma Tsabita


TAG#karya-sastra  #romansa  #seni  #