» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Pop Culture
Pengepungan di Bukit Duri: Sebuah Refleksi Jika Orde Baru Terulang Lagi
24 April 2025 | Pop Culture | Dibaca 996 kali
Pengepungan di Bukit Duri: Sebuah Refleksi Jika Orde Baru Terulang Lagi: Pengepungan di Bukit Duri: Sebuah Refleksi Jika Orde Baru Terulang Lagi Foto: tix.id
Pada 17 April 2025, film Pengepungan di Bukit Duri resmi dirilis di bioskop seluruh Indonesia. Tema yang diangkat adalah aksi dan thriller serta mengambil latar belakang tahun 2027. Dalam film ini, masa depan Indonesia digambarkan suram dan menghadapi banyak kerusuhan yang sama seperti di masa Orde Baru.

Retorika.id - Pengepungan di Bukit Duri merupakan mahakarya terbaru Joko Anwar atau yang akrab disapa Bang Jokan, salah satu sutradara kawakan Indonesia, yang telah tayang di layar lebar sejak 17 April 2025. Biasanya hadir dengan film bergenre horor, Bang Jokan kini hadir menampilkan cerita baru dengan film bergenre drama-thriller. Film ini diproduksi oleh Come and See Pictures yang berkolaborasi dengan Amazon MGM Studio. 

 

Pengepungan di Bukit Duri memiliki latar waktu di masa depan yaitu pada tahun 2027. Meski berlatar dua tahun dari saat ini, keadaan Indonesia justru digambarkan mundur kembali ke masa Orde Baru. Penggambaran masa tersebut diwakilkan dengan unsur kerusuhan yang merajalela di Indonesia, munculnya kembali diskriminasi kepada etnis Tionghoa, penormalisasian kekerasan yang terjadi, dan unsur-unsur yang


mencerminkan kekacauan lainnya.

 

Dikisahkan seorang guru pengganti bernama Edwin (Morgan Oey) yang baru mulai bekerja di SMA Bukit Duri. Sekolah tersebut merupakan sarang dari anak-anak nakal yang tidak diterima sekolah mana pun. Sedangkan, Edwin sendiri merupakan keturunan etnis Tionghoa sehingga tidak mudah baginya untuk beradaptasi di sana. Para murid mengenal kekerasan dan sumpah serapah lebih baik dibandingkan rasa hormat dan sopan santun. Bahkan mereka tidak ragu untuk menghina gurunya sendiri yang merupakan kaum minoritas dan rentan. 

 

Seruan-seruan membela demokrasi telah redam di tengah hinaan-hinaan rasis. Seakan lupa dengan catatan sejarah Indonesia, tokoh-tokoh dalam film Pengepungan di Bukit Duri bersikap tak peduli dan hanya mementingkan ego masing-masing. Umpatan kasar terdengar lebih keras dibandingkan upaya perdamaian. Jika sejarah kelam telah dilupakan pelajarannya, maka kehancuran sebuah negara telah nyata adanya. 

 

Selain Edwin yang diperankan oleh Morgan Oey, film Pengepungan di Bukit Duri dilakonkan oleh aktor dan aktris pamor Indonesia yang lain. Omara Esteghlal, Hana Malasan, Fatih Unru, Endy Arfian, Emir Mahira, Satine Zaneta, dan lainnya turut bermain peran dalam film drama-thriller ini. Menariknya adalah hampir semua aksi di film ini tidak menggunakan pemeran pengganti. Bang Jokan sendiri mengatakan bahwa 95% adegan dilakukan oleh pemain aslinya. 

 

Pengepungan di Bukit Duri tidak sekedar menceritakan kisah tentang seorang guru dan para muridnya, tetapi juga soal sebuah negara yang mulai hancur dari dalam. Tujuan dibuatnya film ini bukan sekadar untuk hiburan atau hanya menampilkan ketegangan aksi para tokoh, tetapi juga sebagai bahan diskusi mengenai realitas di Indonesia. Isu-isu sosial yang sebenarnya nampak pada kehidupan sehari-hari saat ini pun dapat dikritisi dengan film ini sebagai gambarannya. 

 

Dunia yang digambarkan dalam film Pengepungan di Bukit Duri adalah gambaran dunia distopia jika Indonesia tidak belajar dari sejarah. Di Indonesia ada hukum berlaku untuk menegakkan kebenaran. Namun, hukum tersebut justru diacak-acak atas kepentingan penguasa. Rakyat hanya bisa melihat tanpa bisa bersuara. Mereka dibungkam pelan-pelan tanpa sadar, dan baru merasa ketika semua sudah tidak bisa dikendalikan. Jika keadaan saat ini tidak diperbaiki, maka mungkin saja hal yang dialami tokoh dalam film akan menjadi kenyataan. 

Penulis: Salwa Nurmedina Prasanti

Editor: Vlea Viorell Indie P.


TAG#film  #sejarah  #seni  #