» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Aksi Tolak UU TNI Surabaya Diwarnai Represi Aparat
24 Maret 2025 | Liputan Khusus | Dibaca 565 kali
Aksi Tolak UU TNI Surabaya Diwarnai Represi Aparat: Aksi Tolak UU TNI Surabaya Diwarnai Represi Aparat Foto: Dokumentasi Pribadi Tim Retorika
Aksi tolak Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) di depan Gedung Negara Grahadi berubah menjadi medan bentrokan antara massa aksi dan aparat kepolisian. Suara orasi yang menggelegar sejak siang perlahan digantikan dengan suasana ricuh. Represi aparat semakin brutal dan penangkapan terjadi di berbagai titik sekitar lokasi.

Retorika.id - Siang ini di depan Gedung Grahadi, Senin (24/03/25) pukul 13.30 WIB, massa dari berbagai elemen turun dalam aksi dengan tuntutan menolak UU TNI yang dianggap membuka ruang bagi militer untuk kembali mengambil peran dalam ruang-ruang jabatan sipil.

Aksi diawali dengan orasi dari sejumlah massa diiringi dengan aksi simbolik pembakaran ban dan spanduk di arena aksi dilanjutkan dengan penampilan teatrikal dan pembacaan puisi. Meski sebagian besar massa aksi adalah mahasiswa, berbagai elemen melebur menjadi satu dalam barisan sehingga ditegaskan bahwa ruang aksi merupakan ruang kolektif bagi seluruh elemen masyarakat yang turun.

“Ini aksi rakyat, maka jangan ada yang menyerukan kalau ini hanya aksi mahasiswa. Rakyat bersatu, melebur menjadi satu,” seru salah satu massa aksi saat berorasi.

Ketegangan mulai terasa sejak pukul 15.20 WIB, ketika massa berpindah ke sekitar Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) di samping Grahadi. Aparat yang sejak awal


berjaga dengan tameng dan seragam beratribut lengkap semakin mendekat, mempersempit ruang gerak massa. Situasi kian memanas pada pukul 16.22 WIB ketika terlihat ada lemparan molotov dari arah massa. Klakson dari mobil water cannon juga terdengar beberapa kali untuk memperingatkan massa untuk segera menjauh dari titik aksi. Dalam hitungan detik, semburan water cannon ditembakkan ke arah barisan massa. Teriakan terdengar dari mereka yang terdorong mundur. Sebagian berusaha bertahan, sebagian lain berlarian ke arah Balai Kota, mencari celah perlindungan.

Terlihat beberapa ambulans datang pukul 16.43 WIB untuk mengevakuasi massa yang menjadi korban luka-luka, tetapi belum terkonfirmasi hingga saat ini terkait data korban yang mengalami luka-luka tersebut. Pukul 16.54 WIB, terpantau seorang peserta aksi memanjat tiang dan berusaha merusak kamera CCTV. Dari sudut lain, aparat mulai mendorong maju dengan formasi bertameng. Perlahan komando untuk mundur dari beberapa koordinator lapangan aksi terdengar. 

Sementara itu, beberapa massa yang masih bertahan mulai melempar batu ke arah aparat pada pukul 16.55 WIB, mencoba memberikan perlawanan. Di sisi lain jalan, beberapa peserta aksi mulai menarik kawat berduri yang dipasang sebagai pembatas pada pukul 17.04 WIB. Riuh-ricuh mulai mereda menjelang waktu magrib. 

Ketika sebagian massa mulai tercerai-berai, aparat semakin gencar melakukan penangkapan. Pukul 18.40 WIB, tiga mahasiswa Unair—dua dari FISIP dan satu dari Fakultas Vokasi—ditangkap. Dua orang dari FISIP terkonfirmasi tidak ditangkap di tengah bentrokan, melainkan setelah mencoba berlindung di dalam McDonald's Delta. Menurut keterangan Fungsionaris BEM FISIP Unair, mereka dipiting dan dipukul sebelum akhirnya dibawa ke Polrestabes Surabaya.

Selain mereka, berdasarkan laporan yang masuk ke LBH Surabaya, beberapa peserta aksi lainnya terhitung sebanyak 6 orang juga dikabarkan terkonfirmasi menjadi korban penangkapan dan represi oleh aparat. Tak hanya itu, 25 orang belum terkonfirmasi tetapi terduga menjadi korban penangkapan dari berbagai elemen, beberapa massa juga belum bisa dihubungi. Hingga berita ini ditulis, KontraS dan LBH Surabaya masih berkoordinasi dengan kepolisian untuk memastikan siapa saja yang telah diamankan dan melakukan koordinasi lebih lanjut.

Meski massa aksi terpantau sudah banyak meninggalkan titik aksi, aparat kepolisian masih berjaga dan melakukan penyisiran di sekitar lokasi aksi. Bahkan, barikade polisi masih terpampang dengan masif hingga mencapai sepanjang Jalan Tunjungan.

Hingga pukul 21.00 WIB, massa aksi yang ditangkap oleh aparat dan diamankan di polrestabes Surabaya belum dapat ditemui karena dikabarkan bahwa ada upaya aparat menghadang dan melarang kuasa hukum dari elemen KontraS Surabaya untuk masuk dan melakukan koordinasi membantu korban. 

 

Penulis: Afi Khoirunnisa dan Aveny Raisa

Editor: Salwa Nurmedina


TAG#demonstrasi  #sejarah  #wong-cilik  #