
Memendam kerusakan raga dan batin dalam cerita kubur nan sunyi, juga sejarah kelam yang mengikat darah kematian dalam satu ruangan penuh suara yang dibungkam. Dirinya sendiri tak mengerti mengapa harus mengalami semua ini. Tiada keadilan, ataupun pengakuan, untuk seluruh korban.
Retorika.id - Novel Dari Dalam Kubur adalah novel yang ditulis oleh Soe Tjen Marching dengan cetakan pertama pada tahun 2020. Novel ini menggunakan dua sudut pandang lintas generasi, yaitu Karla dan Mama Karla. Latar waktu pada cerita mengangkat beberapa peristiwa kelam pada tahun 1965, 1998, juga pasca reformasi. Penyajian cerita dalam novel mengambil sudut pandang kaum etnis Tionghoa dalam menghadapi polemik kekerasan massal kaum marjinal. Pengangkatan cerita dari sudut pandang masyarakat Tionghoa ini menyajikan alur yang kompleks juga fakta baru yang jarang diketahui oleh masyarakat. Awalan alur cerita dibawakan dengan lambat, lalu ditabrak dengan plot twist yang berlapis memberikan kesan tersendiri bagi pembaca. Novel ini akan membuka pandangan baru dalam melihat sejarah kelam Indonesia, tentang bagaimana perempuan berjuang dalam konflik batin juga fisik.
“Kisah ini bukan fiktif belaka. Nama tokoh, tempat, dan peristiwa bahkan lebih nyata dari segala kisah yang ada” begitulah tulisan pada lembar pertama
novel ini.
Bercerita tentang Karla, seorang anak yang selalu mempertanyakan kehadiran dirinya dalam lingkungan keluarga. Karla adalah seorang anak yang masa kecilnya memiliki sifat ceria dan baik. Namun dalam batin Karla, penuh akan tanda tanya dan rasa ketidakadilan akan perilaku yang selalu dialaminya dalam lingkungan keluarga. Ibu Karla, Djing Fei, adalah seseorang yang memiliki perilaku pelit juga aneh. Karla selalu mendapatkan ketidakadilan dari setiap keputusan yang diambil oleh ibunya. Masa kecil Karta penuh akan rasa minder karena perilaku Djing Fei yang mendidik dia dengan cara yang tidak dilakukan ibu pada umumnya. Perbedaan fisik Karla dengan keluarganya, juga pola asuh ibunya yang lebih menyayangi kakak pertama Karla memunculkan kebencian dari hati Karla. Ketidakadilan itu membuat kebencian akan ibunya terus tumbuh bahkan sampai dia menikah. Namun, setiap peristiwa yang dialami oleh Karla ternyata memiliki cerita dibaliknya. Cerita ini kemudian tidak hanya mewakili satu kisah, tetapi juga banyak kisah dari korban peristiwa kelam.
Namun, seiring pembaca menelusuri setiap halaman, citra “monster” yang selama ini dilekatkan pada Djing Fei perlahan memudar. Soe Tjen berhasil membawa pembaca tumbuh bersama Karla, menyaksikan prosesnya memahami asal-usul dirinya sekaligus mengungkap berbagai rahasia kelam sang ibu yang selama ini tersembunyi dalam kepahitan. Melalui pendekatan tersebut, novel ini menawarkan cara pandang baru dalam mengonsumsi masa kelam sejarah Indonesia tahun 1965. Alur cerita yang bergerak mundur memudahkan pembaca mengikuti perjalanan Karla. Berbagai bentuk trauma berkepanjangan. Mulai dari luka, teror, intimidasi, kekerasan, hingga upaya-upaya rekonsiliasi yang berulang kali gagal, digambarkan secara perlahan, seiring dengan usaha Karla memahami alasan di balik sikap Djing Fei terhadap dirinya.
Inilah yang menjadikan novel ini sebagai pilihan fiksi yang tepat untuk memahami rangkaian gejolak politik sejak dekade 1960-an hingga masa Orde Baru dari perspektif korban. Meski dikemas dalam bentuk fiksi, kisah dalam novel ini memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan pengalaman nyata para korban. Soe Tjen Marching sendiri mengakui bahwa sejumlah tokoh dalam novel ini terinspirasi dari kisah para korban tragedi 1965. Tidak hanya itu, novel ini juga berani menyinggung tokoh-tokoh yang terlibat, baik secara implisit maupun eksplisit, dalam tragedi pembantaian 1965.
Walaupun novel ini ditulis dengan berpijak pada fakta sejarah, terdapat perdebatan terkait pelabelan novel Dari Dalam Kubur sebagai karya sastra. Dari segi estetik, novel ini belum sepenuhnya berhasil membangun kedekatan emosional antara pembaca dan tokoh-tokoh di dalamnya. Alur dan penyajiannya membuat pengalaman membaca terasa lebih berat, sehingga keintiman dengan karakter tidak selalu terbentuk secara kuat.
Namun demikian, terlepas dari catatan tersebut, kehadiran Dari Dalam Kubur tetap memiliki arti penting dalam khazanah pustaka yang membahas tragedi 1965. Novel ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam menghadirkan perspektif korban ke dalam ranah fiksi, sekaligus membuka ruang refleksi bagi pembaca untuk memahami kembali salah satu periode paling kelam dalam sejarah Indonesia.
Penulis: Istiana Wahyu Dewi, Teresa Diannusa
TAG: #demokrasi #pemerintahan #politik #sejarah
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua