
Serukan kematian Arianto Tawakal, masyarakat Surabaya melakukan Aksi Kamisan ke-899 di depan Gedung Grahadi pada Kamis, (26/02/26). Seruan Solidaritas dihadiri oleh berbagai kalangan. Beberapa orasi juga penampilan hadir sebagai bentuk rasa kekecewaan atas kinerja aparat kepolisian.
Retorika.id - Kamis (26/02/2026), Aksi Kamisan dilakukan di Kota Surabaya, tepatnya di Taman Apsari pada pukul 15.00 WIB. Aksi kamisan yang ke-899 ini adalah seruan solidaritas untuk warga Surabaya atas meninggalnya Arianto Tawakal, pemuda berusia empat belas tahun yang tewas dibunuh oleh Brimob pada 19 Februari kemarin. Seruan solidaritas yang dihadiri kurang lebih lima puluh orang masyarakat Surabaya ini dikawal ketat oleh aparat keamanan.
Aksi Kamisan yang mengusung tema “Polisi Pembunuh: Kita Butuh Polisi Profesional, Bukan Polisi Pembunuh” ini dimulai dengan membentangkan banner bertuliskan “Polisi Pembunuh”. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk kekecewaan masyarakat Surabaya akan kematian yang dialami oleh Arianto Tawakal. Masyarakat yang datang dalam
aksi ini berdiam diri sambil membawa beberapa poster yang bertuliskan kritikan kepada aparat kepolisian.
Orasi dilakukan beberapa kali membahas tentang pemerintahan dan aparat yang seringkali tidak berpihak kepada rakyat. “Aparat keamanan yang katanya akan melindungi rakyat, malah membunuh anak berusi 14 tahun teman-teman,” seru salah satu orator.
Dalam aksi ini, terlihat pengamanan ketat dari pihak kepolisian. Beberapa polisi terlihat menyebar di seluruh sudut Taman Apsari untuk mengamankan Aksi Kamisan ini. Terlihat kawat berduri dipasang sepanjang pintu gerbang gedung Grahadi. Pemasangan kawat berduri ini dirasa sebagai bentuk tertutupnya pemerintah dalam mendengarkan aspirasi rakyat. Padahal massa Aksi Kamisan tidak datang untuk menyerbu Gedung Grahadi, tetapi untuk berdiam diri sambil menyuarakan kekecewaannya terhadap pemerintah juga kepolisian.
“Katanya mengayomi masyarakat, tapi nyatanya mereka membunuh,” ucap orator yang lainnya.
Menjelang pukul 16.00 WIB, terdapat penampilan monolog yang menceritakan pentingnya peran sastra sebagai senjata, juga peran masyarakat dalam bersuara. “Intelektual tanpa hasrat pemberontakan adalah perpanjangan tangan negara,” sebut penampil dalam monolognya.
Monolog ini juga menceritakan tentang keresahan hati akan kepolisian yang tidak berpihak ke masyarakat. “Apakah kalian percaya orang ini (polisi)? banyak yang dibunuh oleh polisi, mungkin besok adalah kalian, atau mungkin sepulang ini (kamisan) kalian akan diikuti oleh polisi, atau mungkin saya, saya tidak tau dan tidak peduli,” sebutnya dalam penampilan monolog.
Aksi Kamisan di Surabaya ini diakhiri dengan pembuatan mimbar bebas yang berisi lilin juga foto dari Arianto Tawakal. Lilin dinyalakan dan doa dipanjatkan untuk mengenang kepergian Arianto Tawakal. Dalam keheningan, massa aksi duduk di sekitar mimbar tersebut dan merenungi kepergian seorang anak empat belas tahun yang tewas dibunuh oleh Brimob. Kemudian orator memulai beberapa renungan dan evaluasi yang seharusnya dilakukan oleh negara ini agar kejadian seperti kematian Arianto Tawakal tidak terulang kembali. Beberapa diskusi terbuka terkait masalah di negeri ini dilakukan setelah mendoakan Arianto Tawakal. Beberapa massa aksi mulai membubarkan diri dan Aksi kamisan ini berakhir sekitar pukul 18.00 WIB.
---
Penulis: Teresa Diannusa
Editor: SalwaNurmedina
TAG: #aspirasi #demokrasi #kerakyatan #pemerintahan
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua