» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Pop Culture
“Sore: Istri dari Masa Depan”: Renungan tentang Cinta, Waktu, dan Takdir
23 Juli 2025 | Pop Culture | Dibaca 1056 kali
“Sore: Istri dari Masa Depan”: Renungan tentang Cinta, Waktu, dan Takdir Foto: instagram.com/cerita_films
Apa yang akan kamu lakukan jika diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu? Mengubah masa lalu? Memperbaiki suatu konflik? Atau mencegah kematian? Lewat perjalanan tokoh utamanya, Sore, film ini menawarkan ‘jalan pulang’ yang penuh makna. Bukan untuk menghindari takdir, melainkan untuk memahami apa yang tak bisa kita ubah.

Retorika.id - Pada Kamis (10/07/2025), "Sore: Istri dari Masa Depan" mulai naik layar di bioskop Indonesia dan menjadi tontonan incaran khalayak umum dari masyarakat awam yang penasaran hingga para penikmat film. Dalam kurun waktu sepuluh hari, peningkatan penonton film ini terjadi secara signifikan dan pesat dengan berhasil menggaet lebih dari satu juta penonton. Disutradarai oleh pegiat film ternama, Yandy Laurens, “Sore: Istri dari Masa Depan” menyapa penonton dengan alur cerita yang reflektif, hangat, berseni, dan epik. Film ini menjadi langkah baru dalam eksplorasi Yandy dengan menjajal genre fiksi ilmiah dan romansa dalam satu bingkai yang sukses dibungkus secara nonverbal dan menyentuh hati penonton dengan interpretasi mereka masing-masing. 

“Sore: Istri dari Masa Depan” bukan sekadar film romansa percintaan pada umumnya. Film


ini berfokus pada tiga perspektif: Jonathan (Dion Wiyoko), Sore (Sheila Dara), dan konsep waktu. Diceritakan bahwa Sore kembali ke masa lalu untuk bertemu kembali dengan mendiang suami, Jonathan. Sore terus terjebak dalam waktu dan ia harus mencari tahu apa yang harus ia lakukan dalam putaran waktu itu. Apakah untuk mengubah Jonathan? Apakah untuk mengubah masa lalu? Ataukah untuk merefleksikan hubungan mereka berdua selama ini?

Sesuai dengan genre-nya, “Sore: Istri dari Masa Depan” memberikan sentuhan romansa yang kuat melalui satu kalimat ikonik yang beberapa kali Sore ucapkan, yakni, "Da moram živjeti deset tisu?a života, uvijek bih izabrala tebe," yang memiliki arti If I had to live ten thousand lives, I would always choose you.” Selelah apa pun ia terhadap keadaan, Sore tetap manusia biasa, ia tak bisa melawan takdir. Apa yang telah ditentukan untukmu, akan tetap menjadi milikmu.

Dinamika pasangan antara Jonathan dan Sore dalam film ini terasa nyata, selalu naik dan turun, tetapi itulah yang harus dihadapi dalam sebuah hubungan. Komunikasi akan selalu diperlukan dalam hubungan, bukan sebagai kunci, melainkan sebagai alat untuk menuju kesepahaman. Dari kesepahaman inilah tumbuh rasa percaya satu sama lain yang akan membangun dinamika hubungan yang sehat kedepannya.

Film "Sore: Istri dari Masa Depan" meninggalkan suatu goresan lebar yang akan selalu membekas di benak penontonnya. Salah satu interpretasi nonverbal yang paling banyak dibicarakan dan tersebar di berbagai platform media sosial adalah bahwa kita tidak bisa menyelamatkan siapa pun. Seseorang hanya akan berubah dengan usaha dan keinginannya sendiri.

Tak hanya tentang masa depan dan masa lalu, film "Sore: Istri dari Masa Depan" juga mengajak penonton untuk merefleksikan masa kini yang sering kita abaikan. Momen yang sedang kita jalani, lewati, dan upayakan ini seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari diri kita. Mungkin kita sering mendengar ungkapan, “aku rela mati untukmu.” Namun melalui film ini, kita diingatkan bahwa jika kita benar-benar mencintai seseorang, kita juga bisa berkata, “aku rela hidup untukmu.”

Film "Sore: Istri dari Masa Depan" cocok untuk ditonton sendiri, bersama teman, maupun pasangan. Makna dan interpretasinya dapat berbeda-beda, tergantung sudut pandang masing-masing penonton, tetapi tetap dapat ditonton dan dinikmati bersama.

 

Penulis: Alia Mutiara Salsabila

Editor: Vlea Viorell Indie Princessiella

 


TAG#film  #kisah  #review  #romansa