» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Pop Culture
"The Ugly Stepsister", Interpretasi Gelap Standar Kecantikan dalam Balutan Body Horror Mengerikan
07 Juni 2025 | Pop Culture | Dibaca 530 kali
Menjadi salah satu film yang menggemparkan saat ini, "The Ugly Stepsister" mengekspos obsesi terhadap kecantikan, tekanan sosial, identitas diri, serta menunjukkan sisi kelam standar kecantikan yang tidak realistis. Di dunia yang memuja kesempurnaan visual, tubuh bak menjadi medan perang, dan The Ugly Stepsister menunjukkan betapa brutalnya pertempuran itu. Film ini menggunakan body horror dalam memotret bagaimana seseorang bisa menyakiti diri sendiri demi kesempurnaan fisik.

Retorika.id - Film terbaru asal Norwegia karya sutradara Emilie Blichfeldt "The Ugly Stepsister" yang dirilis pada 7 Maret lalu menyajikan reinterpretasi dongeng Cinderella dengan sentuhan body horror yang mengerikan. Berbeda dengan kisah klasik pada produksi Disney, film ini mengambil perspektif dari si saudara tiri, Elvira (Lea Myren), dan secara gamblang mengeksplorasi obsesi terhadap kecantikan serta konsekuensi mengerikan dari upaya dalam  mencapainya.

"The Ugly Stepsister" tidak segan-segan menampilkan adegan-adegan yang bisa membuat penonton bergidik. Film ini menampilkan sederet obsesi kecantikan yang diangkat ke tingkat yang menjijikkan dan mengerikan, mulai dari gigi yang patah, hidung yang dibentuk ulang secara brutal, hingga pemasangan bulu mata palsu yang dijahit ke kelopak mata. Bahkan, salah satu adegan paling mengganggu adalah ketika Elvira memuntahkan cacing


pita yang telah ditelannya demi menjaga berat badan tetap ideal. Adegan-adegan ini dibalut dengan komedi gelap, secara efektif menyoroti kegilaan seseorang dalam mengejar standar kecantikan yang tidak realistis. Alih-alih hanya menghibur, komedi dalam The Ugly Stepsister memperkuat kritiknya tentang standar kecantikan yang acapkali mendorong seseorang pada pilihan ekstrem, dan bagaimana kegilaan semacam itu kerap dianggap normal dalam budaya populer.

Emilie Blichfeldt dengan cerdik membalikkan ekspektasi penonton tentang siapa sebenarnya saudari tiri yang kejam dan sombong serta siapa yang memiliki kecantikan dalam diri. Pasalnya, Elvira justru digambarkan sebagai korban dari tuntutan ibunya untuk menikahi pangeran dan memenuhi standar kecantikan, yang menjadi pemicu kehancuran fisik dan psikis yang ia alami secara bertahap. Sementara itu karakter Cinderella, Agnes (Thea Sofie Loch Næss), ditampilkan sebagai gadis cantik yang tidak semulia versi aslinya, bahkan rela memilih pangeran Julian (Isac Calmroth) atas dasar finansial daripada cinta.

Film berdurasi 1 jam 50 menit ini berhasil menciptakan pengalaman sinematik yang unik. Hal itu terlihat dari visualnya yang mewah, sinematografi yang mengingatkan pada sinema tahun 60-an hingga 70-an, serta musik elegan yang justru menciptakan kontras mencolok dan mengerikan dengan elemen body horror brutal di dalamnya. Kebrutalan yang disajikan juga merupakan kritik atas standar kecantikan yang tentu tak muncul begitu saja, melainkan dibentuk lewat sistem yang menguntungkan mereka yang punya kuasa atas narasi, representasi, dan hasrat. Film ini menunjukkan bagaimana perempuan dilatih untuk menyiksa dirinya sendiri demi masuk ke dalam cetakan sempit yang dianggap “ideal”, sebuah bentuk dominasi yang halus namun menghancurkan. "The Ugly Stepsister" bukanlah film tentang menerima inner beauty atau kualitas diri. Sebaliknya, film ini adalah potret ekstrim tentang kerusakan yang ditimbulkan oleh obsesi kecantikan dalam masyarakat patriarkal.

Referensi:

Bradshaw, P. (2025, April 22). The Ugly Stepsister review – body-horror take on Cinderella is ingenious reworking of fairy tale. The Guardian. https://www.theguardian.com/film/2025/apr/22/the-ugly-stepsister-review-body-horror-take-on-cinderella-is-ingenious-reworking-of-fairy-tale

The Ugly Stepsister movie review (2025) | Roger Ebert. (2025, April 18). Roger Ebert. https://www.rogerebert.com/reviews/the-ugly-stepsister-horror-movie-review-2025

 

Penulis: Dara Nabilah Salsabila

Editor: Vlea Viorell Indie P.

 


TAG#budaya  #film  #gender  #review