
Di tengah berbagai kesibukan di dalam maupun di luar lingkungan perkuliahan, kesehatan mental menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam kehidupan mahasiswa. Tingginya kebutuhan mahasiswa akan bantuan psikologis masih terbentur rasa malu dan kekhawatiran dalam mengakses layanan profesional. Universitas Airlangga dengan Unit Pelayanan Psikologi (UPP) hadir sebagai layanan yang dapat membantu mahasiswa. Lantas, seberapa efektif fasilitas ini dalam menjawab kebutuhan psikologis mahasiswa?
Tulisan ini merupakan bagian dari proyek riset Divisi Penelitian dan Pengembangan LPM Retorika.
Retorika.id - Masa perkuliahan sering kali menjadi masa peralihan yang penuh tantangan dan tekanan bagi mahasiswa. Ketika dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan tanggung jawab yang lebih besar, mereka rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental, seperti stres, gangguan kecemasan, burnout, depresi, dan lainnya.
Tekanan akademik seperti beban tugas yang tinggi, tuntutan nilai, persaingan antarmahasiswa, dan kekhawatiran pascalulus merupakan faktor yang dapat memengaruhi kondisi mental mahasiswa. Selain itu, faktor nonakademik seperti masalah ekonomi, konflik relasional, kesulitan beradaptasi, tekanan media sosial, serta rasa kesepian akibat jauh dari keluarga juga berkontribusi terhadap munculnya permasalahan mental tersebut. Jika kondisi seperti ini tidak mendapat perhatian dan penanganan yang baik, dampaknya akan terlihat pada penurunan motivasi belajar, prestasi, produktivitas, hingga kesejahteraan hidup.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental masih menjadi isu yang krusial di kalangan mahasiswa. Penelitian yang dilakukan oleh Arfandi et al. (2025) terhadap mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Samarinda menunjukkan lebih dari separuh responden mengalami stres, sementara sebagian lainnya mengalami kecemasan dan depresi pada berbagai tingkat keparahan. Penelitian lain di Universitas Sebelas Maret yang dilakukan Setyanto et al. (2023) menemukan bahwa 26,9% mahasiswa mengalami depresi ringan, 18,5% mengalami depresi sedang, 9,3% mengalami depresi berat, dan 86,8% responden memiliki tingkat kecemasan tinggi. Kedua temuan tersebut menunjukkan bahwa gangguan kecemasan, stres, dan depresi merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius di lingkungan perguruan tinggi.
Sebagai institusi pendidikan tinggi, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung kesehatan mental mahasiswa melalui penyediaan layanan kesehatan mental/psikologis yang mudah diakses, efektif, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Keterlibatan psikolog, dosen pembimbing akademik, serta tersedianya fasilitas layanan yang memadai merupakan bagian dari sistem layanan kesehatan mental yang terintegrasi dan efektif.
dir="ltr">Gambaran Layanan Kesehatan Mental di Kampus
Selain layanan seperti Helpdesk dan Help Center, Universitas Airlangga (Unair) memiliki Unit Pelayanan Psikologi (UPP) di bawah naungan Fakultas Psikologi. Kehadiran UPP bertujuan memberikan pendampingan profesional bagi mahasiswa yang mengalami berbagai permasalahan psikologis, mulai dari kesulitan adaptasi, tekanan akademik, kecemasan, hingga permasalahan hubungan interpersonal.
Adinda Putri, Ketua UPP Unair, menjelaskan bahwa permasalahan yang paling banyak ditemui berasal dari mahasiswa baru yang sedang berada pada masa adaptasi terhadap kehidupan perkuliahan. “Mereka (mahasiswa baru) sedang menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus, cara belajar yang berbeda, bahkan ada yang mengalami culture shock karena merantau. Itu yang cukup sering kami temui.”
Layanan konseling psikologis kini menjadi fokus utama Unit Pelayanan Psikologi (UPP). Dinda mengungkapkan, program lain seperti seminar maupun psikoedukasi tak lagi menjadi agenda rutin dan hanya berjalan jika ada permintaan. Untuk memperluas akses, UPP membuka opsi konseling luring dan daring, lengkap dengan sistem penyesuaian jadwal serta pencocokan psikolog. Mahasiswa juga diberi kebebasan memilih preferensi konselor, seperti memilih psikolog perempuan atau laki-laki, dosen maupun nondosen, sehingga proses konseling diharapkan berlangsung dengan nyaman dan efektif. Seluruh proses layanan ini dijamin menerapkan prinsip kerahasiaan ketat.
“Kita (UPP) juga selalu menanyakan preferensi kepada klien-klien kami, pengennya psikolog yang seperti apa, gitu. Jadi, misalnya nih maunya sama yang cewek aja atau laki-laki gitu, atau maunya yang bahasa Inggris aja, atau maunya yang paham soal anime, misalnya gitu. Nah itu kita akan carikan psikolog yang sesuai, biar ketika konseling prosesnya nyaman gitu ya dan nyambung ketika ngobrol,” ujar Dinda kepada Tim Retorika.
Melalui berbagai layanan tersebut, UPP berupaya menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk mendapatkan pendampingan psikologis. Namun, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental di kalangan mahasiswa, efektivitas layanan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan konseling, tetapi juga oleh kemudahan akses, tingkat pemanfaatan, serta sejauh mana layanan tersebut mampu menjawab kebutuhan mahasiswa.
Sudahkah UPP Bekerja dengan Efektif?
Fleksibilitas layanan luring dan daring membuat layanan Unit Pelayanan Psikologi (UPP) kian mudah diakses mahasiswa. Menurut Dinda, penyesuaian jadwal dan metode dilakukan sesuai preferensi klien sesuai kenyamanan mereka dengan tetap mengutamakan prinsip kerahasiaan data. Mahasiswa pengguna layanan, J, turut mengakui kemudahan akses informasi UPP yang tersaji jelas lewat platform Instagram dan situs web resmi.
“Menurut saya, UPP cukup mudah untuk diakses karena seluruh informasi mengenai layanan sudah tersedia dengan cukup jelas melalui Instagram dan website yang mereka miliki,” ucap J, mahasiswa FISIP Unair semester 7.
Kendati demikian, pemanfaatan layanan ini dinilai belum maksimal. Dinda mengungkapkan bahwa tingkat kepesertaan mahasiswa masih rendah lantaran minimnya kesadaran akan kesehatan mental serta tingginya rasa malu untuk berkonsultasi dengan profesional.
“Mereka pada saat itu butuh bantuan, tapi ada yang belum merasa butuh sehingga belum sampai ke profesional. Yang kedua adalah merasa malu ketika harus mencari profesional untuk membantu dia.”
Konseling daring menjadi solusi atas enggan dan malunya mahasiswa mengakses layanan Unit Pelayanan Psikologi (UPP). Lokasi UPP yang berada di area kampus kerap memicu kecemasan tersendiri, sehingga opsi jarak jauh dianggap lebih privat. Alternatif ini juga diharapkan membantu mahasiswa lebih nyaman dan dapat terbuka dalam menceritakan permasalahan yang dihadapi.
Di samping itu, UPP juga menghadapi masalah dari sisi ketersediaan psikolog. Mahasiswa tidak selalu bisa memperoleh layanan secara langsung ketika datang karena keterbatasan psikolog yang ada.
“Kita bukan kayak IGD (Instalasi Gawat Darurat) yang sewaktu-waktu mahasiswa ataupun klien datang bisa langsung dilayani, gitu. Karena kami memang tidak memiliki psikolog yang standby selama jam kerja. … Jadi kalau pun misalnya ada kondisi mahasiswa yang urgent banget dibawa ke sini, itu kita pasti akan bantu memberikan first aid dulu, gitu. At least biar dia tenang dulu,” tutur Dinda.
Dinda menjelaskan bahwa penanganan kasus tindak lanjut harus melalui sistem penjadwalan. Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan latar belakang, kebutuhan, dan preferensi klien dengan keahlian spesifik psikolog agar proses terapi berjalan lebih maksimal.
Persepsi dan Masukan Mahasiswa terhadap Layanan
Secara umum, mahasiswa merasa cukup puas dengan pelayanan UPP, dari akses informasi yang mudah, respons administrasi, serta proses konseling. Informasi mengenai tarif dan pilihan psikolog yang tersedia juga memudahkan mahasiswa dalam menentukan layanan.
Akan tetapi, pengalaman pada proses administrasi kerap dikeluhkan mahasiswa. J bercerita bahwa pengisian formulir dilakukan di luar ruang konseling beserta pengajuan pertanyaan mengenai permasalahan yang dialaminya. Ketika hal tersebut terjadi, J merasa tidak nyaman dengan situasi yang dihadapi.
“Saat itu, ada cukup banyak orang di sekitar sehingga saya merasa sangat tidak nyaman dan kurang aman untuk menceritakan permasalahan pribadi saya,” keluhnya. Pengalaman J ini menjadi pertanyaan dengan komitmen UPP mengenai pentingnya kerahasiaan klien.
“Untuk ke depannya, saya berharap UPP dapat mempertimbangkan untuk memisahkan ruang terapi dengan ruang administrasi." Di samping itu, UPP mengakui bahwa mereka belum memiliki survei pengguna yang dapat digunakan untuk kolom evaluasi dan peningkatan pelayanan.
Melihat kendala-kendala tersebut, UPP perlu menggalakkan sosialisasi keberadaan fasilitas kampus dan edukasi kesehatan mental agar mahasiswa tak lagi ragu mencari bantuan. UPP juga diharapkan dapat membuka ruang kritik dan saran dari klien agar menjadi pertimbangan di pelayanan-pelayanan selanjutnya. Rencana UPP untuk integrasi ke Helpdesk Unair juga diharapkan memperluas jangkauan informasi bagi mahasiswa.
Penulis: Hazhiyah A.A., Nadya Sabila
Editor: Claudya
TAG: #akademik #dinamika-kampus #sarana-prasarana #universitas-airlangga
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua