.jpg)
Anda adalah seorang pelayan yang sedang membawa pesanan untuk meja 07. Di meja tersebut, duduk seorang pria dan wanita. Pesanan mereka adalah teh rosella dan kopi tubruk. Namun anda tidak diberi tahu, siapa yang memesan apa. Ke manakah Anda akan meletakkan teh tersebut? Bagaimana dengan kopi tubruknya? Kalau anda menjawab teh diletakkan di depan wanita dan kopi diletakkan di depan pria, boleh jadi anda telah berlaku seksis.
Retorika.id - “Hah? Beneran???” kurang lebih begitu bisik mas barista setelah mendengar rekannya, seorang kasir, menyampaikan pesanan saya. Menu yang baru saya pesan adalah Japanese, kopi tanpa tambahan apa pun entah itu gula, susu, atau sirup. Kira-kira selama hidup, sudah tiga kali saya mendapat reaksi semacam ini.
Awalnya saya menganggapnya lucu. Memang, Japanese bukan menu yang umum untuk dipesan. Saya berasumsi bahwa mereka hanya tidak ingin mengecewakan pelanggan. Sepertinya mereka menganggap saya tidak tahu menu macam apa yang saya pesan. Akan tetapi, lambat laun saya tersadar, “Wah, ini bisa jadi seksis.”
Glick & Fiske (1997) dalam teorinya, Ambivalent Sexism Theory (AST), menjelaskan bahwa seksisme terdiri dari Hostile Sexism (HS) dan Benevolent Sexism (BS). HS adalah stereotipe negatif dan permusuhan terhadap wanita, seperti anggapan bahwa wanita adalah seorang penggoda dan ingin memiliki kontrol lebih daripada pria. Berbeda dengan HS yang sifatnya terang-terangan dan agresif, BS sifatnya tidak kentara sehingga sering kali tidak disadari oleh wanita. BS ialah pembenaran terhadap peran gender tradisional, misalnya memandang wanita sebagai makhluk yang ngeramut dan lemah lembut. Keduanya membentuk seksisme yang terjadi pada masyarakat, termasuk seputar kopi.
Reitz (2007) dalam artikelnya yang berjudul “Espresso: A Shot of Masculinity” menjelaskan bagaimana bisa kopi, khususnya espreso, diasosiasikan dengan maskulinitas dan pria. Dibandingkan dengan alkohol yang membuat mabuk, kopi membuat peminumnya terjaga dan terkendali. Hal ini menggambarkan bagaimana karakter maskulin pada kala itu.
Ketika kopi mulai masuk ke Eropa, tavern mempunyai saingan bernama coffee house. Di sini, para pria berkumpul membicarakan politik, bisnis, dan filosofi. Memang ada coffee house yang membuka pintunya untuk wanita seperti yang ada di Jerman. Akan tetapi, ruang mereka dibuat terpisah sehingga diskusi antara wanita dan pria tidak dapat dilakukan.
Di Amerika, minum kopi dijadikan simbol perjuangan untuk menolak pajak teh yang dikenakan oleh Inggris (Boston Tea Party). Ketika kopi mulai masuk ke ranah domestik, ia kehilangan maskulinitasnya. Kopi tidak lagi eksklusif hanya untuk pria, tetapi hal ini tidak berlaku pada espreso. Espreso dibuat dengan mesin yang membutuhkan keterampilan khusus dan harganya juga lumayan sehingga jarang ditemui di rumah. Espreso juga dianggap sesuai dengan narasi strong drinks are for strong bodies karena cita rasanya yang tajam, pahit, dan tinggi akan kafein
membuat espreso masih diasosiasikan dengan maskulinitas.
Beda cerita ketika espreso dicampur dengan bahan lain seperti susu. Susu sering dikaitkan dengan motherhood. Espreso yang dicampur dengan susu membuat cita rasanya berubah, tidak lagi strong. Selain rasa, tampilan juga berubah. Espreso yang dicampur susu akan terlihat less masculine atau malah tidak maskulin sama sekali karena warna kopi tidak lagi hitam, gelap, atau pekat—sesuatu yang sering diasosiasikan dengan maskulinitas.
###
Kepada saya, mahasiswi bernama Ratu menceritakan pengalamannya seputar seksisme yang ia temui saat memesan kopi. Awalnya, Ratu meminum kopi susu. Namun, karena merasa kurang cocok akhirnya ia beralih ke amerikano hingga pada akhirnya mantap menggemari cara seduh Japanese-style. Ratu menyebutkan bahwa reaksi kaget dari barista sudah ia alami sedari memesan kopi susu.
“Dulu waktu kopi susu itu, aku tipikal orang yang suka nambah shot (espreso). Jadi harusnya cuman satu shot aku minta tambahan double shot, kadang bisa triple shot. Terus baristanya kayak, ‘Kak ini nggak kebanyakan?’”
Reaksi semacam itu makin sering ia dapatkan ketika beralih memesan Japanese. Pernah juga Ratu merasa kurang dilayani ketika memesan kopi style tersebut.
“Ada sih barista-barista yang waktu pesen tuh kayak ‘Hah?’ Sebenernya nggak actually bilang langsung ‘Beneran kak?’ tapi dari mukanya keliatan meragukan kayak ‘Ini beneran mau mesen ini?’ Terus ada yang kadang kayak karena ragu jadinya agak nggak ditanggepin. Ya milih-milih sendiri (biji kopi) nggak ada penjelasannya. Nggak welcoming.”
Ratu merasa perlakuan yang ia dapati berangkat dari jarangnya barista menerima pesanan manual brew khususnya Japanese, apalagi datang dari seorang wanita.
“Mereka kaget bukan hanya karena cewek yang pesen, tapi cewek itu menambah kekagetan. Kagetnya (skala) 8, tapi karena dia cewek jadi 9. Ada yang pesen aja, itu udah kaget.”
Ketika ditanya bagaimana pendapatnya tentang wanita yang juga menggemari manual brew khususnya japanese, Ratu mengaku sangat bahagia.
“Kadang nyari temen cowo yang suka manual brew aja susah, apalagi cewek. Jadi nemu cewek (yang juga suka) tuh rasanya ‘wow’.”
###
Saya memiliki seorang teman wanita yang bekerja sebagai barista. Ia diajari teknik-teknik menyeduh kopi oleh owner dan para barista tempat ia bekerja. Terakhir kali bertemu saya, ia bercerita bahwa dirinya memenangkan sebuah kompetisi lokal. Saya senang mendengarnya, tetapi harus menelan kecewa ketika ia meneruskan cerita. Seorang kawan pria sesama barista berujar bahwa kemenangan teman saya hanya karena ramah-tamah belaka, sebab ia adalah barista di kedai yang menjadi penyelenggara kompetisi tersebut.
Saya penasaran, dari point of view barista laki-laki, hal apa yang sebenarnya membuat barista laki-laki dapat berlaku seksis. Maka, saya mendiskusikannya dengan dua barista di salah satu kafe daerah Karang Menjangan. Kepada saya, Bagus dan Hasan—yang masing-masing sudah bekerja selama dua dan tiga tahun sebagai barista—membagikan pandangan mereka. Mereka mengaku sangat jarang menemui pelanggan wanita yang memesan manual brew seperti V60 atau Japanese-style. Bagi Bagus, ia mengira-ngira hanya mendapati kurang dari sepuluh orang, sedangkan Hasan mengaku di bawah dua puluh orang.
Meski begitu, Bagus dan Hasan sama-sama sepakat bahwa industri kopi, setidaknya untuk barista dan pelanggan, sudah terbuka untuk wanita. Hasan berujar bahwa ini berkat edukasi dan publikasi terkait kopi serta manual brew yang mulai masif.
“Semakin kesini semakin banyak yang teredukasi dan artikel-artikel kan juga banyak. Jadi cewek pun sekarang ya suka minum kopi, terus juga pengetahuannya banyak.”
Saya pun menanyakan tanggapan mereka ketika mendapati pelanggan wanita yang memesan manual brew. Pada dasarnya, manual brew adalah tipe kopi yang jarang dipesan. Maka, ketika ada pelanggan yang memesannya, baik wanita maupun pria sama-sama membuat Bagus dan Hasan senang.
“Aku nggak mikir harus gimana-gimana, memang aku memperlakukan customer itu sama. Jadi nggak ada niatan atau pikiran kok gimana, enggak, malah amazed.”
Hasan bercerita bahwa ia sempat bekerja satu tim dengan seorang barista wanita dan menganggap barista tersebut jago dan berprestasi. Sedangkan Bagus, ia belum pernah bekerja dengan barista wanita. Namun, ia mengenali barista wanita veteran di ajang kompetisi. Ketika ditanya pendapat mereka akan seduhan dari tangan barista perempuan, jawaban mereka relatif sama yakni mereka tak ambil pusing, menurut mereka tidak ada yang salah karena semua tergantung selera. Hasan mengaku sejauh ini tidak pernah menjumpai barista pria yang berlaku seksis baik kepada pelanggan maupun barista wanita.
“Yang saya kenal tuh cukup suportif mereka (barista pria). Jadi untuk sharing apa pun lah, itu sangat respect kepada customer baik cewek maupun cowok.”
Menurut Hasan, barista pria yang ia jumpai mungkin terkesan berlaku seksis tetapi yang sebenarnya terjadi adalah mereka takut mengecewakan pelanggan dan ini tidak hanya terjadi pada pelanggan wanita, tetapi juga terjadi pada pelanggan pria. Bagus juga merasa barista pria yang ia kenal tidak pernah berlaku seksis, tetapi ia pernah mendengar cerita bahwa masih ada barista yang berlaku demikian lewat teman baristanya yang lain.
“Sorry to say yah, kalau orang-orang, barista yang punya pendapat kaya gitu (merendahkan pelanggan dan barista wanita) itu malah, dia itu orang baru aja. Mainnya belum jauh.”
Bagi Bagus, di dunia kopi semua memiliki kesempatan yang sama. Semua orang itu setara. Maka, perilaku seksisme baik pada barista maupun pelanggan wanita tidak seharusnya ada.
###
Meski terkesan remeh, anggapan bahwa kopi itu minuman pria masih terbayang dalam benak masyarakat setelah beratus-ratus tahun. Namun, bukan tidak mungkin kita dapat mengubah perspektif masyarakat dan menghentikan perilaku seksis ini. Baik saya maupun Ratu sesekali menemui barista yang awalnya kaget, tetapi kemudian dengan excited mengajak diskusi tentang kopi yang kami pesan, sejalan dengan pernyataan Bagus dan Hasan. Harapan itu ada, harapan agar barista Indonesia berhenti berlaku seksis dan dunia kopi semakin terbuka kepada wanita.
Referensi
Glick, P., & Fiske, S. T. (1997). Hostile and benevolent sexism: Measuring ambivalent sexist attitudes toward women. Psychology of Women Quarterly, 21(1), 119–135.
Reitz, J. K. (2007). Espresso: A shot of masculinity. Food, Culture & Society, 10(1), 7–21.https://doi.org/10.2752/155280107780154114
Penulis: Afi Khoirunnisa
Editor: Claudya Liana M.
TAG: #hukum #surabaya # #
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua