.jpg)
Beberapa waktu terakhir, maraknya aktivitas danus (dana usaha) menjadi atensi warga Unair karena dianggap mulai mengganggu mobilitas kampus. Di lain sisi, di balik maraknya aktivitas danus, terdapat alur dan sistem pendanaan yang tidak merata dan merepotkan dari fakultas. Hal ini akhirnya memaksa mahasiswa untuk mencari dana mandiri demi menjalankan program kerja organisasi maupun kepanitiaan.
Retorika.id - Aktivitas danus yang dilakukan di GKB (Gedung Kuliah Bersama) Kampus C Unair sempat menjadi perbincangan hangat. Seorang pengirim mengungkapkan keresahannya pada menfess X (Twitter) yang diunggah di akun @unairmfs pada Senin (17/11/25) lalu. Ia merasa tidak nyaman oleh kegiatan danusan yang memenuhi akses pintu gedung. Beberapa komentar di bawahnya juga sependapat dan merasa perlu ada tindakan dari pihak Unair.
Namun, sebenarnya apa penyebab di balik kegiatan danus yang kian menjamur di lingkungan Unair?
Kegiatan danus marak dilakukan oleh mahasiswa demi menjalankan program kerja organisasi maupun kepanitiaan. Beberapa program kerja turut didanai oleh kampus. Akan tetapi, pemberian dana baru akan diberikan setelah acara selesai atau reimburse sehingga mengharuskan mahasiswa untuk mencari modal sendiri sebelum menerima pencairan dana.
“Harusnya tuh yang namanya proker-proker—yang namanya program kerja itu—apalagi di kalangan mahasiswa itu adalah tempat untuk mahasiswa itu belajar, bukan malah
ngabisin duit, bukan malah ngabisin tenaga apalagi untuk masalah bahas masalah dananya,” ujar Cahaya (nama disamarkan) selaku ketua pelaksana salah satu kegiatan program studi (prodi) di FISIP menyampaikan pendapatnya.
Cahaya mengutarakan bahwa sistem pendanaan bisa menjadi penghambat terobosan baru pada program kerja mahasiswa. “Mungkin proker-proker di kalangan mahasiswa belum bisa sebesar itu, atau mungkin masih sekedar itu-itu aja, karena ya untuk kita membuat suatu inovasi atau proker yang besar, tentu butuh dana yang besar, yang mana kalau gak ada bantuan dari fakultas, tentu ya itu bikin jadi sebuah tantangan. Karena semuanya harus ditanggung panitia dulu, jadi kita pasti akan mikir dua kali dong kalau mau membuat proker atau panitia yang besar di persiapannya.”
Meski pada akhirnya mahasiswa akan menerima dana bantuan, mereka tetap harus berjualan untuk menutup pengeluaran persiapan acara. Kegiatan danus cukup memberatkan dikarenakan terdapat target yang harus dipenuhi. Zahwa (nama disamarkan) sebagai pelaku danus menjelaskan kesulitannya. “Target sih awalnya 500 (dalam sehari, -red). Terus habis itu naik sampe 700 pieces. Bahkan kita pernah sehari itu sampe 1000.”
Ia juga mengungkapkan bahwa jika target harian tidak terpenuhi, mahasiswa yang sedang menjaga danusan “terpaksa” menutupi kekurangannya dengan uang pribadi. Hal ini dirasa memberatkan mahasiswa karena mereka harus mengeluarkan uang lagi demi terpenuhinya target danusan. Pernyataan ini dikonfirmasi oleh Anjani (nama disamarkan), rekan danusan Zahwa, yang diwawancara oleh Tim Retorika. “Iya itu pasti kita keberatan ya. Cuman gimana lagi, di situ pastinya kita yang bertanggung jawab, kita yang jaga.”
Merasakan adanya kesulitan dari kegiatan danus, mahasiswa berharap agar setidaknya kegiatan atau program kerja organisasi mendapat sejumlah dana sebelum acara diselenggarakan dari pihak kampus terutama fakultas. Selain hal tersebut dapat membantu berjalannya kegiatan mahasiswa, dana dari pihak kampus juga menjadi komitmen mereka dalam mendukung kegiatan mahasiswa.
“Sebenarnya lebih mudah kalau misalnya dari fakultas itu bisa ngasih dana bantuan entah setengah atau penuh, atau ya berapa pun, atau mungkin kita bisa request beberapa uang duluan,” ungkap Cahaya.
Mengenai alur dan sistem pendanaan proker ormawa yang dinilai merepotkan, Tim Retorika menghubungi Ahmad Safril selaku Wakil Dekan II FISIP Unair yang membawahi bidang administrasi dan keuangan untuk memberikan tanggapan. Namun, beliau belum bersedia untuk diwawancarai terkait topik ini.
Danusan sendiri merupakan salah satu kegiatan yang biasanya dilakukan oleh mahasiswa untuk mendapatkan dana demi menjalankan kegiatan atau program kerja organisasi. Kegiatan danusan yang paling sering ditemui ialah mahasiswa berjualan makanan dan minuman ringan dengan harga ramah di kantong mahasiswa. Hal ini lumrah dilakukan di lingkungan kampus karena tidak semua kegiatan yang digagas oleh mahasiswa diberi dana oleh pihak kampus, terutama pada kegiatan dalam skala prodi, sehingga mahasiswa harus mencari dana sendiri.
Penulis: Alde Kalya, Claudya Liana Morizza, Vlea Viorell Indie Princessiella
Editor: Febriana Rahma Sari
TAG: #dinamika-kampus #universitas-airlangga # #
LPM Retorika FISIP Unair
@lpmretorikafisip
@ngs5967e
@retorikafisipua