» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Pop Culture
Resensi Film “Days Of Glory (Indigènes)”
27 Maret 2017 | Pop Culture | Dibaca 4532 kali
Review Days Of Glory (Indigènes): Film Sejarah Foto: Levantium
Penggemar film-film sejarah layak menonton film ini mengingat akurasi sejarah yang tidak terlalu melenceng. Dan bersiaplah untuk tergugah menyaksikan penindasan dalam usaha melawan penindasan.

Surabaya, retorika.id - Sutradara Rachid Bouchareb dalam film “Days of Glory” atau “Indigènes” dalam versi Perancis, merupakan film tentang perjuangan tentara koloni Perancis di Afrika dalam perang dunia dua. Mereka mengajak pasukan dari Tunisia, Aljazair, dan Maroko untuk bergabung dan berjuang membebaskan tanah air yang tidak pernah mereka lihat, yaitu Perancis, dari penjajahan Nazi Jerman. Film ini juga sebagai tanda penghormatan pada seluruh tentara Perancis-Afrika dan sikap kemanusiaan, khususnya tentang perilaku diskriminasi tentara Perancis beserta pemerintahnya yang selepas perang tidak mau membayar gaji dan pensiun tentara Perancis-Afrika. Padahal mereka turut berjuang melawan Nazi.

Sepintas film ini mengingatkan pada film “Saving Private Ryan”. Film tersebut memiliki emosi yang mampu membuat penonton benar-benar merasakan apa yang dirasakan tentara, walaupun film tersebut bisa dikatakan lebih fokus pada drama. Pada bagian akhir film, Abdelkader(Sami Bouajila) mengunjungi makam kawan-kawanya yang telah meninggal di pemakaman militer. Film ini meraih nominasi The best foreign language film, Oscar  dan


Special acting ensemble award di Cannes Film Festival pada 2006.

Tentara Afrika menganggap dirinya adalah bagian dari rakyat Perancis, namun tentara Perancis memperlakukan mereka tak lebih dari budak, manusia rendahan, dan menomor duakan tentara Afrika. Mulai dari perlengkapan yang mereka pakai, pangkat, bahkan untuk makan mereka tidak mendapat jatah tomat, dan menyebut mereka manusia bar-bar. Padahal tentara Perancis meminta mereka untuk berjuang sampai mati demi tanah air yaitu Perancis.

Film ini berfokus pada lima orang yaitu Abdelkader (Sami Bouajila), Saiid (Jamel Debbouze), Messaoud (Roschdy Zem) dan Yassir (Samy Naceri) dan komandan mereka yaitu Sersan Martinez (Bernard Blancan). Messaoud, Abdelkader, dan Saiid latihan di kampyang sama, yaitu di Setif, Aljazair pada 194, yang mana Abdelkader adalah pemimpin pasukan. Saat itu juga, di kamp, merupakan awal mereka bertemu dengan Sersan Martinez yang sedikit diskriminatif terhadap tentara Afrika, Messaoud menjadi penembak jitu karena keakuratan tembakan yang dia lakukan dalam latihan, sedangkan Saiid melakukan kesalahan dengan menarik pelatuk granat dan  tidak melemparnya yang kemudian dilempar oleh Sersan Martinez. Saiid adalah laki laki yang tergolong kecil, pendiam dan sangat loyal kepada Sersannya. Abdelkader adalah tentara yang sangat optimis, cerdas, dan kritis terhadap diskriminasi, sehingga sering menimbulkan konflik dengan Sersan Martinez.

Pertempuran pertama yang mereka hadapi adalah pertempuran di puncak bukit daerah Italia, yang bertujuan untuk mengambil alih bukit tersebut. Sikap diskriminasi pun muncul dari tentara Perancis. Mereka sengaja membuat tentara Afrika maju terlebih dahulu. Setelah kondisi terkuasai, pasukan Perancis mulai menyerang. Saat itu lah mereka bertemu dengan Yassir. Ketika dalam adegan peperangan yang penuh dengan ledakan dan tembakan, Bouchareb ingin menunjukan sudut pandang dari segi infantri atau bersama dengan tentara yang ada di tanah. Oleh sebab itu kita dapat melihat ledakan tembakan artileri dari jarak dekat. Bagusnya lagi, efek ledakan yang ditampilkan cukup realistis, sehingga kita bisa merasakan apa yang ada di film. Selain itu, film ini tidak banyak menampilkan darah dan kesadisan, sehingga cukup aman ketika ditonton anak-anak.

Setting lingkungan atau environment yang digunakan dalam film, detail bangunan, warga lokal dan sekitarnya cukup bagus, bahkan mampu merefleksikan euforia dan kondisi pada saat itu. Terkadang beberapa adegan terkesan seperti bukan bangunan sungguhan, misalnya saat Messaoud berjanji akan mengirim surat kepada kekasih barunya yang ia temui di Perancis. Namun, pada saat berperang di daerah terbuka seperti di hutan dan tanah tandus, terkesan sangat nyata.

Peran Sami Bouajila (Abdelkader) cukup menghayati, terutama dalam menunjukan sikapnya atas penindasan dan diskriminasi yang mereka alami. Selain itu ia memiliki karakter tegas, penuh emosi, dan elegan. Begitu juga peran Jamel Debbouze (Saiid), ia mampu menunjukan sikap Saiid yang sedikit pemalu, minder, dan polos. Maka tak heran mereka mendapatkann penghargaan Prix d’Interprétation masculine di Cannes Film Festival 2006.

Keseluruhan dalam film ini dapat dibilang bagus, walaupun memang tidak seheboh film Saving Private Ryan. Namun dalam satu sisi, film ini benar-benar menggugah hati nurani, seperti saat melihat penindasan yang terjadi dalam usaha melawan penindasan. Selain dari isi cerita yang menarik, tingkat akurasi sejarah juga tidak melenceng atau bahkan dilebih lebihkan terlalu jauh. Oleh sebab itu film ini patut di tonton khususnya bagi pecinta sejarah dan cukup aman untuk ditonton anak anak.

(Fajar Efraim)

Editor : Dwi Agustin


TAG#demonstrasi  #film  #hukum  #karya-sastra