» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Opini
Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat: Refleksi Makna Kemerdekaan di Mata Mahasiswa
24 Agustus 2022 | Opini | Dibaca 140 kali
Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat: Refleksi Makna Kemerdekaan di Mata Mahasiswa: - Foto: Dokumentasi Retorika
Hari Kemerdekaan merupakan peringatan momentum bersejarah bagi Bangsa Indonesia yang ditunggu-tunggu setiap tahunnya. Terlepas kurang lebih dua tahun belakangan Bangsa Indonesia dihadapi dengan pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap pelbagai sektor kehidupan. Lantas, makna kemerdekaan seperti apa yang layak ada di dalam jati diri mahasiswa?

Pada tahun ini, Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke-77 dengan suka cita, setelah berada pada fase Pandemi Covid-19 yang melanda sejak dua tahun belakangan. Perayaan momentum bersejarah ini kerap kali dimulai dari upacara bendera hingga ajang perlombaan yang diadakan oleh pelbagai elemen masyarakat sebagai bentuk antusiasme memperingati Hari Kemerdekaan. Adapun substansi dari kegiatan-kegiatan tersebut, khususnya ajang perlombaan yang digelar oleh masyarakat, adalah cerminan dari perjuangan untuk meraih kemenangan. Lantas, bagaimana peran mahasiswa yang terkenal sebagai corong aspirasi perjuangan rakyat untuk mengantarkan perjuangan rakyat yang semestinya?

Berangkat dari adanya perbedaan pandangan terkait makna kemerdekaan, beberapa mahasiswa mengungkapkan bahwa makna kemerdekaan adalah kebebasan untuk bersuara.

“....kemerdekaan termanifestasi dalam keleluasaan mahasiswa untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya melalui perguruan tinggi. Dapat dikatakan merdeka apabila mahasiswa memiliki kebebasan bersuara dan berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia” - Asa Aisara (Sosiologi, 2020)

Mahasiswi tersebut memiliki pandangan bahwa dapat dikatakan merdeka apabila suara mahasiswa tidak dibungkam dan diwadahi sebagai masukan kepada para stakeholder demi partisipasi dalam pembangunan di Indonesia. Tak jauh berbeda, mahasiswi asal program studi Ekonomi Islam (2021) hampir mengungkapkan hal serupa.

“.....merdeka adalah sebuah state of mind sekaligus

®iklan
®iklan

perwujudan dari esensi jiwa (state of emotion) dan bukan hanya sekedar terbebas dari segala bentuk penjajahan yang menindas. Dapat dikatakan merdeka juga jika negara tersebut memiliki kehidupan masyarakat yang sejahtera serta tidak ada kesenjangan sosial dan perbedaan perlakuan terhadap masyarakat….” - Diva Azzahra (Ekonomi Islam, 2021)

Mahasiswi asal program studi Ekonomi Islam (2021) tersebut memiliki pandangan bahwa dapat dikatakan merdeka apabila hilangnya kesenjangan sosial dengan terciptanya masyarakat sejahtera dan terhindar dari pelbagai macam perlakuan diskriminasi.

Kemudian, terkait bentuk mahasiswa merefleksikan perjuangan kemerdekaan, kedua mahasiswi tersebut memiliki pandangan yang berfokus dalam menciptakan keadilan serta merawat tradisi dan budaya yang ada.

“....sepantasnya senantiasa direfleksikan oleh mahasiswa dalam membela keadilan bagi rakyat Indonesia, khususnya mereka yang termarjinalisasi. Kekuatan suara dan pendirian yang dimiliki oleh mahasiswa tidak sepatutnya dapat dibayar maupun dipengaruhi oleh apapun. Singkatnya, mahasiswa harus merefleksikan perjuangan kemerdekaan melalui suara dan pendirian independen…” - Asa Aisara (Sosiologi, 2020)

Sebagaimana merefleksikan perjuangan kemerdekaan, mahasiswi di atas beropini bahwa merefleksikan kemerdekaan dengan bersifat independen dalam membela keadilan yang tidak dapat digoyahkan oleh hal apapun. Dilanjuti oleh informan kedua bahwa salah satu merefleksikan kemerdekaan dengan menjaga tradisi dan budaya.

“...contoh sederhana menjaga seluruh hasil kemerdekaan seperti tradisi dan budaya. Perjuangan pelajar sebagai generasi muda bukan diwujudkan dalam mengangkat senjata dan berperang melawan penjajah melainkan berjuang melawan kebodohan, kemiskinan, serta rasa malas yang dapat merugikan diri sendiri dan lingkungan. Harus ada kesadaran untuk mengabdikan diri sebagai anak bangsa tanpa memandang latar belakang suku agama…” - Diva Azzahra (Ekonomi Islam, 2021)

Selain menjaga tradisi dan budaya hasil perjuangan kemerdekaan, informan kedua pun beropini bahwa sudah semestinya pelajar memerangi kebodohan di masa depan dengan memiliki kesadaran mengabdikan diri sebagai anak bangsa yang tak pantang menyerah dan tak memiliki sifat diskriminasi.

Selanjutnya, terkait dengan realitas saat ini, sudahkah mahasiswa memberikan perjuangan bagi bangsa Indonesia. Kedua mahasiswa sebagai informan menyatakan hal yang sama bahwa contohnya adalah mahasiswa sebagai jembatan aspirasi masyarakat.

“Pada kenyataannya, mahasiswa belum dapat merasakan kemerdekaan secara utuh. Pendidikan yang tersedia saat ini lebih banyak dikomersialisasi, bahkan hanya mampu dijangkau oleh kelas-kelas tertentu. Dalam menyampaikan aspirasi pun, mahasiswa masih banyak dibayang-bayangi teror yang dapat mengancam keselamatan dan privasinya…” - Asa Aisara (Sosiologi, 2020)

Mahasiswi di atas menyatakan bahwa belum sepenuhnya merasakan “kemerdekaan” dengan ditemukannya realitas institusi pendidikan yang hanya dapat dijangkau oleh kalangan tertentu saja. Hal serupa, dinyatakan oleh informan kedua bahwa mahasiswa dapat menyampaikan aspirasi dengan ikut serta turun ke jalan demi menuntut keadilan.

“Mahasiswa yang membantu menyampaikan suara rakyat, membela teguh keadilan serta para mahasiswa yang turut ikut turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasinya” - Diva Azzahra (Ekonomi Islam, 2021)

 

Point of View Penulis

Penulis menyatakan dan menawarkan kepada para mahasiswa, bahwa sudah selayaknya dan semestinya untuk mereka, menjadi agent of change, baik di lingkungan internal kampus maupun masyarakat luar. Merefleksikan makna kemerdekaan tentu merujuk kilas balik ke beberapa waktu yang telah berlalu. Salah satunya seperti advokasi yang disuarakan mahasiswa melahirkan gerakan sosial yang ditujukan kepada penguasa dengan membawa persoalan berdasarkan fakta yang terjadi pada masyarakat. Namun, gerakan sosial nyatanya bukanlah satu-satunya upaya di dalam merefleksikan makna kemerdekaan. Tentu terdapat pelbagai upaya yang semestinya tak luput dihilangkan oleh mahasiswa, seperti mendobrak kancah internasional dengan membawa nama baik Indonesia, serta menjadi pencetus atau inovator dalam persoalan perekonomian negara. Hidup mahasiswa! Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia!

 

tags: #refleksi kemerdekaan; #agent of change; #mahasiswa

 

Penulis: Awan Hermawan

Editor: Hanifa Keisha F.


TAG#aspirasi  #demokrasi  #gagasan  #