» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Opini
Pancasila sebagai Orthodoksi dan Orthopraksis dalam Mengatasi Krisis Identitas
20 Juli 2020 | Opini | Dibaca 98 kali
Opini: Pancasila sebagai Orthodoksi dan Orthopraksis dalam Mengatasi Krisis Identitas Foto: Behance/Riza Fakhruddin
Pancasila merupakan sebuah ideologi terbuka yang memberikan pedoman dalam mengatur kehidupan masyarakat Indonesia (wereld en levens beschouwing). Selain sebagai ideologi, pancasila mampu memberikan kekuatan terhadap eksistensi bangsa Indonesia baik di lingkup nasional maupun internasional. Oleh karena itu, pancasila harus dipahami sebagai orthodoksi dan orthopraksis. Perumusan pancasila yang memiliki korelasi dengan karakter bangsa Indonesia yang ketimuran, diharapkan mampu menciptakan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi dalam masyarakat, khususnya pada generasi muda. Oleh sebab itu, perumusan pancasila memiliki tujuan sebagai philosofische gronslag yang mendasari tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

retorika.id- Berdiskusi mengenai pancasila di kehidupan sehari-hari sangat penting untuk memahami secara mendalam mengenai nilai-nilai dan ajaran pancasila. Karena tidak sedikit masyarakat yang meragukan kredibilitas pancasila. Dalam konteks ini, pancasila merupakan sebuah ideologi terbuka yang memberikan pedoman dalam mengatur kehidupan masyarakat Indonesia (wereld en levens beschouwing). Dengan harapan bahwa negara Indonesia yang memiliki corak yang plural dan multikultural mampu disatukan melalui rasa kebersamaan berdasarkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Perumusan pancasila tidak semudah membalikkan telapak tangan. Terdapat proses yang panjang untuk menghasilkan sebuah konsensus yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia.

Selain sebagai ideologi, pancasila mampu memberikan kekuatan terhadap eksistensi bangsa Indonesia baik di lingkup nasional maupun internasional. Oleh karena itu, pancasila harus dipahami sebagai orthodoksi, yaitu ajaran yang meyakini bahwa pancasila dirumuskan dari sejarah kebudayaan Indonesia, sehingga pancasila mencerminkan identitas atau jati diri bangsa Indonesia serta diyakini sebagai ajaran yang benar. Pancasila juga mengandung ajaran orthopraksis, yakni sebagai tindakan yang lurus. Dengan kata lain, nilai-nilai dalam pancasila dapat diimplementasikan secara konsisten dan berkesinambungan dalam praktik di kehidupan sehari-hari.

Pancasila adalah filsafat negara yang lahir sebagai ideologi kolektif dan cita-cita bersama bagi bangsa Indonesia. Pancasila dikatakan sebagai filsafat karena memiliki persamaan ciri dengan filsafat timur yang cenderung menekankan pada aspek spiritual, seperti pemberdayaan sikap introspektif, mengembangkan otoritas (agama), dan keseimbangan dalam perbedaan.

Nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam pancasila adalah ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, mufakat, dan keadilan. Perumusan pancasila yang memiliki korelasi dengan karakter bangsa Indonesia yang ketimuran,

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

diharapkan mampu menciptakan rasa nasionalisme dan patriotisme yang tinggi dalam masyarakat, khususnya pada generasi muda. Oleh sebab itu, perumusan pancasila memiliki tujuan sebagai philosofische gronslag yang mendasari tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam hal ini, terdapat relevansi antara nilai-nilai dalam pancasila terhadap ajaran filsafat. Pertama, secara ontologi, pancasila mengajarkan nilai-nilai luhur untuk saling menghormati dan menyayangi sesama manusia sesuai dengan ajaran Tuhan. Kedua, secara epistemologi, pancasila diyakini sebagai ajaran yang benar berdasarkan wawasan kebangsaan untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, secara aksiologi, substansi pancasila memuat nilai-nilai luhur yang mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh umat manusia.

Akan tetapi, semenjak adanya modernisasi telah mengakibatkan kedudukan pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia menjadi kabur. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tercantum dalam pancasila terus diuji dengan berbagai konflik. Apabila hal itu terus terjadi maka tidak menutup kemungkinan akan mengubah arah ideologi pancasila, sehingga berpotensi mengancam identitas bangsa Indonesia. Dampak dari terjadinya krisis identitas nasional dapat memicu hilangnya rasa nasionalisme dan patriotisme pada generasi muda. Akibatnya adalah nilai-nilai dalam pancasila mulai ditinggalkan. Hal itu disebabkan karena adanya anggapan dari generasi muda bahwa kebudayaan bangsa lain lebih baik daripada kebudayaan bangsa Indonesia (kebarat-baratan).

Berkaitan dengan itu, permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dewasa ini adalah krisis identitas nasional, seperti menurunnya penghayatan terhadap nilai-nilai pancasila, rendahnya toleransi atas perbedaan, demokrasi yang disalahartikan, dan kesenjangan yang memicu kecemburuan sosial.

Kredibilitas pancasila dari dahulu sampai sekarang sering diperdebatkan di berbagai kalangan masyarakat, karena terdapat bentuk-bentuk penyimpangan yang melanggar ajaran pancasila. Salah satu penyimpangan yang sulit untuk dibasmi adalah KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Penyimpangan tersebut terjadi karena kurangnya optimalisasi nilai-nilai pancasila dalam praktik hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, peran generasi muda sangat dibutuhkan untuk menguatkan kembali (revitalisasi) posisi pancasila.

Revitalisasi pancasila menjadi urgensi di era saat ini karena bertujuan untuk menghidupkan dan menanamkan kembali nilai-nilai pancasila yang mulai ditinggalkan, serta dianggap kuno oleh generasi muda. Upaya tersebut dapat dilakukan di setiap lembaga pendidikan. Pembekalan tentang materi pancasila bagi tenaga pengajar diharapkan mampu terealisasikan dalam metode mengajar, seperti diskusi di kelas. Sehingga para generasi muda mampu berpikir secara kritis dan inovatif dalam melihat realitas sosial di masyarakat sekaligus menjadi problem solver terhadap suatu permasalahan.

Selain pelaksanaan diskusi di kelas, kemajemukan dalam masyarakat Indonesia dapat diintegrasi dengan menerapkan pendidikan multikultural di segala aspek kehidupan. Sebagai bangsa yang memiliki kekayaan budaya, Indonesia sangat membutuhkan keadilan, perdamaian, anti konflik, anti kekerasan, dan anti diskriminasi. Jadi, pendidikan multikultural adalah solusi yang tepat dengan mengedepankan tujuan utama untuk mencegah konflik, baik antar individu maupun kelompok di era modernisasi.

Pendidikan Multikultural meliputi penegasan kembali identitas kultural seseorang (identitas nasional), menghormati dan ikut mempelajari kebudayaan di luar kebudayaannya sendiri, dan toleransi terhadap perbedaan baik dalam hal kebudayaan maupun hal lainnya. Maka dengan begitu revitalisasi pancasila dapat berjalan secara komprehensif sebagai pokok kaidah fundamental yang berada pada tatanan normatif (Grundnorm/ Staatsfundamentalnorm) serta memiliki peran dalam memelihara integrasi nasional.  

Berdasarkan aspek sosial dan budaya, generasi muda memiliki kemajemukan karakteristik yang dilihat dari ragam daerah, etnis, agama, bahasa, dan ekonomi. Dengan keberagaman karakteristik tersebut dapat disatukan melalui tiga proses pengembangan karakter nasionalisme dan patriotisme (Rajasa, 2007).

1. Pembangunan karakter (Character Builder). Dengan menerapkan nilai-nilai moral yang bernuansa pancasila di kehidupan sehari-hari. Hal itu bertujuan untuk meningkatkan kualitas karakter dan moral generasi muda dengan semangat modernisasi dan tetap menjadikan ideologi pancasila sebagai pandangan hidup (weltanschauung).

2.  Pemberdayaan karakter (Character Enabler). Generasi muda menjadi poros utama untuk mencapai karakter positif demi terwujudnya integrasi nasional.

3. Perekayasa karakter (Character Engineer). Proses ini dilakukan dengan mengajak generasi muda untuk turut aktif di bidang akademik maupun non akademik dalam rangka membangun karakter berdasarkan identitas atau jati diri bangsa Indonesia.

Arus modernisasi mustahil untuk dihentikan. Dampaknya juga tidak bisa dihindari sepenuhnya oleh masyarakat baik dampak positif maupun negatif. Apabila kita mampu memfilter dan melakukan internalisasi terhadap berbagai hal yang masuk berdasarkan nilai-nilai pancasila, maka modernisasi akan memberikan dampak yang positif. Namun, modernisasi nyatanya juga bisa memberikan dampak negatif jika hal-hal yang masuk berpotensi mengancam integrasi nasional dan identitas bangsa Indonesia.

Oleh sebab itu, generasi muda harus mampu memainkan peran yang lebih besar atas pembangunan nasional dengan menjadikan pancasila sebagai pegangan hidup (weldbeschauung), serta aktif melakukan revitalisasi dan reaktualisasi nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Karena pancasila merupakan hasil dari warisan nusantara yang dikombinasikan dengan warisan dunia, sehingga menjadi ideologi yang bersifat cerdas dan visioner.

 

Penulis: Alvidha Febrianti


TAG#aspirasi  #gagasan  #  #