» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Diskusi Dinamika Kebijakan Penanganan Covid-19
08 Juli 2020 | Liputan Khusus | Dibaca 366 kali
Diskusi Dinamika Kebijakan Penanganan Covid-19 : sumber: Foto: Dokumen pribadi/Frillian Ariani Permadi
Diskusi online dengan tajuk “Dinamika Kebijakan dalam Penanganan Covid-19 telah dilaksanakan pada Senin (6/7/2020). Dalam webinar tersebut Rektor Universitas Airlangga Prof. Dr. Moh. Nasih SE., MT., Ak, mengatakan, “Tidak perlu memutus semua rantai yang ada di kehidupan kita, cukup yang berpotensi untuk hal itu saja ditangani sebaik-baiknya, sementara yang lainnya tetap hidup normal dan produktif.”

retorika.id - Pada Senin (6/7/2020), Pengurus Pusat Ikatan Alumni Universitas Airlangga mengadakan web seminar via Zoom berjudul “Dinamika Kebijakan dalam Penanganan Covid-19.” Diskusi ini bekerjasama dengan Universitas Airlangga, Pemkot Surabaya, dan Pemprov Jawa Timur. Narasumber yang dihadirkan adalah dr. Joni Wahyuhadi sebagai perwakilan gubernur Jawa Timur, Rektor Universitas Airlangga, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, serta para panelis dari pakar sosiologi, ekonomi, komunikasi, epidemiologi, dan psikologi.

Diskusi dibuka dengan statement Achmad Yurianto, bahwa Covid-19 berpotensi sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat. Hal tersebut dipertegas dengan pernyataan Presiden yang menetapkan pandemi sebagai bencana nasional. Penanganan pandemi ini perlu difokuskan pada pentahelix berbasis komunitas, yakni pemerintah, masyarakat, usaha, akademisi, dan media.

Menurut

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

pemaparannya, manajemen intervensi Covid-19 ini 70% akan dilakukan pra-rumah sakit dan 30% rumah sakit. Hal tersebut dikarenakan penularan penyakit lebih banyak terjadi dari kegiatan di luar, sebelum akhirnya dilakukan perawatan di rumah sakit. Hal tersebut juga disetujui oleh para panelis.

dr. Joni Wahyuhadi sebagai perwakilan gubernur Jawa Timur, menyorot Norwegia atas keberhasilannya melakukan kebijakan pra-hospital atau pra-rumah sakit. “Menangani viralnya lebih sulit daripada menangani penyakitnya,” ujar Joni. Ia menampilkan kutipan yang berbunyi, “We are fighting 2 pandemics. Covid-19 and stupidity.

Pakar ekonomi, Badri Munir Sukoco, dan pakar komunikasi Dr. Suko Widodo setuju bahwa dibutuhkan adanya informasi tentang ketenangan kepada publik. Berita dan cerita yang positif, membangkitkan harapan, optimisme, perlu dibuat dan diviralkan. Optimisme dan willingness to spend menjadi modal besar untuk bangkit.

Dalam kesempatan ini, Suko mengkritik beberapa hal terkait kinerja pemerintah. Ia menyayangkan kunjungan  pemerintah yang dirasa kurang konsisten. “Saya lihat para bupati-wali kota datang ke masyarakat ke masyarakat dan peristiwa yang seharusnya tidak dipublikasikan justru dipublikasi. Ini kan melukai perasaan rakyat. Jadi kurangi selebrasi-selebrasi,” ujarnya.

Kritikan juga disampaikan Dr. Windhu terkait kebijakan rapid test yang menjadi syarat Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Menurutnya,  rapid test tidak bisa digunakan sebagai pengambilan keputusan, karena menurut sudut pandang epidemiologi rapid test tidak dapat memutus penularan. Seharusnya rapid test hanya untuk screening saja.

Garis besar pada diskusi ini adalah perlunya keterlibatan ahli-ahli sosial untuk menganalisis dan melakukan pendekatan pra-rumah sakit pada masyarakat. Analisis tersebut guna menghasilkan kebijakan yang satu suara, spesifik dan tepat sasaran, dan juga sanksi yang tegas. Menurut Prof. Dr. Moh. Nasih SE., MT., Ak, “Tidak perlu memutus semua rantai yang ada di kehidupan kita, cukup yang berpotensi untuk hal itu saja ditangani sebaik-baiknya, sementara yang lainnya tetap hidup normal dan produktif”.

Peran tokoh-tokoh lokal masih sangat penting untuk penyampaikan kebijakan-kebijakan karena menurut Profesor Musta’in Mashud, masyarakat Indonesia masih primordial. Penggunaan Bahasa lokal juga penting untuk menyampaikan kebijakan agar dapat lebih mudah dipahami.

Hasil diskusi ini akan diserahkan kepada dr. Joni sebagai perwakilan gubernur. Selain kebijakan pra-rumah sakit, dr. Joni juga berharap adanya strategi yang lebih efektif untuk penanganan dan pemulangan pasien. Pihaknya merencanakan pelibatan mahasiswa dalam penanganan pandemi ini pada preferensi, promosi, dan tracking.

 

Penulis: Frillian Ariani Permadi


TAG#gagasan  #pemerintahan  #universitas-airlangga  #