» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 081281600703.

Opini
Balada Fenomena Bystander Effect di Perkotaan
04 Agustus 2019 | Opini | Dibaca 185 kali

retorika.id - Pernahkah melihat situasi ketika terjadi kecelakaan lalu-lintas, tetapi orang-orang di sekitar tempat kejadian hanya melihat lalu pergi begitu saja? Atau kasus pelecehan seksual yang dialami oleh seorang perempuan di transportasi umum dan kita yang mengetahuinya malah memilih untuk tidak membantu korban atau mendiamkan perbuatan immoral dari pihak lain? Fenomena tersebut dikenal sebagai bystander effect atau Genovese Syndrom.

Istilah bystander effect menjelaskan bahwa adanya kecenderungan yang tinggi untuk membantu orang lain yang membutuhkan bantuan jika tidak ada saksi mata lainnya. Sebaliknya, seseorang akan enggan menolong jika terdapat banyak orang di sekitarnya. Singkatnya, kehadiran orang lain pada suatu keadaan

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

darurat akan mengurangi kemungkinan seseorang untuk memberikan bantuan. 

Teori bystander effect dikembangkan oleh Bill Latane dan John Darley melalui penelitian terhadap kasus pembunuhan dan pemerkosaan yang dialami oleh Catherine Genovese yang terjadi pada tahun 1964 di kota New York. Fakta yang mengejutkan dari peristiwa itu adalah 38 tetangganya hanya melihat dari dalam rumah dan tidak ada satupun yang keluar untuk menolong. Kemudian, hanya ada satu orang yang berani melaporkan pada pihak kepolisian setelah Catherine Genovese telah meninggal.

Cuplikan kejadian tersebut merupakan dampak yang krusial atas sikap apatis sebagai ciri khas gaya hidup masyarakat perkotaan. Masyarakat perkotaan kerap kali diidentikkan dengan kultur individualis. Namun, apabila kita telisik lebih lanjut, bukan hanya karena karakteristik masyarakat perkotaan yang individualis, melainkan dari sisi laki-laki dan perempuan.

Dalam hal ini yang dimaksud adalah orientasi moral kepedulian pada laki-laki dan perempuan. Perkembangan moral perempuan lebih cepat ketika memasuki usia remaja tengah atau akhir. Sehingga, kaum perempuan melihat moralitas sebagai sebuah kepedulian, tanggung jawab dan hubungan. Maka tidak heran, jika terjadi situasi genting atau permasalahan dalam masyarakat, kebanyakan dari mereka yang ikut menolong adalah perempuan. Karena perempuan lebih sensitif terhadap kebutuhan orang lain yang dapat menjadi kelemahan.

Berbeda halnya dengan laki-laki yang memandang moralitas sebagai hak-hak mereka tanpa mengganggu hak-hak orang lain. Hal itulah yang berpotensi menimbulkan fenomena bystander effect. Terdapat rasa enggan untuk menolong orang lain yang mengalami musibah. Serta muncul pemikiran bahwa bantuan yang mereka berikan tidak begitu bermanfaat karena ada saksi mata lainnya yang mungkin jauh lebih membantu.

Konsep penalaran laki-laki dan perempuan memang sesuatu yang cukup baru, terutama untuk konteks bystander effect. Dari tulisan diatas setidaknya mampu kita pahami bahwa apabila ingin menolong sebaiknya tidak harus memilih situasi dan kondisi. Menolong adalah upaya inisiatif yang muncul dalam diri kita tanpa menunggu orang lain untuk menolong. Bagaimana jika kita yang mengalami musibah, tetapi sama sekali tidak ada orang lain yang menolong? Tentu menjadi hal yang tidak mengenakkan, bukan?

 

Penulis: Alvidha Febrianti


TAG#humaniora  #  #  #