» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 085850150198.

Opini
Ironi Coret-Coret Seragam Sekolah
11 Mei 2018 | Opini | Dibaca 841 kali
Ironi Coret-Coret Seragam Sekolah: - Foto: Suara Pembaruan
Hidup memang penuh warna, bahkan seragam sekolah pun dicoret-coret dengan warna-warni hanya karena euforia perayaan kelulusan. Maka untuk kalian para pelajar yang baru lulus, semoga kalian bisa merenungkan sejenak untuk memikirkan manfaat apa yang kalian dapat dari semua ini?

Aksi coret-coret seragam sekolah khususnya oleh anak SMA rasanya tetap menjadi perayaan setiap pelajar yang telah melewati masa pendidikannya. Padahal, aksi coret tersebut belum tentu juga memberikan manfaat bagi mereka. Jika pun perayaan simbolik dengan mencoret seragam sekolah menjadi suatu keharusan, maka tentu setiap pelajar akan tetap melanggengkannya karena dianggap sudah menjadi “kebiasaan”. 

Sungguh ironi melihat generasi penerus bangsa seperti ini. Apakah kebiasaan coret-coret tersebut dapat dibenarkan? Apakah  juga kebiasaan coret-coret tersebut dapat dimaklumi? Memang hidup di dunia ini penuh warna hingga seragam sekolahpun dapat sesuka hati juga diberi warna , tetapi

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

apa benar kebiasaan coret seragam sudah menjadi ketetapan yang harus dilaksanakan, khususnya pada pelakunya sendiri yaitu pelajar?

Ah, memang apa salahnya jika merayakan kelulusan dihiasi dengan coretan warna pada seragam sekolah sendiri? 

Tidakkah mereka sadar bahwa tindakan tersebut apa bisa memberikan manfaat? Karena kesenangan sesaat mereka itu hanya sebagai euforia pelepasan ekspresi kemenangan dari berakhirnya beban mereka dari jeratan sekolah. Apakah mereka tidak sadar bahwa tindakan tersebut menjadi mubazir karena tidak bermanfaat? Tidakkah mereka mengingat banyak pelajar lainnya yang tidak memiliki seragam disaat mereka membutuhkan seragam? Belum lagi, perayaan tersebut juga dilakukan dengan konvoi yang menunjukkan kebanggaan pada khalayak bahwa mereka telah lulus.

Heran saja melihat kelakuan para pelajar yang katanya “mengenyam pendidikan”, tetapi masih menjadikan kebiasaan coret seragam sebagai tradisi tahunan yang wajib dilakukan. Apa mereka juga tidak menyadari bahwa seragam yang dipakai adalah hasil jerih  payah orang tua yang ingin melihat anaknya sukses kelak.

Sampai saat ini pun semua orang juga tidak tahu sejak kapan adanya tradisi coret seragam sekolah yang menjadi kebiasaan rutin setiap tahun. Mungkinkah setiap pelajar yang telah melakukan kebiasaan tersebut dapat merenungkan sejenak, sebenarnya apa yang mereka dapatkan setelah melakukan kebiasaan tersebut?

Memang tak bisa dipungkiri, sulit untuk melihat memprediksi motif dibalik kegiatan tersebut, apalagi seakan “menyeragamkan” alasan dibalik itu. Akan tetapi kita perlu melihat kembali bahwa kebiasaan coret seragam tersebut lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya.

Entah sampai kapan hal ini terus terjadi. Semoga saja dapat lekas berhenti.

Mungkin lebih baik pelajar-pelajar yang baru lulus ini harus mengerti dan peka pada kondisi pelajar lainnya yang lebih banyak membutuhkan seragam.

Wah, seharusnya ironi kebiasaan coret-coret seragam ini dapat diubah dengan perayaan kelulusan yang lebih positif ya.

 

Penulis : Muhammad Irfan Afwandi

 


TAG#satir  #tradisi  #  #