» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Mild Report
Baliho Puan Maharani di Lokasi Bencana Gunung Semeru, Antara Gairah Politik dan Rasa Kemanusiaan
27 Desember 2021 | Mild Report | Dibaca 907 kali
Baliho Puan Maharani di Lokasi Bencana Gunung Semeru, Antara Gairah Politik dan Rasa Kemanusiaan: - Foto: Suara.com
Baliho bergambar Puan Maharani yang menghiasi sekitar lokasi pengungsian bencana erupsi Gunung Semeru menghebohkan publik. Meskipun pesannya terkesan humanis, tetapi mengindikasikan adanya suatu kepentingan politik, kritik tajam pun tidak terelakkan dan bahkan mengalir deras.

retorika.id- Belum puas dengan pemasangan baliho “Kepak Sayap Kebhinekaan” , kini publik dihebohkan lagi dengan kemunculan baliho bergambar Ketua DPR-RI yakni  Puan Maharani di sekitaran lokasi bencana erupsi Gunung Semeru Lumajang, Jawa Timur. Baliho yang  bertuliskan “Tangismu, Tangisku, Ceriamu, Ceriaku. Saatnya Bangkit Menatap Masa Depan” tersebut menuai kritik dari banyak pihak sebab dirasa tidak etis.

Pemasangan baliho tersebut dianggap tidak melihat bagaimana kondisi psikologis masyarakat dan tidak menghormati masyarakat sebagai korban bencana yang sampai saat ini masih berjuang dan waspada akan hadirnya bencana kedepan atau lanjutan. Bila tujuannya hendak menaikkan popularitas dan elektabilitasnya sebagai bekal Pemilihan Presiden (Pilpres), cara ini tidak tepat sebab terselenggaranya pun terbilang masih  cukup lama yakni pada tahun 2024.

Puan Maharani, namanya selalu diperbincangkan karena masuk ke dalam daftar Calon Presiden 2024, bersanding dengan nama-nama politikus popular seperti Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, Khofifah Indar Parawansa, hingga Agus Yudhoyono. Tentu perjuangan yang berat bagi PDI-P jika nantinya mencalonkan Puan dan berupaya untuk dapat mengalahkan elektabilitas politikus terkait yang namanya ikut masuk ke dalam calon presiden 2024. 

Jika ditinjau, memang benar baliho bergambar Puan tersebut terkesan humanis, meskipun begitu  justru membuat kegagalan penyampaian informasi ke masyarakat, seakan- akan ada komunikasi politik yang hendak dibangun, karena Puan selalu di kaitkan dengan Pilpres yang akan datang. Tidak dapat dipungki bahwa komunikasi politik  memiliki peran penting bagi politikus untuk mendapatkan simpati

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

dari masyarakat dan  untuk mencitrakan dirinya guna menaikkan elektabilitas dan popularitas. Sejatinya komunikasi politik dapat dilakukan dengan dua cara yakni konvensional dan modern, untuk baliho sendiri itu merupakan media konvensional yang sifatnya satu arah.   

Dengan ini, hadirnya baliho Puan Maharani tersebut membuat perasaan masyarakat  bergejolak dan merasa sakit hati. Mengingat, saat ini masyarakat Lumajang sedang berduka, banyak yang kehilangan harta, benda, keluarga inti, hingga sanak saudara akibat erupsi Gunung Semeru. Masyarakat lebih membutuhkan sembako untuk kebutuhan hidupnya sehari-hari dibandingkan melihat  banyaknya baliho menghiasi jalan di sekitar lokasi pengungsian bencana erupsi Gunung Semeru.

Sebenarnya PDI-P sendiri telah menerjunkan para kadernya untuk ikut serta membantu masyarakat yang terdampak, tetapi dengan adanya baliho tersebut mengindikasikan adanya nuansa kepentingan politik yang tersisipi. Ini tentu sangat berbahaya bagi elektabilitas Puan Maharani, karena dapat memudarkan rasa simpati masyarakat.

Terlebih lagi banyak masyarakat yang mempertanyakan ketulusan  sang Ketua DPR-RI dalam memberikan bantuan. Apakah benar-benar murni karena rasa kemanusiaannya ataukah ingin memanfaatkan situasi, sebab jika ditelisik banyak kontroversi Puan sebagai Ketua DPR-RI yang membuat masyarakat geram. Tentunya dalam mengambil sikap dan tindakan harus lebih hati-hati. Sudah sepantasnya apabila benar dilatarbelakangi rasa kemanusiaan yang tinggi, akibat prihatin dengan kondisi masyarakat yang terdampak,  pemasangan baliho tidak perlu dilakukan. 

Melansir media sosial Twitter, kritikan dari masyarakat terkait aksi pemasangan baliho ini pun mengalir deras. Dari postingan salah satu netizen @Pasifis**** yang berujar “ Seburuk-buruknya manusia adalah yang kampanye di area terdampak bencana,” menuai beragam komentar.

Lebih lanjut netizen dengan akun @y_yum*** pun turut menanggapi “ Banyak sekali duitnya, satu baliho itu lumayan mahal lho? Andaikata niatnya tulus ingin membantu meringankan beban masyarakat yang terkena dampak erupsi, biaya pembuatan baliho itu jika dialihkan untuk membeli sembako lumayan sebenarnya.”

“Very bad!!Bencana jadi bancakan hasrat politik!!What kind of human!!,” Ujar akun @thelvin***

“ Bencana belum usai, 2024 sudah mulai,”Ujar akun @itsmo*****

Hendrawan Supratikno selaku politikus PDI-P Komisi II DPR-RI pun angkat suara, bahwasanya ia membantah jika partai memerintahkan pemasangan baliho Puan Maharani. Pihak partai hanya mengetahui akan dipasang spanduk selamat datang saja, sehingga hadirnya baliho ini sesungguhnya tidak sesuai dengan rencana.

“Saya khawatir ada pihak yang pasang untuk kepentingan lain di luar bela kemanusiaan,” Ujar Hendra.

Lain sisi dengan Wakil Sekjen DPP PDI-P yakni Utut Adianto yang justru menyebut bahwa keberadaan baliho merupakan sikap spontanitas kader dari teman-teman Puan Maharani. Sebab kader PDI-P kerap kembali ke dapil, apalagi ketika masa reses. Utut menilai bahwa pemasangan baliho itu memiliki maksud baik.

Terlepas dari pernyataan tersebut, bahwasanya jika ditelisik ini terkait dengan adanya  upaya manuver politik, meski pemasangannya dibantah oleh pihak PDI-P bisa jadi itu merupakan bagian dari cuci tangan. Namun jika benar dipasang oleh pihak luar maka ada upaya untuk menjatuhkan citra Puan Maharani, dengan menggiring opini publik. Sebab seperti yang diketahui bahwa opini publik merupakan kekuatan politik.

Lebih lanjut, sejauh ini tersiar  kabar bahwa baliho Puan Maharani yang bertebaran  di  sekitaran lokasi bencana Gunung Semeru tidak memiliki izin, sehingga ditertibkan oleh Satpol PP setempat dengan melakukan pencopotan, ini tentunya berdasarkan aturan yang ada. Solikhin selaku Ketua DPC PDIP Lumajang pun memaklumi tindakan pencopotan baliho, karena pemasangannya tidak melakukan konfirmasi ke pihaknya.

 

Penulis:Dina Marga H

Editor : Ega Putra

 

Referensi:

Asih, R. W. 2021. Ketika Puluhan Baliho dan Spanduk Puan Maharani Bertebaran di Lokasi Bencana Semeru. Tersedia di: https://kabar24.bisnis.com/read/20211222/15/1480410/ketika-puluhan-baliho-dan-spanduk-puan-maharani-bertebaran-di-lokasi-bencana-semeru ( diakses 26 Desember 2021)

Taher, A.P. 2021. Polemik Baliho Puan Maharani Bertebaran di Lokasi Bencana Semeru. Tersedia di: https://tirto.id/polemik-baliho-puan-maharani-bertebaran-di-lokasi-bencana-semeru-gmxc ( diakses 26 Desember 2021)

Persada, S. 2021. Ada Baliho Puan di Lokasi Bencana Gunung Semeru, PDIP: Tak Ada Instruksi Partai. Tersedia di: https://nasional.tempo.co/read/1542178/ada-baliho-puan-di-lokasi-bencana-gunung-semeru-pdip-tak-ada-instruksi-partai/full&view=ok ( diakses 26 Desember 2021)

 


TAG#demokrasi  #politik  #  #