» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Mild Report
Kematian George Floyd dan Rasisme di Amerika Serikat
01 Agustus 2020 | Mild Report | Dibaca 246 kali
Ilustrasi: Black Lives Matter Foto: dezeen/Sacrée Frangine
Kasus kematian George Floyd, seorang warga keturunan Afrika-Amerika berusia 46 tahun, oleh seorang polisi di Amerika membuat dunia geram. Kasus George Floyd itu sendiri sebenarnya bukanlah kasus yang baru di Amerika. Dilansir dari laman resmi Human Right Watch (2020), kasus Floyd adalah kasus kematian terbaru dari rentetan sejarah panjang pembunuhan warga kulit hitam oleh polisi di Amerika Serikat. Kasus-kasus seperti kematian Eric Garner, Philando Castile, Alton Sterling, Delrawn Small, Terence Crutcher, Breonna Taylor, dan lain sebagainya juga telah memenuhi sejarah hitam Amerika Serikat.

retorika.id- Kasus kematian George Floyd, seorang warga keturunan Afrika-Amerika berusia 46 tahun, oleh seorang polisi di Amerika membuat dunia geram. Hal tersebut berakibat pada berbagai aksi demonstrasi mengecaman tindakan kekerasan berbasis rasial. Ucapan terakhir dari Floyd berbunyi ''I Can’t Breathe", dan slogan-slogan Black Live Matter, sontak memenuhi wacana di berbagai media.

Dilansir dari laman Tirto.id (2020), kasus ini bermula ketika George Floyd ditangkap karena dianggap telah membeli rokok dengan uang palsu. Dikarenakan anggapan tersebut ia lalu diringkus oleh polisi Minneapolis pada 25 Mei 2020. Polisi yang meringkusnya, Derek Chauvin, disebutkan menempatkan lutut kirinya diantara kepala dan leher Floyd, dan posisi tersebut berlangsung selama enam menit. Satu jam kemudian Floyd dikabarkan meninggal dunia usai kejadian.

Kasus George Floyd itu sendiri sebenarnya bukanlah kasus yang baru di Amerika. Dilansir dari laman resmi Human Right Watch (2020), kasus Floyd adalah kasus kematian terbaru dari rentetan sejarah panjang pembunuhan warga kulit hitam oleh polisi di Amerika Serikat. Kasus-kasus seperti kematian Eric Garner, Philando Castile, Alton Sterling, Delrawn Small, Terence Crutcher, Breonna Taylor, dan lain sebagainya juga telah memenuhi sejarah hitam Amerika Serikat.

Perbedaan

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

perlakuan polisi berbasis rasial juga kentara dalam menangani kasus. Human Right Watch (2019) dalam artikelnya berjudul “Get on the Ground!” Policing, Poverty and Racial Inequality in Tulsa, Oklahoma, menyebutkan bahwa menurut hasil riset di Tulsa pada tahun 2012-2017, disparitas tindakan polisi dalam penggunaan paksaan dan kekerasan terhadap warga di Tulsa menunjukkan bahwa warga kulit hitam cenderung 2,7 lebih mungkin untuk mendapat perlakuan fisik ketimbang warga kulit putih.

Artikel tersebut juga menambahkan informasi bahwa jumlah warga kulit hitam di Tulsa hanya berjumlah 17 persen dari total keseluruhan populasi, artinya hampir 37 persen populasi warga kulit hitam di Tulsa mendapatkan kekerasan fisik dari aparat kepolisian. 

Adanya prasangka-prasangka berdasarkan rasial bahwa warga kulit hitam patut dicurigai dan dianggap tidak beradab ditenggarai menjadi dalang dari perbedan perlakuan tersebut. Adanya bias-bias yang diyakini menyebabkan tindakan-tindakan kekerasan dan paksaan seringkali digunakan oleh aparat kepolisian dalam menangani kasus-kasus yang melibatkan warga kulit hitam.

Tidak hanya berdampak pada warga kulit hitam, warga keturunan dari Asia di Amerika Serikat juga tengah mengalami diskriminasi seiring dengan adanya pandemik Covid-19. Human Rights Watch (2020) juga melaporkan bahwa sejak mewabahnya pandemi, warga beretnis Asia beserta keturunannya menjadi target dari ungkapan rasis dari berbagai pihak.

Sejak Februari 2020 disebutkan bahwa warga beretnis Asia serta keturunannya sering menjadi sasaran dari penyerangan, pemukulan, ancaman, pelecehan, serta diskriminasi akibat dari adanya pandemi. Berdasarkan press release dari Asian Pacific Policy & Planning Council (2020) dalam reporting center bernama STOP AAPI HATE pada 13 Mei 2020, dilaporkan telah ada 1710 laporan kasus insiden kekerasan verbal dan penyerangan fisik yang diterima oleh warga Asia-Amerika. Sembilan dari sepuluh responden yang ada menyebutkan mereka menjadi target dari diskriminasi tersebut akibat etnisitas yang mereka miliki.

Meminjam istilah dari Amnesty International (2001), rasisme merupakan suatu tindakan yang menyerang segala gagasan mengenai hak asasi manusia. Hal tersebut juga secara sistematis menolak hak-hak asasi dikarenakan perbedaan warna kulit, etnis, ras, keturunan, maupun asal kebangsaan. Oleh karenanya permasalah rasisme bukanlah sekadar masalah satu atau dua negara belaka. Dikarenakan menyangkut hak asasi dari manusia, maka rasisme perlu untuk dilawan oleh segenap bangsa di dunia ini.

 

Penulis: Bagus Puguh Widagdo


Referensi:
Amnesty International. 2001. Racism and the administration of Justice.

https://www.amnesty.org/download/Documents/120000/act400202001en.pdf [diakses pada 6 Juno 2020].

Asian Pacific Policy & Planning Council. 2020. PRESS RELEASE: In Six Weeks, STOP AAPI HATE Receives Over 1700 Incident Reports of Verbal Harassment, Shunning and Physical Assaults.

http://www.asianpacificpolicyandplanningcouncil.org/wp-content/uploads/Press_Release_5_13_20.pdf [diakses pada 6 Juni 2020].

Human Right Watch. 2020. US: Address Structural Racism Underlying Protests.

https://www.hrw.org/news/2020/06/02/us-address-structural-racism-underlying-protests [diakses pada 6 Juni 2020].

Human Right Watch. 2019. “Get on the Ground!”: Policing, Poverty, and Racial Inequality in Tulsa, Oklahoma.

https://www.hrw.org/report/2019/09/12/get-ground-policing-poverty-and-racial-inequality-tulsa-oklahoma/case-study-us [diakses pada 6 Juni 2020]
Human Right Watch. 2020. Covid-19 Fueling Anti-Asian Racism and Xenophobia Worldde.

https://www.hrw.org/news/2020/05/12/covid-19-fueling-anti-asian-racism-and-xenophobia-worldwide [diakses pada 6 Juni 2020].

Tirto.id. 2020. Kasus Rasisme & Represi seperti George Floyd Berulang di Indonesia.

https://tirto.id/kasus-rasisme-represi-seperti-george-floyd-berulang-di-indonesia-fEB6 [diakses pada 6 Juni 2020].