» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Rekam Jejak Predator Fetish yang Berlangsung Cukup Lama
31 Juli 2020 | Liputan Khusus | Dibaca 250 kali
Pelecehan seksual kain jarik: Rekam Jejak Predator Fetish yang Berlangsung Cukup Lama Foto: The Express Indian I akun twitter @m_fikris
Cerita yang beredar di kampus tentang predator bungkus-membungkus ini sudah bukan barang baru lagi bagi warga lingkungan Kampus B, Universitas Airlangga. Beberapa orang menganggapnya hanyalah seperti legenda, itu tidak nyata dan hanya cerita karangan saja. Namun, beberapa lainnya meyakininya dengan sangat serius. Hingga akhirnya setelah viral thread yang ditulis oleh akun @m_fikris, semua orang kini meyakini keabsahan legenda itu.

retorika.id- Salah satu utas yang dituliskan oleh akun twitter @m_fikris menjadi viral karena menceritakan tentang kelakukan pelaku fetish terhadapnya. Nama pelaku fetish santer terdengar kemana-mana. Namun, beberapa orang sudah tak kaget lagi mendengarnya. Utamanya bagi mahasiswa yang satu almamater dengannya, apalagi yang hampir menjadi korban ataupun yang sudah menjadi korban.

Tim Retorika telah menghimpun banyak data dari banyak korban tentang pelaku tersebut dari para mahasiswa, dan juga berusaha untuk menghubungi pelaku. Namun, sampai sekarang, tak nampak jawaban dari pelaku untuk menyanggupi kesediaannya wawancara dengan kami.

Cerita tentang predator ini memang seolah-olah menjadi cerita legenda di lingkungan Kampus B sendiri. Kabar-kabar yang beredar tentang cerita predator itu memang santer terdengar, utamanya untuk mahasiswa laki-laki. Tidak sedikit dari mereka yang dihubungi oleh pelaku, bahkan sampai dikunjungi ke indekos mereka. Bak cerita legenda, kisah predator ini sampai-sampai ada mitosnya. Mitos itu, yakni jika pelaku telah berhasil menghubungi calon korban, maka calon korban tersebut akan dikejar sampai benar-benar mau dan bertemu dengan pelaku.

Hal tersebut membuat resah banyak mahasiswa, terutama bagi yang dihubungi oleh pelaku. Apalagi bagi mereka yang berada di tingkat bawah dari angkatan pelaku itu sendiri. Kelihaian pelaku untuk melancarkan aksinya dengan berbagai dalih dan manipulasi yang ia buat, membuat adik tingkat yang tidak tahu-menahu soal riset dan kehidupan kampus akhirnya menuruti permintaan pelaku.

Tim Retorika berhasil menghimpun banyak sekali kesaksian dari orang-orang yang merasa dirugikan oleh pelaku. Baik itu yang sekadar dichat, diajak ketemuan, dihampiri di indekos mereka, bahkan sampai menjadi korban operasi bungkus-membungkusnya itu. Selain itu, ada juga yang sampai menjadi korban kekerasan seksual oleh pelaku.

Rata-rata korban dari pelaku adalah laki-laki dan berstatus sebagai mahasiswa rantau yang berkuliah di Surabaya. Target korban yang merupakan mahasiswa rantau di Surabaya mempermudah pelaku dalam melancarkan aksinya. Apalagi yang beralamatkan di sekitaran Kampus B, tentu itu akan lebih dekat lagi dengannya. Karena memang pelaku sendiri adalah mahasiswa angkatan 2015, maka hampir seluruh korbannya adalah mahasiswa dengan status angkatan di bawahnya.

 

Diajak Kenalan, Dimanjakan, dan Diajak ke Indekos

Begitulah kira-kira frasa paling umum yang menceritakan tentang opera dalam kisah petualangan pelaku di lingkungan Kampus B. Secara tidak jelas begitu saja, pelaku tiba-tiba mengajak kenalan laki-laki incarannya. Beberapa sasarannya yang memang rata-rata adalah mahasiswa rantau dan tidak tahu-menahu mengenai kondisi Ospek (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus), serta tidak memiliki begitu banyak pengalaman diajak oleh pelaku dan dimanjakan.

Beberapa korban menjelaskan kepada kami, bahwa pelaku membantunya untuk menyiapkan alat-alat untuk ospek, memberikan wejangan, dan terkadang memberinya makan. Pelaku seolah-olah memanjakan betul calon korbannya ini. Pembangunan ikatan batin ini dilakukan pelaku dengan berbagai cara dan itu menguntungkan calon korbannya.

Beberapa korban merasa ada yang aneh dengan kelakuannya, apalagi frasa-frasa bernada seksis kerap terlontar dari mulut pelaku. Banyak dari calon korban memilih untuk memutuskan hubungannya dengan pelaku. Ketika korban memilih untuk tidak menghubungi pelaku lagi, menurut penuturan banyak korban, disinilah pelaku memainkan Kartu As-nya.

Pelaku mengungkit-ungkit atas bantuan yang telah ia berikan, entah itu bantuan bersifat material ataupun non-material. Saat ini, kelakuan pelaku sangat mengganggu bagi sebagian korban. Pelaku bahkan sampai hati untuk menghampirinya di indekos calon korban. Tidak hanya itu, bahkan pelaku melakukan teror dengan menggunakan banyak cara agar korban merasa

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

iba dengannya. “Kan aku emang gaenak, ya akhirnya, aku pengin ngembalikin uangnya.”

Disinilah kartu As-nya, pelaku tidak ingin dibayar dengan uang, namun dengan bantuan. Bantuan ini disebutkan banyak korban dengan berbagai dalih. Baik itu dengan dalih riset ataupun sekadar membantunya saja. Karena memang terganggu, kebanyakan korban ini memilih untuk memutuskan hubungannya saat itu juga. Namun tidak semuanya, hingga pelaku menjelaskan iktikadnya untuk membungkusnya sebagaimana yang viral dijelaskan oleh @m_fikris, @kingbantal, dan banyak akun lainnya.

 

Pelaku Sempat Menjadi Panitia PKKMB

Entah dari mana pelaku mendapat kontak-kontak adik tingkat ini. Namun, telisik para korban sendiri, mungkin dikarenakan status pelaku yang sempat menjadi pantia PKKMB Unair waktu itu. Pelaku sempat menjadi Panitia Ospek PKKMB Amerta pada dua periode, yakni Amerta tahun 2017 dan Amerta 2018. Pada saat itu, pelaku melakukan banyak sekali persuasi terhadap banyak korban. Baik itu melalui chat, ketemu langsung, bahkan sampai diajak ke indekos.

Rata-rata korban pertama kali kenal dengan pelaku adalah melalui chat dari pelaku. Chat tersebut dikirim melalui direct message Instagram. Pelaku mengirim pesan tersebut kepada masing-masing akun yang disasarnya. Para korbanpun rata-rata juga bingung bagaimana bisa pelaku mendapatkan akunnya. Karena memang dikira statusnya mahasiswa baru, akhirnya banyak dari mereka yang mengiyakan ajakan kenalan pelaku.

Paling umum dugaan banyak mahasiswa dari mana pelaku mendapatkan kontak masing-masing calon korbannya adalah melalui hashtag dan twibbon. Hashtag dan twibbon yang awalnya digunakan untuk meramaikan perayaan PKKMB tersebut, menjadi ladang basah bagi pelaku mencari korbannya. Dengan melihat masing-masing  hashtag dan twibbon tersebut, pelaku melihati masing-masing foto dan akun calon-calon korbannya lantas mengajaknya berkenalan.

Uniknya, saat berkenalan ini beberapa kali pelaku langsung terang-terangan menjelaskan niatnya. “Kamu itu bungkus-able dek,” tulis pelaku mereply instastory salah satu korban yang merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi. Tidak hanya sekali, beberapa kali calon korban juga direply dengan tema yang sama setelah mengupload instastory, “Memang cocok kamu itu dibungkus.” Calon korban yang tidak paham akan maksud pelaku itupun memilih untuk tidak menanggapi ujaran pelaku.

Melalui kesaksian lain, termasuk dari akun twitter Syam. Syam sebenarnya juga sempat menjadi sasaran pelaku pada tahun 2017. Saat dirinya masih maba, pelaku mengajak Syam berkenalan lewat Facebook pada tahun 2017. Saat itu Syam tidak menaruh curiga karena ia berpikir, sebagai mahasiswa baru dirinya juga butuh channel atau link dari kakak tingkat untuk mengetahui berbagai informasi seputar perkuliahan.

Pada tahun 2018, dirinya menjadi panitia Ospek universitas. Syam sempat kaget karena pelaku juga menjadi panitia ospek terlebih dia ditunjuk sebagai LO (Pemandu kelompok). Ia pun menceritakan fakta dan dampak yang akan ditimbulkan jika pelaku masih ditetapkan pada posisinya. “Saya tahun 2018 cuma ngelaporin kalau ada dia di Amerta ke ketua, nah saya tunjukkan fakta dan efeknya kalau anak ini dibiarin jadi panitia. Terus untuk penyelesaiannya itu dari pihak BEM dan BPI AMERTA 2018.”

 

Pelaku Meminta Maaf dan Berjanji Tidak Akan Mengulanginya Lagi

Tidak semua korban memilih untuk bungkam dan membiarkan kelakuan pelaku saat itu. Banyak pelaku melaporkan keresahannya pada kakak tingkat LO (Pemandu Kelompok) dalam PKKMB karena tidak nyaman dengan sikap pelaku tersebut. Pada saat itu, pelaku sebenarnya pernah dilaporkan oleh orang tua mahasiswa baru 2018 karena meminta hal “bungkus-membungkus”. Hal ini pun sudah ditangani oleh rektor dan hanya disuruh melakukan laporan tertulis.

Melalui akun twitter @representatif milik Baskoro, ia juga membeberkan bahwa di tahun yang sama sudah ada korban yang mengajukan kasus pelaku kepada Wadek FIB. Sampai akhirnya Pelaku juga membuat instastory ‘saya minta maaf’. Permintaan maaf secara kekeluargaan tersebut ternyata sudah dilakukannya sejak tahun 2018.

Karena Tim Retorika kekurangan data tentang permintaan maaf pelaku, kami mencoba untuk meminta konfirmasi dari pihak BEM FIB tentang permintaan maaf pelaku ini. Pihak BEM FIB hanya menyatakan mereka telah bekerja dan tinggal menunggu waktunya saja.

“Nah, kami sudah menghimpun laporan-laporan dari beberapa korban, dan akan membantu semaksimal mungkin,” ujarnya saat dihubungi via chat WhatsApp.

Pelaku yang sudah meminta maaf dan memberikan pernyataan tertulis tersebut, akhirnya tidak memunculkan lagi kegiatannya di kampus akhir-akhir ini. Di kalangan mahasiswa baru angkatan 2019 tidak begitu nampak pelaku melancarkan aksinya seperti yang sudah-sudah. Namun, sebagaimana yang dinyatakan oleh Fikri dalam akunnya @m_fikris, pelaku menarget banyak korban dari luar kampus.

 

Manipulasi Pelaku dengan Dalih Riset Atas Nama Kampus

Salah satu kelihaian pelaku dalam melancarkan aksinya adalah dengan melakukan manipulasi yang rapi dan terstruktur jelas. Selain menggunakan pendekatan persuasif secara pribadi, pelaku juga mendekati korban dengan alasan riset. Bahkan dalam beberapa aksinya, agar terlihat meyakinkan, pelaku tidak sendirian dan ditemani beberapa orang perempuan. Beberapa saksi dan korban menyatakan bahwa pelaku kerap pergi bersama kawan-kawan perempuannya, entah saat aksi ataupun saat melakukan operasi pencarian target.

Beberapa korban mengaku bahwa pelaku akan melakukan riset yang dinaungi oleh kampusnya, yakni Universitas Airlangga. Beberapa calon korban menyatakan kepada kami, dikarenakan ada embel-embel Universitas Airlangga, maka para korban percaya bahwa hal tersebut memang digunakan untuk keperluan riset. Tidak untuk keperluan lain.

Seperti yang dinyatakan oleh Fikri dalam twitternya yang viral, ia menyatakan bahwa karena memang mengatasnamakan kampus, maka korbanpun percaya. “Karena dia menggunakan embel-embel Unair, jadi saya ya percaya,” ujarnya.

Tidak hanya Fikri, banyak orang yang terpedaya dengan manipulasi riset atas nama kampus yang dilakukan oleh pelaku. Beberapa korban yang enggan disebut namanya juga menyatakan bahwa pelaku juga meyakinkan bahwa hal tersebut dengan beberapa dalih yang bersifat keilmiahan lainnya. Penjelasan tentang jarik, sebuah upacara dan beberapa ritual tentang bungkus-membungkus yang runtut dijelaskan secara ilmiah, membuat Fikri dan korban-korban lain mengiyakan apa yang diminta oleh pelaku.

“Niat saya kan membantu. Apalagi dia dari Fakultas Ilmu Budaya kan, jarik-jarik gitu ya saya kira memang riset.”

Tidak hanya menggunakan dalih riset jarik. Beberapa korban lain berujar bahwa pelaku menggunakan embel-embel agama dalam aksinya. Penjelasan runtut dan ilmiah tentang tata cara sholat jenazah banyak kami temui dari penuturan para korban. Seperti yang dituturkan oleh salah satu korban yang saat itu juga korban memang berstatus benar-benar sebagai mahasiswa baru.

“Katanya (pelaku) besok saat ujian AI1 (Agama Islam 1) di kampus adalah tata cara sholat jenazah. Maka, kamu harus belajar dulu sama aku. Gitu katanya,” ujar salah satu korban ketika kami mintai keterangan. Namun, karena mendapati gelagat yang aneh, akhirnya korban tidak menghendaki belajar bersama pelaku tersebut. Dalih ini adalah dalih yang paling umum. Namun, tidak berhenti disitu, banyak sekali metode dan alasan yang diterapkan oleh pelaku.

Ketika kami menghubungi salah satu mahasiswa yang hampir menjadi korban, ia berujar bahwa ia dimintai keterangan untuk menjadi salah satu objek penelitian kakaknya. Saat itu pelaku bilang kalau kakaknya sedang kuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat, jadi meminta bantuan korban tersebut untuk menjadi objek penelitian kakaknya. Korban yang berinisial R ini juga mengiyakan apa yang diminta oleh pelaku. Meski R sempat curiga dengan metode “bungkus” tersebut, R pun mengiyakan karena hendak membantu pelaku. Kemudian, pelaku mulai menjelaskan metode tersebut secara rinci.

“Aku juga bingung, kok ada metode kayak gitu ya, yaweslah namanya juga medis. Awalnya aku meng ‘iyakan’ di chat tapi lama-lama kok aneh. Ini kan metodenya juga rodok (agak), gimana yo, metode yang rodok nggilani (menjijikkan) juga kan ya. Terus karena mbaknya ini cewek. Katanya dia yang bakalan ngebungkus, dan mbaknya yang nungguin di luar kosannya itu.” Katanya saat dihubungi.

Setelah menjelaskan banyak sekali hal tentang risetnya ini, R merasa bahwa ia tidak nyaman dengan penjelasan pelaku. Meskipun ilmiah, namun menurut R hal tersebut terlihat aneh dan tidak menjadi bagian dari medis pada umumnya.

 

Mengancam Korban dan Telah Melakukan Kekerasan Seksual

Selain telah melakukan kegiatan bungkus-membungkus yang tidak jelas maksudnya tersebut, pelaku ternyata telah lebih jauh dalam melaksanakan aksinya. Pelaku telah melakukan kegiatan seksual lebih jauh lagi bagi para korbannya. Tidak hanya sekedar dibungkus dengan lakban, bahkan menurut penuturan beberapa korban, pelaku juga menjilati seluruh tubuh dan menghisap batang kemaluan korban. Hal itu sebagaimana dijelaskan oleh @kingbantal dalam akun twitternya.

Para korban yang notabene memiliki tubuh yang lebih kecil dari pelaku ini tak bisa apa-apa ketika pelaku melancarkan aksinya. Tubuh pelaku juga terbilang cukup besar jika dibandingkan rata-rata mahasiswa seumurannya. Korban tidak bisa berkutik sedikitpun, baik itu karena ditindih pelaku ataupun karena sudah dibebal dengan lakban-lakban tersebut.

Korban memilih untuk diam memang selain karena takut dengan model teror yang dilakukan oleh pelaku, para korban juga menuturkan bahwa mereka rata-rata malu jika mengakui peristiwa tersebut. Korban memilih untuk diam daripada ditekan oleh dua pihak, baik oleh pelaku ataupun oleh masyarakat secara umum. “Aku malu lah,” ujar korban.

Teror yang dilakukan oleh pelaku bukan sekedar teror model biasa, teror pelaku sampai mempengatuhi psikologis korbannya, di mana jika korban tidak menurut dengan perintah pelaku, korban merasa akan dibunuh dan berperilaku macam-macam nanti. Karena memang korban sudah luar biasa takut dan teringat dengan kisah jagal Ryan di Jombang, ia menuturkan tak bisa begitu berbuat banyak.

 

Tanggapan Kampus dan Prosesi Hukum

Setelah viral utas yang dituliskan oleh @m_fikris tersebut, pihak kampus menanggapi hal ini dengan serius. Pihak Dekanat Fakultas Ilmu Budaya dengan pihak BEM FIB telah membuka posko aduan terkait kasus pelaku ini sendiri. Pihak dekanat tidak segan-segan akan memecat pelaku sebagai mahasiswa jika memang terlibat dalam tuduhan yang serius, dan tidak melindungi pelaku dalam prosesi hukum terkait. Saat ini, tim Retorika terus mengikuti perkembangan tentang kasus ini. 

Prosesi hukum terhadap kasus ini sempat digulirkan oleh youtuber kondang @awkarin yang telah berhubungan dengan banyak advokat di Surabaya untuk mengurus kasus ini. Beberapa korban dan kawan-kawan dari organisasi mahasiswa lain juga berupaya untuk mengambil tindakan yang sama. Meskipun Fikri sendiri berujar tidak akan membawanya ke ranah hukum, tetapi pelaporan ini akan menyeret dengan korban-korban yang lain.

 

Penulis:

Muhammad Alfi

Aisyah Amira Wakang


TAG#universitas-airlangga  #  #  #