» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Tanpa Sosialisasi, Pintu Kampus Unair Sekarang Akan Ditutup Mulai Pukul 24.00
27 April 2022 | Liputan Khusus | Dibaca 168 kali
Tanpa Sosialisasi, Pintu Kampus Unair Sekarang Akan Ditutup Mulai Pukul 24.00 : - Foto: https://rypp08.blogspot.com/2016/03/blog-post.html?m=1
Tanpa adanya sosialisasi yang jelas, rektorat mengeluarkan kebijakan baru bahwa mahasiswa wajib keluar dari area kampus mulai jam 24.00 malam. Menanggapi hal tersebut, para mahasiswa memiliki opini yang berbeda-beda, baik pro dan kontra. Walaupun begitu, tidak adanya sosialisasi oleh pihak kampus terkait kebijakan ini terasa kurang nyaman.

Retorika.id – Pada Selasa (26/04/2022) Adhitya Greg, mahasiswa FISIP Unair mengunggah story di Instagram yang menceritakan tentang pengalamannya pagi hari itu di Kampus B Unair. Ia mengaku bahwa pihak kampus telah membuat kebijakan baru untuk menutup kampus pada pukul 24.00. Dari hasil wawancara, diketahui bahwa kebijakan tersebut dibuat untuk mencegah menyebarnya Covid-19 di kampus, dan untuk mencegah adanya pelecehan dalam kampus. Kebijakan ini juga dibuat dengan adanya pertimbangan pasca kasus pelecehan seksual yang tertangkap CCTV beberapa bulan lalu.

“Oke. Jadi waktu itu saya abis rapat dengan teman saya di galeri FISIP. Setelah rapat, lanjut cangkruk (re: nongkrong) dan ngobrol santai, juga di galeri, sampai jam setengah 2 pagi. Ketika itu, saya pulang nebeng atau numpang dengan mobil teman saya. Karena menggunakan mobil, maka pintu yang digunakan adalah pintu yang depannya Pascasarjana, yang sekarang digunakan untuk akses utama keluar masuk. Sesampainya disana, pintu sudah dikunci,” jelasnya lewat wawancara dengan pihak Retorika. Ia pun kemudian ditegur oleh satpam dan dijelaskan bahwa kampus telah mengeluarkan kebijakan baru untuk menutup kampus pada jam 24.00.

"Mas, ini peraturan baru Mas. Silahkan tanya ke Rektorat kalau mau jelasnya. Peraturan ini diberlakukan karena faktor keamanan dan mengingat masa pandemi juga. Lalu sebulan dua bulan yang lalu terjadi pelecehan yang terjadi di musala FISIP dan itu kejadiannya jam 12 malam, yang mana diketahui dari cctv. Ini untuk mencegah kejadian serupa

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

terjadi ,” ucap Greg, mencoba untuk mengulang apa yang dijelaskan oleh satpam kepadanya pada hari itu.

Adhitya Greg pun kemudian mengunggah story yang berkaitan dengan kebijakan tersebut di Instagram, dan juga menceritakan pengalamannya pagi itu. Disamping itu ia juga mencoba untuk berinteraksi bersama audiensnya dengan cara memakai fitur sticker poll dan question.

Ia bertanya beberapa hal kepada audiensnya menggunakan fitur-fitur tersebut. Pertanyaan-pertanyaannya antara lain adalah apakah kalian tahu dengan adanya kebijakan baru tersebut, apakah kalian setuju dengan kebijakan tersebut, juga apakah ada sosialisasi dari pihak kampus. Jika dilihat dari hasilnya, kebanyakan responden merasa kurang tahu dengan keberadaan kebijakan tersebut, dan juga kurang setuju.

Adhitya Greg pun juga mengaku kurang setuju dengan adanya kebijakan ini. Ia tidak setuju karena kurang adanya sosialiasi, dan juga alasan diberlakukannya kebijakan tersebut yang ia rasa kurang kuat.

“Kita ini (mahasiswa) sudah dewasa dan kita juga tau jaga diri seperti apa. Kalau alasannya adalah pelecehan, aku paham bahwa untuk mencegah hal tersebut perlu kerjasama dari semua pihak. Tapi sudah ada cctv, kita juga tau diri ketika di kampus, dan lain-lain, sehingga harusnya ketika ada kasus pelecehan, dan urusannya sudah diurus, ya seharusnya tidak menjadi masalah. Tidak perlu sampai mengusir dengan membuat peraturan harus keluar jam 12 malam. Ini seperti kita tidak salah, tapi kita yang kena gitu. Apalagi, mahasiswa FISIP itu memang menjadikan galeri itu sebagai rumah kedua, dimana galeri dimanfaatkan untuk ngerjain tugas, sinau, cangkruk, diskusi, bahkan dalam beberapa kasus ada yang tidur di galeri,” jelasnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa pihak kampus dapat mengeluarkan kebijakan lain yang menurutnya lebih masuk akal dan tidak berlebihan dan membatasi mahasiswa. “Untuk mengatasi pandemi ya, saya rasa juga ini kan pandemi bisa dibilang di masa akhir ya, terus juga sudah mulai kuliah offline. Nah, dengan protokol kesehatan yang bagus saya rasa, misalnya di perpus, di kelas, dan sebagainya itu sudah membuat penularan COVID - 19 ini menjadi berkurang. Lalu, untuk mahasiswa ketika cangkrukan, ya balik lagi gitu kita adalah mahasiswa, sudah dewasa, tau bagaimana cara menjaga diri, ya seharusnya masalah ini tidak perlu lah untuk dipermasalahkan masalah pandemi ini. Lalu untuk pelecehan sendiri, saya rasa kampus pasti memiliki mekanisme bagaimana perlindungan korban dan juga penanganan terhadap pelaku. Ya itu saja, fokus kepada dua hal itu. Tidak perlu untuk membatasi mahasiswa,” kata Adhitya Greg.

Sedangkan itu menurut Wakil Dekan FISIP Jusuf Irianto, terkait sosialisasi pihak rektorat telah mengeluarkan surat. “Cukup surat dari Rektor saja mas,” ujarnya.

Walaupun begitu, sepertinya surat tersebut belum sampai kepada para mahasiswa. Hal ini tentunya sangat disayangkan. Pihak kampus harusnya lebih memikirkan para mahasiswa dan menginformasikan mereka terlebih dahulu agar tidak terkesan tergesa-gesa.

 

Tanggapan Mahasiswa

Mahasiswa-mahasiswa FISIP memiliki tanggapan yang berbeda-beda. Kebanyakan mahasiswa tidak setuju. Namun menurut hasil polling di story Instagram Adhitya Greg, 79% dari 52 mahasiswa tidak setuju dengan kebijakan tersebut. Walaupun begitu menurut fitur pertanyaan, beberapa mahasiswa bersikap pro terhadap kebijakan kampus. Mereka yang menjawab di fitur tersebut mengatakan bahwa mahasiswa bisa bermain di tempat selain kampus, tidak harus di daerah kampus.

Bram William dari ilmu Komunikasi 2020 adalah salah satu dari mereka yang merasa setuju dengan kebijakan ini. Ia sendiri pun juga merasakan sendiri kebijakan ini pada Selasa (26/04/2022).

“Kalau kemarin (26/04/2022) sih aku dateng ke kampus pas selesai buka puasa, dan kalo kemarin sebelum jam 12 memang sudah disuruh keluar kampus sama satpam. Soalnya pintu mau dikunci jadi gabisa ada akses keluar masuk kampus gitu sih,” ujarnya.

Padahal, kala itu sedang ingin mengikuti acara Sahur on the Road yang diadakan oleh departemen Ilmu Komunikasi di daerah KBU, tempat bermain mahasiswa Ilmu Komunikasi. Karena adanya kebijakan tersebut, ia dan teman-temannya tidak bisa berkumpul dan sahur dalam kampus. Ia dan teman-temannya pun akhirnya terpaksa harus sahur di tempat yang lain.

Walaupun begitu, ia merasa setuju dengan kebijakan tersebut. “Aku setuju sih sama kebijakan itu, ya karna memang tujuannya juga baik kan ya,” ujarnya.

 

 

 

Penulis: Ega Putra

Editor: Jingga Ramadhintya


TAG#akademik  #dinamika-kampus  #universitas-airlangga  #