» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Evaluasi Pemira FISIP 2022: Kurangnya Sosialisasi hingga KBGO
14 Februari 2022 | Liputan Khusus | Dibaca 412 kali
Evaluasi Pemira FISIP 2022: Kurangnya Sosialisasi hingga KBGO: - Foto: Instagram @kpumfisipua
Pemira FISIP telah dilangsungkan pada 19 Januari 2022 silam, dan hasilpun telah diumumkan. Namun, ada beberapa kendala dan hambatan yang terjadi selama berlangsungnya pemira FISIP. Di antaranya adalah kurangnya sosialisasi, isu video tutorial, dan terjadinya KBGO.

retorika.id-Pada tanggal 19 Februari 2022, Pemira FISIP kembali diselenggarakan. Akan tetapi, arena kontestasi dan pesta demokrasi ini dirasa memiliki banyak kekurangan. Beberapa di antaranya adalah kurangnya sosialisasi mekanisme e-voting, video tutorial e-voting yang dianggap menggiring opini, dan terdapat tindakan KBGO yang ditujukan terhadap calon legislatif tertentu.

 Kurangnya sosialisasi ini dikeluhkan oleh banyak mahasiswa FISIP, terutama bagi para mahasiswa baru yang masih tidak mengerti bagaimana mekanisme e-voting. Ditambah lagi, informasi terkait e-voting diumumkan selang sehari menjelang pemilihan melalui akun Instagram @kpumfisipua.

 Menanggapi isu ini, Tim Retorika meminta pendapat kepada salah seorang mahasiswa baru. Mahasiswa baru tersebut beranggapan bahwa informasi yang didapat mengenai pemira terlalu mendadak. Ia juga mengaku tidak terlalu mengenal para calon kandidat BLM, DLM, maupun calon Presbem dan wakilnya. Alhasil, mahasiswa baru tersebut mengaku asal pilih saja saat Pemira berlangsung.

“Jujur saja, aku sebagai mahasiswa baru tidak terlalu mengenal calon-calon kandidat tersebut dan info mengenai tutorial e-voting juga cuma selang sehari. Akhirnya aku bingung dan asal pilih saja," ujar salah satu mahasiswa baru angkatan 2021 yang tidak ingin disebutkan namanya kepada Tim Retorika.

Kurangnya


sosialisasi ini merupakan hambatan utama dalam berlangsungnya Pemira. Tidak sedikit mahasiswa yang berpendapat bahwa informasi yang didapatkan terlalu mendadak. Informasi yang mendadak ini mengakibatkan kurangnya waktu bagi mahasiswa untuk menyeleksi pilihan kandidat. Akibatnya, beberapa mahasiswa memilih untuk tidak berpartisipasi dalam Pemira kali ini.

Selain itu, pada saat awal e-voting dibuka, terdapat sedikit kesalahan, yakni nama partai dan nama kandidat tidak muncul dalam sistem. Namun, kesalahan sistem ini tidak berlangsung lama. Selang beberapa waktu, tampilan website e-voting sudah Kembali normal.

 Di sisi lain, ada pula keluhan terkait video tutorial e-voting yang diunggah oleh KPUM FISIP, yang dianggap menggiring opini bagi calon tertentu. Alhasil, terdapat salah satu partai yang menuntut penjelasan terkait hal ini ke Panwaslu. Video tutorial ini dikeluhkan sebagian mahasiswa karena dianggap tidak netral dan tidak profesional.

 Sebagai respon, salah satu partai, yakni Partai Satya Pelangi, akhirnya mengunggah surat protes kepada KPUM dan mendesak adanya klarifikasi serta permintaan maaf dari pihak KPUM. Ketika dimintai keterangan oleh Tim Retorika, Isnugroho selaku Ketua Umum partai Satya Pelangi menjelaskan bahwa ia sudah mengontak Ketua KPUM FISIP, yakni Abdulrahmat Oki Fahrurrozi, tetapi hingga wawancara dilangsungkan 19 Januari silam, Isnugroho menyatakan bahwa masih belum ada tanggapan dari Oki.

"Saya sudah mengontak Ketua KPUM FISIP atas nama Abdulrahmat Oki Fahrurrozi, tetapi hingga detik ini belum ada respons dari yang bersangkutan. Padahal saya tadi sudah melihat Ketua KPUM sedang ada di FISIP," jelas Isnugroho saat diwawancarai oleh Tim Retorika melalui WhatsApp (19/1).

Keluhan terkait video tutorial ini juga datang dari mahasiswa baru. Video tutorial yang diunggah ini juga dianggap tidak mampu mengenyahkan ketidaktahuan mahasiswa baru yang masih awam terkait mekanisme Pemira.

"Seharusnya sosialisasi digalakkan secara lebih spesifik, infokan ke masing-masing HIMA jurusan atau di grup BEM FISIP dengan rentang waktu yang cukup," ujar Jingga sebagai mahasiswa baru ketika diwawancarai Tim Retorika pada (19/1).

Lebih lanjut, Jingga berpendapat dengan jangka waktu yang panjang, partisipan tentunya memiliki waktu yang lebih banyak untuk menyeleksi pilihan kandidatnya, sehingga pendapat mereka akan lebih mantap.

"Mungkin tutorial juga bisa dibuat dengan video biar lebih menarik, jadi meningkatkan minat partisipasi politik," tutup Jingga di akhir wawancara.

Selain kedua hal di atas, tindakan KBGO yang ditujukan pada calon tertentu juga menjadi perhatian. Sepanjang pelaksanaan Pemira FISIP, diketahui terdapat beberapa akun buzzer yang sengaja menyerang calon tertentu.

Melansir dari akun Instagram @fisipbest, ada salah satu postingan yang menarget salah satu calon legislatif dari Partai Mentari. Unggahan tersebut berupa tangkapan layar wajah seorang calon legislatif dengan caption yang menjurus ke arah penghinaan terhadap gender.

 Hal ini dirasa tidak pantas dan menuai banyak kecaman dari berbagai pihak, termasuk akun Instagram @jokespemira. Pemilik akun tersebut mengecam keras tindakan yang dilakukan akun @fisipbest, sebab tindakan tersebut dapat dikatakan telah masuk ke dalam kategori pelecehan atau KBGO.

Akun @jokespemira menilai bahwa tindakan @fisipbest tersebut sudah menjurus ke arah kekerasan gender, bukan lagi hanya sebatas sikap kritis maupun kritik. Tindakan ini juga menuai kecaman dari Partai Mentari sebagai partai yang mengusung calon legislatif tersebut, yang ditunjukkan melalui unggahan Instagram story Partai Mentari.

Tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat banyak halangan dan kendala selama Pemira FISIP berlangsung. Namun, Pemira FISIP telah selesai, dan hasilnya pun telah diumumkan. Meski pemira kali ini tidak lepas dari berbagai halangan dan hambatan, tetapi pada akhirnya Pemira dapat selesai dengan baik. Tentunya, para mahasiswa FISIP berharap kendala yang terjadi di Pemira kali ini tidak terjadi di Pemira tahun berikutnya. Semoga tidak, ya!

 

 

 

Penulis : Yunus Ar-Rahman & Fitha Dwi Kartikayuni

Penyunting : Diana Febrian


TAG#akademik  #bem  #demokrasi  #dinamika-kampus