» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Melalui Surat Terbuka, Widhi Arif Buka Suara
19 Juni 2021 | Liputan Khusus | Dibaca 767 kali
Melalui Surat Terbuka, Widhi Arif Buka Suara: Sumber: Foto: Dokumentasi Pribadi
Jumat malam (18/06), melalui unggahan video di IGTV dengan judul “Surat Terbuka untuk Seluruh Pengurus BEM Unair 2021”, secara resmi Widhi Arif Budiman selaku pihak yang disebut-sebut sebagai perwakilan vendor untuk pengerjaan jaket BEM Unair 2021, menyampaikan klarifikasinya atas dugaan adanya penggelapan dana jaket.

retorika.id- Melalui unggahan video IGTV pada (18/06) di akun Instagram pribadinya @widhiarif13, secara resmi Widhi Arif Budiman menyampaikan surat terbuka kepada seluruh pengurus BEM Unair 2021. Dalam video berdurasi 11 menit 28 detik tersebut, ia memberikan tanggapan dan klarifikasi  terkait  permasalahan pengadaan produksi jaket BEM Unair 2021 yang tengah nyaring gaungnya baru-baru ini.

“Saya ingin menyampaikan bahwa pertama-tama saya memohon maaf yang sebesar-besarnya terhadap seluruh keluarga mahasiswa Universitas Airlangga, pengurus BEM Unair 2021, dan juga seluruh pihak yang merasa dirugikan serta disangkutpautkan akan kejadian ini,” ujarnya dalam pembukaan video tersebut.

Widhi juga menyampaikan bahwa kegaduhan ini murni tindakannya secara pribadi selaku vendor dan tidak ada keterlibatan dengan pihak manapun dalam peristiwa ini. Dalam video tersebut, ia juga menceritakan kronologi permasalahan yang sempat menimbulkan kegaduhan di tengah warga Universitas Airlangga tersebut.

Dalam video yang diunggah, Widhi mengaku bahwa ia sebagai pihak vendor tahu akan adanya pengerjaan jaket BEM Unair 2021 itu. Menurutnya, produksi jaket biasa terjadi dalam kepengurusan organisasi kampus, mulai dari jajaran jurusan, fakultas, maupun universitas.

Oleh sebab itu, ia menghubungi Menteri Ekonomi Kreatif BEM Unair 2021, Achmad Alak, yang memiliki wewenang untuk memilih vendor dalam produksi penggarapan jaket.

Awalnya, Widhi mengajak Alak bertemu untuk membahas lebih lanjut terkait penggarapan produksi jaket BEM Unair 2021. Pada momentum pertemuan pertama, Alak ditemani oleh Dirjen Ekonomi Kreatif dan PIC dari pengerjaan jaket tersebut. Hal ini diawali dengan saling berkenalan satu sama lain kemudian berlanjut ke arah pembahasan skema dan teknis mengenai vendor jaket. 

Perlu diketahui bahwa skema dan teknis pemilihan vendor ini adalah dengan cara open vendor dengan

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

melibatkan vendor-vendor lainnya juga.

Dalam pertemuan kedua, Widhi memaparkan tawarannya kepada Alak dan Dirjen Ekonomi Kreatif setra para PIC perihal komponen-komponen apa saja yang nantinya akan diberikan, mulai dari jenis bahan jaket, jenis bordiran jaket, dan komponen-komponen yang lain. Pada saat yang sama juga, Widhi dan Alak turut membahas dan bernegosiasi perihal harga produksi jaket.

“Pada waktu itu, kami sepakat bahwa harga dari jaket tersebut berada di angka seratus sembilan puluh ribu rupiah dengan ketentuan jenis bahan jaket nagata drill dengan printing bordir, serta bonus produksi berupa stiker dan totebag,” terangnya lebih detail.

Setelah pertemuan kedua, Widhi dan Alak kembali bertemu bersama dengan para PIC untuk membahas mengenai produksi komponen tersebut. Selesai dengan pembahasan sebelumnya, mereka kemudian lanjut membahas kesepakatan yang akan disahkan dalam penandatangan MoU antara Widhi Arif dan Kementerian Ekonomi Kreatif BEM Unair.

Widhi Arif mengaku bahwa dirinya membuat kesalahan dan lalai, di mana dirinya tidak bisa membedakan antara kepentingan pribadi dan kepentingan bisnis yang menyangkut kepentingan publik. Dirinya mengaku, beberapa uang tersebut digunakan untuk membantu keluarganya.

Dalam hal ini, ia menegaskan bahwa tidak ada niatan untuk menggelapkan dana maupun melakukan penipuan, karena ia pun masih sering berkoordinasi dengan Alak, selaku pemesan.

“Semuanya murni karena kelalaian saya yang kurang mampu membedakan kepentingan bisnis dan kepentingan pribadi saya. Saya memohon maaf atas kesalahan dan kelalaian saya tersebut,” tuturnya.

Dalam surat terbukanya, Widhi Arif juga menyetujui ungkapan Alak yang mengatakan bahwa dirinya tidak bisa dihubungi beberapa waktu lalu. Hal ini karena kondisi fisik dan psikisnya yang kurang baik.

Widhi Arif pun secara tegas mengatakan dirinya siap berkomitmen untuk bertanggung jawab menyelesaikan persoalan ini dengan mengganti uang yang telah diterima dari Alak selaku Menteri Ekonomi Kreatif BEM Unair 2021.

“Dan jujur, pada saat ini saya tertekan dan mengalami banyak tekanan,” katanya.

Di akhir video, Widhi juga mengajukan permohonan kepada Direktur Kemahasiswaan Universitas Airlangga agar kemudian melakukan mediasi antara dia dan Alak sehingga masalah ini mampu diselesaikan secara kekeluargaan.

Meskipun permintaan maaf telah tersampaikan melalui surat terbuka yang diunggah oleh Widhi Arif, namun masih banyak pihak yang belum secara matang menerima pernyataan tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dari tulisan-tulisan yang memenuhi kolom komentar unggahan tersebut.

Yauda yg penting gantiin duid nya sini,” tulis akun @abrarghifar.

Aku pusing gak ada kesimpulan,” tulis @sillydaygirl_ dalam kolom komentar.

Maafmu ra kanggo mas. Mung njaluk sepuro karo acting ate nangis nangis ngunu yo iso bos wkwkwk,” tulis @annauraa.n

Harusnya anda menghadiri forum yang disediakan oleh @dlm.unair agar permasalahan ini segera usai,” timpal @zukhruf_febrianto dalam kolom komentar video tersebut.

Video surat terbuka untuk seluruh pengurus BEM Unair 2021 dari Widhi ini juga turut diputar dan disaksikan bersama saat forum audiensi yang diinisiasi oleh DLM pada (18/06).

Terkait dengan hal ini, Achmad Alak selaku Menteri Ekonomi Kreatif pun turut buka suara dalam forum audiensi guna menanggapi pernyataan dari Widhi.

“Jujur, disini saya merasa bingung. Kalau semisal Mas Widhi ini tidak berniatan menipu, sebenarnya tinggal memberikan kontak penjahitnya untuk bisa saya hubungi. Saya juga tidak ingin mem-pressure psikologisnya. Justru, dari penjelasan Mas Widhi ini ada kecacatan yang disampaikan mengenai bahan pembuatan jaket dan alamat yang tidak sesuai dengan MoU,” ujarnya.

Alak juga mengungkapkan bahwa ketika ia mendatangi vendor, pihak vendor tidak mengetahui  perihal pemesanan jaket BEM Unair, dan siapa Widhi ini. Sehingga, kejujuran dari Widhi melalui surat terbuka menimbulkan tanda tanya besar.

Menghadapi persoalan ini, dengan tegas Alak bertindak serius demi menuntaskan permasalahan jaket BEM Unair yang telah merugikan dan mengecewakan banyak pihak. Apalagi ini menyangkut nama baik Universitas Airlangga. Uang sebesar 20 juta juga bukanlah nominal yang sedikit. Maka dari itu, ia akan tetap memproses persoalan ini ke pihak yang berwenang. 

Hal yang ganjil bahwasanya surat terbuka dari Widhi ini dibuat dan dipublikasikan setelah kegaduhan yang terjadi di lingkungan Universitas Airlangga dan sebelum forum audiensi DLM dilaksanan. Alak selaku Menteri Ekonomi Kreatif juga sudah melaporkan ke pihak yang berwenang.

Bahkan berita mengenai penyalahgunaan dana jaket juga telah tersebar luas di luar lingkup universitas. Berdasarkan pemaparan Alak, Widhi mulai menghilang dan tidak memberikan respon pada saat bulan puasa. Hal ini turut menimbulkan tanda tanya besar. Sekarang telah memasuki bulan Juni, terdapat jarak waktu yang cukup jauh bagi Widi untuk membuka suara dan menjelaskan bahwa dirinya tidak berniat melakukan penggelapan dana jaket BEM Unair ini.

Terlepas dari permasalahan yang terjadi, besar harapan agar pihak-pihak yang terlibat di dalamnya segera mendapat jalan keluar terbaik dalam mengatasi persoalan ini dan semoga citra Universitas Airlangga yang sempat tercoreng kembali bersih.

Selain itu, sepantasnya Widhi juga patut untuk diapresiasi karena telah berani untuk membuka suara. Setidaknya, dari video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, ia juga menyatakan permohonan maaf dan menyesal atas perbuatan yang dilakukan.

 

 

Penulis: Adiesty Anjali dan Dina Marga

Editor: Dien Mutia Nurul Fata


TAG#bem  #universitas-airlangga  #  #