» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Liputan Khusus
Pelecehan Oleh Teman Satu Angkatan di Jurusannya Sendiri, Chrysant Bersuara
21 Juli 2020 | Liputan Khusus | Dibaca 3376 kali
Pelecehan seksual: Pelecehan Oleh Teman Satu Angkatan di Jurusannya Sendiri, Chrysant Bersuara Foto: Freepik
Chrysant (nama samaran) mengalami pelecehan secara teks melalui isi kertas kejujuran miliknya saat acara piknik angkatan di Mojokerto pada akhir 2019. Tidak hanya itu, tiga orang lain temannya mengalami hal serupa. Para pelaku adalah teman satu angkatan di jurusannya yang terindikasi berjumlah tiga orang berdasarkan keterangan saksi. Ternyata, Chrysant adalah salah satu dari beberapa teman perempuan lain di jurusannya yang sering mendapat pelecehan secara verbal. Chrysant sendiri mengalami hal seperti itu semenjak semester satu. Salah satu pelaku yang paling gencar dalam pelecehan verbal tersebut adalah ketua angkatan dari jurusannya sendiri. Chrysant belum melaporkan ini kepada pihak dosen karena masih takut. Sementara ini hanya baru berani bersuara di lingkungan angkatan sendiri. Dampak dari pelecehan selama bertahun-tahun ini mengharuskan dirinya menghadapi tekanan psikologis yang sangat berat.

retorika.id- Tulisan ini mengangkat dari sudut pandang penyintas secara utuh. Penjabaran kronologi kejadian dan data terkait telah mendapat persetujuan tanpa memaksa dari penyintas untuk dipublikasikan.

Awal mula kasus terendus oleh kami melalui salah satu cuitan dari akun Twitter Juliana (nama samaran) pada Jumat (17/07/2020). Saat itu juga Juliana kami tanyakan langsung terkait apa yang terjadi. Ternyata ada kasus pelecehan seksual yang dialami oleh salah seorang teman dekatnya.

Juliana memberitahu, bahwa korban melalui akun Twitter @kaktussukulen (bukan akun pribadi) mengunggah keresahan dan bukti mengenai pelecehan yang dialaminya. Setelah itu, nomor WhatsApp korban diberikan pada kami agar dapat berkomunikasi langsung secara personal.

Wawancara dimulai melalui pesan WhatsApp terlebih dahulu untuk mendapatkan beberapa keterangan serta mengonfirmasi identitas korban. Beranjak dari pesan virtual, kami sepakat melanjutkan tatap muka secara langsung di salah satu kafe di Surabaya pada Senin (20/07/2020).

Tiba saat waktu pertemuan, segelas kopi dan makanan ringan menemani pembicaraan. Lampu kuning pada dinding ruangan dengan lilin kecil di tengah meja menemani.

Instrumen lagu dari saksofon mendengung-dengung mengiringi, korban mulai membuka suaranya dengan antusias. Bahasanya komunikatif sambil menampakkan ekspresi ceria tanpa beban tatkala bercerita panjang lebar.

Korban selanjutnya disebut sebagai penyintas bernama Chrysant (nama samaran), dia menjadi korban pelecehan seksual secara verbal dan teks oleh teman satu angkatan di jurusannya sendiri. Mahasiswi angkatan 2016 dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga tersebut memberanikan dirinya angkat bicara melalui media sosial Twitter.

Berdasarkan pantauan di beranda akun @kaktussukulen, Chrysant menyuarakan kegelisahannya mengenai kelakuan pelaku yang melecehkan dirinya secara tertulis. Dia mengungkap kejadian menjengkelkan itu saat acara piknik satu angkatan pada 2-4 Desember 2019 di salah satu vila, Trawas, Mojokerto.

Sebenarnya Chrysant merasa takut untuk ikut ke acara piknik tersebut karena ada pelaku yang pernah melecehkan secara verbal. Namun beberapa teman terpercayanya ikut dan sebagai acara terakhir piknik angkatan 2016, dia pun akhirnya turut serta.

Kejadian tersebut terjadi pada malam hari ketika semua teman satu angkatannya berkumpul untuk mengisi kertas kejujuran. Mereka semua duduk dan saling mengoper kertas milik masing-masing.

Ketika semua teman-teman saling mengisi kertas kejujuran, Chrysant terkejut melihat kertas miliknya diisi dengan kalimat tidak senonoh. Tulisan vulgar yang bernada melecehkan tersebut terlihat berjumlah tiga kalimat.

Bukti kertas milik Chrysant yang telah dipindai diperlihatkan pada kami. Tertangkap kalimat seperti: “Big sekali, wow”, “Pengen nidurin bareng anak-anak”. Kemudian ada satu tulisan, yaitu, “Big boobs,” yang disisipkan pada sebelah kanan terdapat gambar payudara, otomatis itu menjadi puncak kemarahan Chrysant.

“Sampe ditulis-tulis di kertas kejujuran seakan-akan pengen biar aku baca,” kata Chrysant.

Ternyata bukan hanya Chrysant yang menjadi sasaran ucapan vulgar, ada tiga teman perempuan lain turut menjadi

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

sasaran, yaitu Giana, Zara, Lastri (semuanya nama samaran). Namun ketika ditanya mengenai kejadian yang dialami tiga teman tersebut, Chrysant tidak berkenan memberitahu karena tidak diizinkan.

“Yang saya tahu ya tiga, yang saya gak tahu pasti banyak. Karena beberapa oknum di angkatan saya emang ada yang suka body shaming dan seksis bercandanya,” tegas Chrysant.

Menurut penuturannya, kalimat melecehkan yang juga dituju pada tiga orang temannya antara lain: “Uh enak banget” “Peluk dong”, “Ke kamar, yuk.” Lantas kejadian ini membuat Chrysant geram, akan tetapi teman-teman yang juga ditargetkan tersebut masih belum berani mengadu dan memilih tidak mengungkapkan ke publik.

Pelaku tidak sendirian, Chrysant mengaku ada 11 laki-laki yang sering melakukan pelecehan verbal kepadanya sejak lama sebelum acara di Mojokerto pada 2019. Dia juga mengindikasikan tiga orang pelaku yang menulis kalimat vulgar berdasarkan kesaksian teman lainnya.

Atas permintaan penyintas, nama pelaku tersebut disamarkan. Pelaku tersebut antara lain Tifan, Emil, dan Jono. Jono diketahui telah meminta maaf dengan mendatangi langsung Chrysant ke rumah, namun tetap tidak mengakui perbuatan.

Pelaku dianggap hanya meminta maaf terkesan formalitas yang banyak basa-basi, namun tetap tidak mengaku bahwa si pelaku itu yang menulis. Sementara itu, Chrysant mengaku belum memutuskan mengambil langkah apa pun agar bisa memberi efek jera kepada pelaku.

“Gak tau juga ya, aku ga dapet legitimasi apa-apa sebagai korban,” dia merasa miris dan meresponnya dengan tawa.

Selang delapan bulan kejadian pasca piknik angkatan, Chrysant makin menghindari teman-teman seangkatan, khususnya para pelaku. Beberapa kelas yang diikutinya kebetulan diikuti pula oleh pelaku, mau tidak mau dia memilih jarang masuk.

Kejadian ini hanya dibicarakan oleh sesama korban dan baru diadukan pada ayah Chrysant. Ayahnya telah merespon ini dan menganjurkan Chrysant agar segera melaporkan kepada pihak dosen.

“Sama papa aja. Kalo sama mama takut, mamaku tuh orangnya agak emosional,” jawabnya sambil tersenyum.

Selain itu, rasa pesimis masih merundung pikiran Chrysant jika melapor pada pihak dosen. Terlintas di pikiran kasus ini hanya jadi anggapan “hal biasa” dari kampus dan menguap begitu saja memungkinkan dirinya makin sakit hati.

“Kan mereka juga mikirin nama baik jurusan,” jelas Chrysant.

Saat ini Chrysant baru mencoba meraih dukungan dari teman-teman sekitar. Dia merasa lebih baik karena teman-teman baiknya tidak membenarkan tindakan pelaku dan tidak menyalahkan korban.

 

Pelaku beraksi sejak awal kuliah

Jauh sebelum kejadian pada acara piknik angkatan di Mojokerto tahun 2019, Chrysant mengaku para pelaku sudah beraksi semenjak semester satu. Titik awal pelecehan seksual secara verbal yang dia alami dimulai pada bulan Agustus tahun 2016 saat acara makan malam bersama teman-teman seangkatan yang pertama kali di Surabaya.

Mula-mula hanya ada satu orang yang memancing dengan menggoda-goda, kemudian beberapa teman laki-laki lain mengikuti. Para pelaku justru membuat kelompok tersendiri untuk melancarkan aksi mereka, namun tidak ada yang berani melecehkan di depan umum ketika sendirian.

Chrysant membeberkan pula, ketua angkatan berinisial V di jurusannya justru berpartisipasi bertindak melecehkan dirinya. Dari 11 pelaku yang sejak lama melakukan pelecehan tersebut, ada tiga orang yang paling menonjol, termasuk ketua angkatan jurusan serta dua orang lain seperti C dan B. Sedangkan delapan orang lain hanya mengekor ketika dipantik.

Aksi para pelaku melecehkan korban secara verbal kerap dilakukan di kelas dan di kantin. Ketika jam kuliah dan Chrysant sedang presentasi di depan kelas, pelaku berbisik-bisik sambil menatap dengan tatapan intimidatif. Saat di kantin, para pelaku makin gencar melontarkan kata-kata seksis serta merendahkan martabat.

Deloken ta klambine (Liat tuh bajunya),” adalah salah satu kata yang sering dilontarkan dari para pelaku.

Dia sangat sedih karena tubuhnya sering dijadikan bahan guyonan, apalagi oleh teman satu angkatan dari jurusannya sendiri. Berawal dari candaan kelompok para pelaku, kemudian kebiasaan itu membudaya dan semakin menjadi-jadi.

Tidak hanya bentuk tubuh, pakaian milik Chrysant kerap menjadi bahan sasaran pelecehan verbal. Akibatnya, Chrysant merasa serba salah ketika mengenakan pakaian apa pun, walau sudah sopan dan tertutup.

“Ya ngatain kayak dada gede, pantat gede gitu. Terus body shaming, terus ngomentarin bajuku pake nada-nada seksual,” ungkapnya dengan ekspresi marah.

 

Berjuang menghadapi gangguan psikologis

Efek pelecehan verbal sangat dirasakan oleh Chrysant. Berjuang menghadapi trauma dan ketakutan ketika menjalani kesehariannya. Dia mengaku merasakan pemicu trauma terkait hal tertentu, seperti teman-teman angkatan (khususnya pelaku), kerumunan laki-laki di suatu tempat, dan dokumentasi atau pemberitaan penyintas pelecehan seksual.

Kasus pelecehan seksual seperti ini telah banyak terjadi, pemberitaan di media yang mengangkat suara penyintas adalah salah satu pemicu trauma Chrysant.

“Tiap kali baca artikel atau nonton video tentang penyintas pelecehan seksual gitu aku jadi kayak recall, aku juga korban digituin gitu loh,” ungkapnya.

Selama satu tahun dari pertengahan 2017 sampai pertengahan 2018, Chrysant harus menjalani perawatan psikis berjalan di Rumah Sakit Jiwa. Terapi farmakoterapi harus dilakoninya dengan meminum obat sesuai anjuran psikiater.

Pada masa itu juga lah dia terpaksa meninggalkan bangku kuliah sementara dengan konsekuensi nilai turun drastis. Setiap satu kali dalam dua minggu, dia harus pergi konsultasi ke psikiater untuk kembali menjalani pengobatan.

Chrysant hadapi itu dengan penuh tekanan sekaligus berusaha menutupi kasus ini dari kedua orang tua. Gangguan psikis yang dia alami berupa paranoid, perasaan bersalah, dan tidak jarang menangis dalam kesendirian.

Setelah cukup pulih selama perawatan, dia kembali masuk kuliah. Perasaan was-was masih kerap menghantui dan para pelaku masih bertingkah seperti sebelumnya.

Bukannya keadaan membaik, justru para pelaku makin menjadi-jadi ketika Chrysant selesai menjalani perawatan saat masuk masa pemulihan psikis. Dia pun berpesan bahwa kasus seperti ini sungguh besar dampaknya dan tidak bisa dianggap remeh.

“Aku tuh mau bicara ini biar angkatan di bawahku gak mengalami yang serupa atau lebih,” ujarnya dengan nada meninggi.

 

Kekerasan berbasis gender daring

Pelecehan verbal kepadanya juga beberapa kali dilakukan melalui media sosial. Misalnya beberapa pelaku kerap membalas unggahan di fitur Instastory dengan nada tidak layak.

“Masa pas aku sakit demam terus aku Instagram Story termometer, ada yang nge-reply positif tuh, positif tiga bulan,” responnya dengan tertawa terheran-heran.

Berdasarkan panduan dari SAFEnet (2019) tentang KBGO (Kekerasan Berbasis Gender Online), perlakuan para pelaku termasuk ke dalam perusakan reputasi atau kredibilitas berupa membuat komentar atau unggahan yang bernada menyerang, meremehkan atau lainnya yang palsu dengan maksud mencoreng reputasi seseorang (termasuk pencemaran nama baik).

Dampak yang dialami bagi Chrysant antara lain kerugian psikologis, keterasingan sosial, mobilitas terbatas, dan sensor diri. Konsekuensi utama secara umum adalah kekerasan berbasis gender daring ini menciptakan masyarakat di mana perempuan atau kelompok rentan lain tidak lagi merasa aman secara daring maupun luring.

Dilansir dari Tirto.id pada Senin (18/11/2019) lalu, Komnas Perempuan selama 15 tahun (1998 – 2013) pantauan menghasilkan 15 bentuk pelecehan seksual, yaitu: (1) perkosaan; (2) intimidasi seksual termasuk ancaman atau percobaan perkosaan; (3) pelecehan seksual; (4) eksploitasi seksual; (5) perdagangan perempuan untuk tujuan seksual; (6) prostitusi paksa; (7) perbudakan seksual; (8) pemaksaan perkawinan, termasuk cerai gantung; (9) pemaksaan kehamilan; (10) pemaksaan aborsi; (11) pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi; (12) penyiksaan seksual; (13) penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual; (14) praktik tradisi bernuansa seksual yang membahayakan atau mendiskriminasi perempuan; (15) kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan moralitas dan agama.

*Apabila anda mengalami pelecehan secara daring atau luring, silakan menghubungi individu, lembaga, organisasi, atau instansi terpercaya agar bisa diberikan bantuan terdekat, seperti pendampingan hukum melalui Lembaga Bantuan Hukum (LBH), pendampingan psikologis, dan bantuan keamanan digital.

*Komnas Perempuan menyediakan saluran khusus pengaduan melalui telepon di 021-3903963 dan 021-80305399, atau melalui surel ke mail@komnasperempuan.go.id. Silakan baca sistem penerimaan pengaduan Komnas Perempuan di https://www.komnasperempuan.go.id/ read-news-sistem-penerimaan-pengaduan-komnas-perempuan.

 

Penulis: Faiz Zaki

Referensi:

Kusuma, Ellen dan Arum, Nenden Sekar. (2019). Memahami dan Menyikapi Kekerasan Berbasis Gender Online. Tersedia di https://id.safenet.or.id/wp-content/uploads/2019/11/Panduan-KBGO-v2.pdf. (Diakses: 21 Juli 2020).

Damaledo, Yandri Daniel. (2019). Bentuk-Bentuk Pelecehan Seksual, Rayuan Hingga Perkosaan. Tersedia di https://tirto.id/bentuk-bentuk-pelecehan-seksual-rayuan-hingga-perkosaan-elTB. (Diakses: 21 Juli 2020).