» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: 085850150198.

Inspirasi
Semangat Mencari Nafkah Di Usia Yang Tak Lagi Muda
26 April 2017 | Inspirasi | Dibaca 1115 kali
Ngatmah, loper koran Kampus B Unair.: Semangat Mencari Nafkah di Usia yang Tak Lagi Muda Foto: Moh. Naufal Muchlas
Kisah Ngatmah sebagai Penjual Koran di Kampus B Unair.

Surabaya, Retorika.id – JikaAnda merupakan mahasiswa yang sering “nyangkruk” di  kampus B Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, mungkin tidak asing dengan sosok ini. Ya, perempuan paruh baya ini adalah penjual koran yang sering menjajakan surat kabar di area Kampus B Unair.

Namanya Ngatmah, perempuan berumur 40 tahun ini tinggal di sekitar area Sidoyoso Selatan, Surabaya. Sehari-harinya ia harus naik lyn untuk menuju Kampus B Unair.

“Biasanya saya habis Rp 5.000 untuk naik lyn dari rumah ke sini Mas,” ujarnya.

Di Sidoyoso,

®iklan

Pasang iklan Anda di sini!
Hubungi » 082112438727

®iklan

Ngatmah tinggal bersama suami, anak, serta tiga orang cucu. Suaminya merupakan pengayuh becak berumur 50 tahun, sedangkan anak semata wayangnya bekerja sebagai buruh bangunan di area Rungkut, Surabaya.

Sebelum berjualan koran, Ngatmah pernah berjualan gorengan dengan cara menitipkan dagangannya di kios- kios sekitar tempat tinggalnya. Tapi karena jualan gorengan tidak laku, ia beralih menjadi penjual koran.

Setiap hari, ia mengambil sekitar 50 buah koran di daerah Bronggalan, Surabaya. Ada pun koran yang dijualnya meliputi Surya, Kompas dan Jawa Pos. Ia mengatakan koran itu paling laku terjual di area kampus B Unair. 

Bila semua korannya terjual, Ngatmah bisa mendapat keuntungan bersih hingga Rp 25.000/hari. Jumlah itu sudah dikurangi dengan membayar setoran kepada agen koran.

“Kalau kondisi hujan seperti hari ini, semua penghasilan diberikan kepada saya. Kalau nggak hujan, diberikan ke kios,” tambahnya.      

Berjualan koran adalah pekerjaan yang telah digelutinya selama 3 tahun. Awalnya, ia hanya berjualan di sekitar perempatan Karang Menjangan. Kemudian bergeser disekitar area Kampus B FISIP Unair.

Uang hasil berjualan koran tersebut biasanya ia sisihkan untuk cicilan kos. Setiap bulan, ia harus membayar kos sebesar Rp 300.000. Ia mengatakan bahwa di kosnya tidak terdapat TV. Bahkan mereka hanya tidur di beralasakan tikar.

Profesi Ngatmah sebagai penjual koran telah memberi kita banyak pelajaran. Ia mampu menunjukan sosoknya sebagai perempuan hebat, yang tetap semangat mencari nafkah di usia yang tak lagi muda.

“Saya berdoa semoga mahasiswa disini sukses menjalani kehidupan dan tercapai semua cita-citanya,” pungkas Ngatmah dengan tatapan yang berbinar.          

 

Penulis : Moh. Naufal Muchlas

Editor : Anita dan Choir


TAG#dinamika-kampus  #fisip-unair  #humaniora  #kerakyatan