» Website: https://www.retorika.id » Email: redaksi@retorika.id, lpmretorikafisipua@gmail.com » Alamat: Gedung FISIP Unair, Jl. Dharmawangsa Dalam 4-6 Surabaya 60286 » Telepon: .

Info Kampus
Nama Zamzam Terus Terseret, Form Pengaduan Dibuat
20 Agustus 2021 | Info Kampus | Dibaca 154 kali
Nama “Zamzam” yang kini kembali terseret pada kasus Airlangga Try Out Akbar banyak dipertanyakan. Selain itu, ternyata banyak mahasiswa yang akhirnya angkat bicara di media sosial dan mengaku bahwa mereka juga merasa dirugikan oleh Zamzam. Menanggapi hal tersebut, Presiden BEM KM PSDKU Unair membuat link pengaduan untuk menampung korban-korban yang merasa dirugikan oleh Zamzam.

Retorika.id-BEM Universitas Airlangga tidak henti-hentinya mengais kasus, mulai dari kasus KOC Amerta, vendor jaket BEM, hingga yang paling baru Try Out Akbar. Pada press release yang dikeluarkan oleh BEM Unair pada (14/8/21), terdapat nama yang tidak asing ikut terseret dalam kasus Try Out Akbar ini. Nama tersebut adalah Zamzam, mahasiswa Fakultas Psikologi angkatan tahun 2016.

Nama Zamzam sebelumnya ramai diperbincangkan karena campur tangannya dalam penggelapan dana kasus vendor jaket BEM Unair. Setelah berita campur tangannya tersebar, banyak mahasiswa yang mengaku bahwa Zamzam telah merugikan mereka dan merasa menjadi korban Zamzam.

Dalam merespon hal tersebut, Presiden BEM PSDKU, Almujaddidi, berinisiatif membuat link pengaduan (bit.ly/TuntaskanZamzam) bagi mahasiswa yang merasa

®iklan

Pasang iklan di sini!
Hubungi » lpmretorikafisipua@gmail.com

®iklan

dirugikan oleh Zamzam. Saat diwawancarai oleh tim Retorika, mahasiswa yang kerap dipanggil Ajo ini mengaku bahwa pembuatan link pengaduan ini berangkat dari keresahannya sebagai mahasiswa Unair.

Ajo merasa BEM Unair kurang memfasilitasi warga Unair terkait dengan persoalan internal ini. Sebagai mahasiswa, ia ingin menguak kebenaran dari permasalahan yang didalangi oleh Zamzam. Presiden BEM KM PSDKU ini juga yakin bahwa seluruh civitas akademika Unair pasti penasaran dengan keterlibatan Zamzam pada banyak kasus yang ada. Maka dari itu, link pengaduan ini dibuat agar dapat mengumpulkan data korban-korban yang dirugikan Zamzam. Setelah banyak data terkumpul, Ajo akan membantu mengadvokasikan dan membawa kasus-kassus tersebut ke ranah yang lebih serius. 

Terhitung sejak disebarkannya link pengaduan tersebut (15/8/21), sudah ada beberapa data yang masuk. “Untuk pengaduan sudah ada yang masuk dan saya akan melakukan komunikasi lebih intens dengan korban untuk memastikan keadaan korban untuk diadvokasikan,” terangnya saat diwawancarai melalui WhatsApp pada Selasa (17/8/21). 

Tidak hanya link pengaduan, terdapat petisi yang dapat ditandatangani. Petisi yang dibuat melalui change.org ini juga berisi beberapa bukti yang menunjukkan perbuatan Zamzam yang tidak mencerminkan Excellence with Morality. Link dan tanda tangan petisi bisa diakses pada bit.ly/TuntaskanZamzam

Beberapa waktu lalu, akun Instagram @unairsakit menyebarkan hasil tangkapan layar yang berisi komentar Zamzam pada salah satu unggahannya. Zamzam menyebutkan bahwa ia tidak pernah diundang secara personal maupun formal dan mengaku tidak ingin menghadiri undangan yang membutuhkan pernyataannya. 

“Saya rasa terkait pernyataan Zamzam itu kebebasan dia untuk berekspresi, namun jika ini sudah masuk ke ranah yang lebih serius tentu kita akan tahu nantinya siapa yang sebenarnya pecundang dan berbuat tidak bertanggung jawab,” kata Ajo menanggapi hal tersebut. 

Ajo berharap agar korban dapat dilindungi, dan jika Zamzam terbukti bersalah, maka hal ini perlu dibawa ke ranah hukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Link pengaduan dan petisi yang sudah dibuat ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk masyarakat yang ingin mengetahui perkembangan kasus Zamzam. Ajo juga berharap petisi ini bisa sampai ke rektor agar dapat diusut tuntas, sebab skalanya besar. Selain itu, dengan petisi ini, diharapkan Dewan Etika Unair mempertimbangkan segala bukti yang dilaporkan sehingga Zamzam sebagai mahasiswa aktif Unair dapat diberikan sanksi akademik.

 

Penulis : Fitha Dwi Kartikayuni dan Kadek Putri Maharani

Editor: Ega Putra


TAG#universitas-airlangga  #  #  #